August 16, 2026

Five Months, One Post

Sudah lima bulan aku menghilang dari blog ini, today I'm coming back. Well, hello everyone! How are you? I'm fine, thank you and you?

Tentunya sudah banyak yang terjadi dalam waktu lima bulan. Aku akan update sedikit tentang bacaan, tontonan, and maybe a little life catch up di postingan ini. Semoga nggak bosan. πŸ˜†

Things I Read
Tahun ini aku memasang target untuk membaca lima belas buku. Tiga buku lebih banyak daripada tahun sebelum-sebelumnya. And I kinda regret it, lol. Aku merasa kayak dikejar-kejar target, hahaha. Tahun depan mau balikin target bacaan ke dua belas lagi. πŸ˜†

Di draft blog, ada draft yang aku buat entah berapa bulan yang lalu. Judulnya "15 Books I Wanna Read This Year", tapi postingan itu nggak pernah jadi dan nggak pernah terbit. Selain karena list bukunya gonta-ganti akibat iPusnas error, aku juga terkena reading slump parah.

Aku nggak baca buku sama sekali dari Februari sampai April. Baru baca buku lagi di bulan Mei. And I would say, Enid Blyton's books end my reading slump era. 😁 Di bulan Mei, aku membaca buku Enid Blyton yang judulnya The Mystery of the Disappearing Cat. Di bulan Juni, aku menamatkan baca The Wishing-Chair Collection. Dan di bulan Juli, aku ngebut menyelesaikan Five Minutes Stories dan Seri Kumbang.

The Mystery of the Disappearing Cat bercerita tentang lima anak-anak yang memecahkan kasus hilangnya seekor kucing. Kucing yang hilang tersebut bukan sembarang kucing, melainkan kucing Siam yang sering menang lomba. Menyenangkan sekali membaca buku ini karena bahasa Inggrisnya mudah dimengerti dan alur ceritanya tidak rumit.


Ternyata buku ini adalah buku kedua dari seri The Mystery. Ada total lima belas buku, yaitu The Mystery of the Burnt Cottage (1943), The Mystery of the Disappearing Cat (1944), The Mystery of the Secret Room (1945), The Mystery of the Spiteful Letters (1946), The Mystery of the Missing Necklace (1947), The Mystery of the Hidden House (1948), The Mystery of the Pantomime Cat (1949), The Mystery of the Invisible Thief (1950), The Mystery of the Vanished Prince (1951), The Mystery of the Strange Bundle (1952), The Mystery of the Holly Lane (1953), The Mystery of the Tally-Ho Cottage (1954), The Mystery of the Missing Man (1956), The Mystery of the Strange Messages (1957), dan The Mystery of Banshee Towers (1961).

The Wishing-Chair Collection juga bahasa Inggrisnya mudah dipahami. Buku ini berisi tiga buku sekaligus, yaitu The Adventures of the Wishing-Chair, The Wishing-Chair Again, dan More Wishing-Chair Stories. The Wishing Chair Collection bercerita tentang petualangan Mollie, Peter, dan Binky di dunia-dunia ajaib bersama sebuah kursi ajaib yang mengabulkan keinginan pemiliknya. 


Menyenangkan sekali membaca buku fantasi untuk anak-anak ini di tengah keriuhan adulthood yang serba cepat seperti sekarang. Aku kadang berandai-andai seandainya dunia ajaib di The Wishing-Chair Collection beneran ada, mending main-main ke sana aja daripada kerja. πŸ˜†

Lanjut ke Five Minutes Stories dan Seri Kumbang. Dua buku ini isinya kumpulan cerita yang...aku lupa ceritanya tentang apa aja. πŸ˜… Boro-boro ingat cerita, bisa punya mood baca buku lagi sampai selesai aja udah syukur. 😭 Khusus untuk buku Seri Kumbang, idk why dinamakan Seri Kumbang. Ilustrasi di dalamnya lucu banget btw. Gambarnya imut dan menggemaskan. Tipe-tipe ilustrasi yang membuat aku ingin menggambar lagi, HEHEHEHE (anak kamar sebelah be like: HILLLLLLLIH).


