December 29, 2014

Keliling Telaga Sarangan Jalan Kaki, Pernah?

Saya pernah dong, mehehe *songong*. Setelah beberapa belas tahun berlalu akhirnya saya kembali menginjakkan kaki di tempat wisata Telaga Sarangan. Telaga Sarangan terletak di kaki Gunung Lawu, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Hujan rintik-rintik siang itu sama sekali enggak menghalangi saya dan dua orang teman saya untuk berkeliling menikmati hawa sejuk khas pegunungan disana. Karena kami bertiga semua adalah perempuan berjiwa agak narsis jadi ya setiap ada kesempatan langsung selfie, hehehe.

Saya memilih jalan kaki mengelilingi Telaga Sarangan karena beberapa alasan. Pertama, waktu masih kecil kesana dulu saya enggak sempat (atau lebih tepatnya enggak kepikiran) untuk jalan-jalan keliling telaga. Sempat ingin keliling sambil naik kuda tapi enggak jadi. Kedua, saya ingin berpetualang lagi seperti saat masih kuliah. Sejak masuk dunia kerja, waktu saya banyak habis di depan komputer dan di dalam ruangan. Ketiga, pemandangannya bagus banget! Saya ingin mengabadikan pemandangan itu dari berbagai sudut! Beneran deh pemandangannya kayak enggak berubah dari dulu (atau ada yang berubah tapi kelamaan enggak kesana jadi enggak tau, lol, whatever).

Foto pemandangan yang saya ambil dari titik awal perjalanan. Itu Gunung Lawu bukan? Kalau ada yang tau tolong kasih tau ya, makasih~

Perjalanan pun dimulai. Jalannya agak becek setelah diguyur hujan, sambil foto-foto kami berpapasan dengan siswa-siswi SD yang sepertinya habis keliling jalan kaki juga *wah ada saingannya*. Makin lama makin banyak yang berpapasan dari arah yang berlawanan...jangan-jangan...tuh kan bener...kami salah arah, wakakakaka. Sudah sepertiga perjalanan pula, enggak mungkin kan balik lagi jadi ya jalan terus dong! Oooh ternyata ada wahana outbond disana, ada lebih banyak lapak sate kelinci juga, dan ada lebih banyak pasangan muda-mudi yang pacaran juga.

Foto pemandangan yang saya ambil di sepertiga perjalanan. Saya tiba-tiba kepikiran motel tempat menginap waktu pertama datang ke Telaga Sarangan dulu letaknya disana apa bukan.

Dapat setengah perjalanan, sampailah kami di area yang ada tulisan besar “TELAGA SARANGAN”. Disitu kami sempat turun mendekati telaga, ada semacam “pulau kecil” di tengah telaga. Sayang tidak ada jembatan penghubung masuk ke situ, padahal penasaran banget sama tanaman yang ada di dalamnya. Siapa tau kan ada kebun jambu jadi bisa sekalian wisata petik buah *ngelunjak*. Puas berfoto di dekat telaga, kami kembali meneruskan perjalanan. Langkah kaki agak kami percepat karena...hujan turun lagi! Untungnya sudah dekat dengan titik awal kami berangkat tadi. Nah ini yang agak geli, kami jalan bertiga tapi bawa payung hanya satu. Enggak ada satu pun dari kami yang berminat untuk buka payung toh memang karena sudah dekat dengan mobil, hujan enggak terlalu deras cuma rintik-rintik kecil, dan males ribet *alasan*. Seorang nenek-nenek penjual sate kelinci yang kami lewati tiba-tiba nyeletuk (dalam bahasa Jawa) ke teman saya yang membawa payung, “Lhoh mbak-nya bawa payung tapi enggak dipake!” HAHAHAHAHA mungkin pikir si nenek kami enggak ngerti bahasa Jawa kali ya. Ya udah saya nyeletuk juga (dalam bahasa Jawa) ke teman saya itu “Eh kamu dikatain sama nenek itu bawa payung tapi enggak dipake! Hahaha”. Biar si nenek tau aja sih kalau kami ini orang Jawa juga. Kkk~ mianhaeyo nenek-ssi~

Banyak anak-anak muda seumuran saya yang berfoto-foto ria di tempat ini. Mau foto ala Syahrini tiduran di atas rumput pun bisa dilakukan disini.
Ini lho yang saya katakan semacam “pulau kecil” di tengah telaga. Kelihatan enggak? Enggak ya, terlalu gelap :(

Oiya ada info tambahan yang saya dapat dari instagram INSTANUSANTARA. Telaga Sarangan dikenal juga sebagai Telaga Pasir. Menurut cerita, awalnya telaga ini berupa ladang milik seorang petani bernama Kyai Pasir *Kyai Pasir ini pasti orangnya kaya banget ya punya ladang SEGEDE itu*. Suatu ketika, terjadi sebuah peristiwa yang menimpa Kyai Pasir dan istrinya yang mengakibatkan ladang mereka berubah menjadi telaga *banjir atau sumber air sumurnya keluar ke permukaan, bisa jadi*. Telaga Sarangan merupakan objek wisata andalan Magetan. Telaga Sarangan memiliki beberapa kalender event penting tahunan, yaitu Labuh Sesaji pada Jumat Pon bulan Ruwah, liburan sekolah di pertengahan tahun, Ledug Sura 1 Muharram, dan pesta kembang api di malam pergantian tahun *jadi waktu saya kesana lagi enggak ada apa-apa, awal Desember (masih bulan Safar sepertinya)*.

Semoga bermanfaat!