Seri Kumbang berisi delapan buku dengan berjudul Si Babi Ungu (dan cerita-cerita lain), Si Gadis Penakut (dan cerita-cerita lain), Monyet Mike (dan cerita-cerita lain), Tommy si Pengadu (dan cerita-cerita lain), Tiga Permintaan (dan cerita-cerita lain), Cermin Ajaib (dan cerita-cerita lain), Gadis Kaya yang Sombong (dan cerita-cerita lain), dan Anak dalam Cermin (dan cerita-cerita lain). Yes, ada cerita di dalam cerita. Seri Kumbang aku baca dalam sekali duduk karena isinya cukup singkat dengan ukuran font yang cukup besar.

In conclusion, dengan terselesaikannya Seri Kumbang, maka di tahun ini aku sudah membaca tiga belas buku. Tinggal dua buku lagi! YAY! Dua buku lainnya yang aku baca di bulan Januari dan Februari berturut-turut adalah Makanya, Mikir! dan Broken Strings. Dua-duanya belum aku review, wkwkwk. 😭

πŸ“šπŸ“–πŸ‘“

Things I Watched
Selama lima bulan ini aku nonton film cukup banyak. Ada delapan judul, yaitu Snow White (2025), The Little Mermaid (2023), Inside Out 2 (2024), Ready or Not 2: Here I Come (2026), The Menu (2022), Send Help (2026), The Devil Wears Prada 2 (2026), dan Avatar: Fire and Ash (2025).

Film Snow White dan The Little Mermaid yang aku tonton tentu saja yang versi live action. Terakhir nonton live action Disney tuh Cruella di tahun 2021. UDAH LAMA BANGET. WOW. 😱

Film Snow White live action ini nggak terlalu bagus menurutku. Baju para banditnya offside. Nggak cocok dengan kostum Snow White yang temanya magical. Baju para banditnya terlalu casual.

Latar belakang Snow White juga dibuat nggak mirip dengan aslinya. Di cerita aslinya, Snow White ceritanya punya kulit seputih salju, tapi di live action jadinya Snow White lahir di badai salju. Terus ada tokoh bernama Jonathan yang terinspirasi dari Prince di film animasi Snow White. Cukup banyak improvisasi di film ini.

Film live action The Little Mermaid lebih mendingan menurutku. Aku menaruh ekspektasi rendah ke film ini, tapi cukup puas nontonnya. Nggak terlalu banyak improvisasi. Sebastian, Flounder, dan Scuttle masih dalam koridor sifat tokoh aslinya di versi animasi.

Yang membuat aku bertanya-tanya adalah ibu Ariel, rasnya apa? Soalnya anak-anaknya ada yang white, black, dan color. Atau itu hanya simbolis saja? Ayah Ariel sepertinya white lalu campur dengan ras apa gitu. Any other opinion?

Next, Inside Out 2 yang kedatangan tokoh baru (Inside Out pertama aku tonton tahun 2015, WOW!). Tokoh-tokoh tersebut adalah Anxiety (berwarna oranye), Envy (berwarna turquoise), Ennui (berwarna ungu), dan Embarrassment (berwarna pink). Oh, dan ada juga nenek Nostalgia yang berwarna putih. πŸ˜†

Empat tokoh ini datang karena Riley sudah remaja dengan emosi yang lebih kompleks. Tbh aku maju mundur mau nonton film ini karena takut tokoh Anxiety men-trigger anxiety-ku, WKWKWKWK. Ternyata yaaa nggak seseram pikiranku. See? Masih ada anxiety di sini. πŸ˜†

Anyway, film Inside Out 2 mengajarkan kita untuk tidak menekan emosi-emosi yang dirasakan. Kita harus embrace dan mengelolanya dengan bijak. Jangan terlalu cemas akan masa depan, yang penting adalah hari ini kita jalani dengan sebaik-sebaiknya karena masa depan tidak akan bisa ditebak.

Film Ready or Not 2: Here I Come adalah lanjutan dari film Ready or Not. Walaupun rilisnya berjarak tujuh tahun dari film pertama, latar waktu cerita di film kedua tidak berjarak alias langsung nyambung dari film pertama. Grace nggak dijeda astaga.

Setelah pingsan akibat kelelahan menjalani survival gila di keluarga Le Domas, Grace harus menjalani survival gila jilid 2. Emang ya yang namanya satanis tuh nggak akan menjadikan hidup tenang.

Grace diburu lagi oleh grup satanis kaya raya karena berhasil selamat. Kini dia menjadi pemegang tahta tertinggi di grup tersebut walaupun yang satanis keluarga suaminya. Untungnya Grace tidak sendirian, ada adiknya yang terpaksa sama-sama tangguh. Ternyata Grace tidak sebatang kara.

Tahta tertinggi yang dipegang oleh Grace diperebutkan oleh keluarga-keluarga satanis lainnya. Mereka semuanya konglomerat. Tapi yaaa gitu, karena kekayaannya diperoleh dari faktor non-mikir jadinya yaaa mereka ini nggak pinter. Yang pinter ya Grace dan adiknya. Segini aja ceritanya, hehehe, nggak mau spoiler.

The Menu dan Send Help genrenya thriller. Nggak terlalu konsen nontonnya karena disambi kerja, wkwkwkwk. Intinya The Menu ini bercerita tentang seorang wanita yang menemani pacarnya makan malam mewah di sebuah pulau.

Makan malam tersebut berubah menjadi kengerian karena chef utama sudah lelah dengan orang-orang kaya yang nggak ngerti makanan. Chef-nya burn out deh kayaknya.

Send Help bercerita tentang seorang wanita karir bernama Linda yang terdampar di sebuah pulau bersama dengan bosnya. Linda diperankan oleh Rachel McAdams. Linda menguasai teknik-teknik bertahan hidup di alam liar yang sebelumnya ditertawakan oleh bos dan rekan-rekan laki-lakinya. Di pulau terpencil tersebut Linda membalaskan dendamnya. Puas banget nonton Send Help ini soalnya atasan songong dapat balasannya, HAHAHAHA.


Lanjut ke The Devil Wears Prada 2 yang dirilis dua puluh tahun kemudian dari film pertamanya. Sebelum nonton sekuel ini, aku bela-belain dulu nonton The Devil Wears Prada biar nggak lupa-lupa amat. Latar waktu cerita The Devil Wears Prada 2 beneran dibuat dua puluh tahun kemudian.

Andy sudah menjadi wartawan sukses namun kena PHK. Dia lalu bekerja kembali dengan Miranda. Sudah banyak yang berubah di kantor Miranda. Dia bukan lagi bos yang "menganiaya" anak buahnya dengan perintah-perintah yang nggak masuk akal. Asisten Miranda kini sudah beragam, tidak lagi perempuan tinggi langsing. Asisten utama Miranda juga sering mengingatkan untuk menjaga kosakatanya, wkwkwkwk.

Nigel masih setia bekerja dengan Miranda setelah "backstabbing" yang dilakukan Miranda di film pertama. Emily sudah menjadi wanita karir yang sukses di agensi periklanan. Kini dia menjadi partner kerja Miranda, bukan anak buahnya.

Lebih ikonik film pertama sih. Film kedua ini devilnya bukan lagi person, tapi lebih ke sifat tamak dalam diri beberapa tokoh-tokohnya. Aspek-aspek ceritanya dibuat linier dengan budaya masa kini, cotohnya diversity.

Terakhir, ada Avatar: Fire and Ash. Masih dengan durasi tiga jam sekian menit, kurang lebih sama dengan film keduanya di tahun 2022 yang lalu. Aku agak lupa sih dengan urutan ceritanya, hehehehe. Ingatnya hanya ke tokoh bernama Varang yang menjadi thumbnail di aplikasi Disney+.

Varang ini perempuan pemimpin suku. Tangguh banget dan pandai bernegosiasi. Dia bersama kolonel Miles Quaritch bersama-sama melawan Jake Sully, suku udara, dan suku laut. I'm sorry I can't remember the clans' names.

Intinya, Quaritch dan Jake Sully masih rebutan Spider. Apalagi Spider sekarang sudah bisa bernapas dengan udara Pandora. Manusia-manusianya masih tetap terobsesi "menjajah" Pandora jika keadaan memungkinkan. Dan sepertinya akan ada film keempat nggak sih?

πŸŽ₯πŸ‘ πŸ”₯

Things That Happened
Walaupun lima bulan vakum dari blog ini, tapi aku cukup rajin di blog K-Pop HEHEHEHEHE. Hampir tiap bulan nulis di sana. Aku sedang ada di masa ngefans berat dengan NCT Wish, hahahaha. Makanya jor-joran nonton konten-konten mereka.

Life update apa ya enaknya yang aku tulis di sini? WKWKWKWK. Kalau mau nulis tentang kerjaan nanti isinya sambat. πŸ˜‚ Nulis tentang makanan aja kali ya.

Beberapa waktu yang lalu aku diajak teman untuk makan siang di salah satu restoran Korea. Makanan yang aku pesan tetep bibimbap, lol. Lalu pernah juga sarapan diajak sarapan oleh orang yang sama di salah satu jalan ikonik di kota kami. Menu sarapannya English breakfast ala-ala gitu. Ceritanya pakai foto aja deh ya biar cepet. πŸ˜† Semua makanan atau minuman yang aku pasang di postingan ini enak dan nggak failed. πŸ‘Œ

Bibimbap Chef KimπŸ˜‹

Interior di dekat kasir Chef Kim

Initu menu apa ya namanya di Tong Tji Tea House? Aku lupa, pokoknya itu daging sapi terus kuahnya rasa Melayu(?). Rasanya bikin inget ketika di KL atau Singapura.

Tahu Nagih yang bikin nagihπŸ˜†

Ini kalau nggak salah di Haraku Ramen. Aku pesen ala carte rice butter (or butter rice?), bayam, dan telur rebus yang nggak terlihat di foto.

Ini dessert di Haraku Ramen yang aku lupa namanya. Isinya es krim cokelat.

Mary Jane dan Beef Blackpepper di Luke Artisan Bakery.

Big breakfast di Klub Breakfast Kayutangan.

Punya temen, kayaknya American Breakfast.

Fusilli and Cheese di Med Cafe.

Original pretzel di Auntie Anne's. Temenku pesan yang salted pretzel. Enak semua, mau dimakan polosan ataupun dicocol cokelat.

🍳πŸ₯“πŸ₯¨

Things I Almost Wrote About
Tadi udah aku singgung dikit tentang draft tulisan "15 Books I Wanna Read This Year and Why" yang belum jadi juga sampai hari ini. Kemungkinan besar akan aku delete setelah postingan ini terbit. 

Masih ada beberapa draft lagi yang belum juga aku selesaikan sampai detik ini. Kebanyakan adalah draft review buku yang aku nggak tau mau nulis dari mana. πŸ˜… Buku-buku tersebut adalah Broken Strings; Makanya, Mikir!; Blok Pembangkang; dan The Intelligent Investor. Nggak ada ide sama sekali untuk tulisan review buku-buku tersebut. Ada yang mau nyumbang ide nggak? πŸ˜†

Film-film Korea dan serial Jepang di blog sebelah juga belum aku tulis sama sekali. Nanti aja kali ya setelah nonton film Under Paris yang pernah ditonton Ryo dan Sion NCT Wish. *tetep*

Lalu ada lagi draft kosakata bahasa Indonesia dari buku Mereka Hilang Tak Kembali yang sudah aku daftar dan nggak tau mau di-publish model gimana. Serba mampet gini idenya gimana sih? πŸ˜‚ Mau bikin video pendek juga nggak ahli. Bikin video panjang review buku di YouTube juga nggak sempat-sempat. Auk dah. πŸ™ˆ

πŸ’ƒπŸ€Έ‍♀️🀹‍♀️

Things I've Learned
I'm not my job. My job can be chaotic but I'm not. I try to do it one by one. Not all things have to be done at one time.

I will adapt to my new job at my own pace and I'm not gonna make mistakes because I learn from my mistakes. I have a supportive team and I'm not gonna engage with unnecessary jokes. Keep it professional, not personal, and everything is gonna be fine.

πŸ’»πŸ–±πŸ’

How's your life update? Thank you for reading and I'll see you on my next post! Bye~


**


No comments :

Post a Comment

Halo! Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan komentar. Komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu.

Back to Top