P.S. Kalau mau naik speed boat keliling telaga bisa lho, harganya sekitar enam puluh ribu rupiah. Saya dan kedua teman saya enggak sempat naik soalnya hujan makin deras. Sedih?: Enggak dong kan dulu udah pernah, yang nyetir bapak saya sendiri lagi. Enggak tau kalau dua teman saya yang lain, wekekekek *ditimpuk payung*

Speed boat-speed boat yang sedang parkir menunggu hujan deras reda.



October 6, 2014

Bertemu Nitya Krishinda di Taman Safari II Prigen-Pasuruan

Beberapa waktu lalu  ganda putri bulutangkis Indonesia, Nitya Krishinda dan Greysia Polii, setelah sekian lama puasa medali akhirnya berhasil meraih medali emas di Asian Games Incheon Korea Selatan! MEDALI EMAS MEEEN, GANDA PUTRI lho ini!!! Kenapa saya sampai heboh begini? Ya karena ganda putri itu kalau saya lihat di turnamen-turnamen terbuka jarang banget dapat medali, nah ini di Asian Games malah dapat EMAS! Tau siapa lawannya?? Ganda putri asal negeri sakura yang notabene jadi unggulan (Ayaka Takahashi/Misaki Matsumoto). Dan yang lebih mengejutkan di semifinal pasangan dari tanah air tercinta ini mengalahkan pasangan Cina *terharu banget T.T* Akhirnya dominasi Cina di sektor ganda putri terpatahkan.

Anyway saya enggak akan membahas detil permainannya disini karena saya enggak mau jadi saingan komentator Ivana Lee atau Susi Susanti *padahal emang enggak ngerti teknik main bulutangkis dan enggak nonton pertandingannya, wtf* Yang mau saya bahas disini adalah pertemuan saya dan saudara saya dengan Nitya Krishinda.


Ceritanya libur lebaran kemarin saya sekeluarga pergi tamasya ke taman safari di Prigen Pasuruan. Saya ngebet banget pengen ke sana, sekitar tiga tahun lalu sempat kesana tapi semua foto yang saya ambil enggak kesimpen, bete -___- Selain itu saya juga ngebet pengen foto sama singa (akibat seorang teman di instagram pamer foto duduk berdua bareng singa) ya meskipun pada akhirnya saya enggak jadi foto sama singanya *takut dicakar, takut dimakan* tapi saya berhasil foto sama anak harimau, yeay! Anak harimaunya lucuk bangetttttttttt tapi agak bau pake acara ngambek waktu mau foto sama saya -___-

Yang pernah ke taman safari pasti sudah hafal kalo pertama masuk bakal diajak safari melihat koleksi lebih dari 200 satwa dari Amerika, Eropa, Asia dan Afrika. Saya yang emang freak sama K-Pop begitu lihat llama jadi inget sama Amber, hahaha. Begitu pula waktu lihat jerapah jadi inget Kwangsoo, lihat harimau jadi inget Jongkook, lihat kuda inget Siwon, lihat monyet inget Eunhyuk, lihat beruang inget CNU, lihat serigala inget geure ulf naega ulf awooo saranghaeyo, lihat buaya inget mantan #EA. Saudara saya yang masih sangat terpukul dengan skandal open car 19 Juni sibuk motret-motret matahari a.k.a lightbuat di-upload di instagram. Dari safari itulah saya mengenal beberapa hewan yang namanya asing di teling saya macam eland, blackbuck, waterbuck dan watusi. Eland ini semacam rusa tanduknya bagus kayak baut muter-muter gitu. Kalo blackbuck, waterbuck dan watusi ini sepertinya bangsa sapi dengan tanduk yang berbeda-beda. Tanduk watusi yang paling wow, GEDE BANGET, kalau misalnya ditanduk sama watusi ini tauk deh jadi apa.

Eland dengan tanduknya yang unik, muter-muter kayak baut
Blackbuck

Waterbuck
Watusi dan tanduknya yang WOW

Pertemuan dengan Nitya terjadi di area foto bersama satwa, waktu itu saya sibuk mondar-mandir bingung mau foto sama satwa yang mana dulu. Ada harimau putih, singa, orangutan, ular, burung hantu, elang, rangkong, dan bayi anak harimau. Di tengah kebingungan saya, saudara saya mengenali sesosok cewek berbaju kuning dengan sunglassesnangkring di kepalanya. Dia ngasih tau kalau ada Nitya, saya makin bingung Nitya siapa?? Pemain bulutangkis, kata saudara saya. Meskipun saya bener-bener enggak tau kalau ada pemain bulutangkis bernama Nitya, saya langsung nyuruh saudara saya buat foto bareng. Lumayan kan, jarang-jarang ketemu sama orang terkenal. Sekalian saya suruh juga buat minta tanda tangan, sayangnya kami berdua enggak ada yang bawa kertas sama bolpoin waktu itu.

PESAN MORAL: kalau tamasya kemana-mana jangan lupa bawa bolpoin sama kertas biar kalo ketemu sama orang terkenal bisa sekalian minta tanda tangan :p

Momen pertemuan dengan Nitya itu membuat saya berandai-andai ketemu sama Chanyeol juga di taman safari, hahahaha. Enggak ketemu sama Chanyeol sih, tapi ketemu sama Xiumin. Xiumin-nya nempel di kaos seorang cewek chubbyendut yang kira-kira masih barusan masuk SMP ._.

July 14, 2014

Kesamaan Tak Akan Pernah Sesama Ini, Teman...


Ujian Akhir Nasional atau UAN adalah momen-momen paling krusial buat anak-anak SMA kelas dua belas karena pada momen tersebut masa depan ditentukan. Lulus atau enggak, nerusin kuliah atau milih kerja, atau yang udah punya jodoh jadi kawin atau enggak. Yang terakhir ini kayaknya terlalu dini buat gue, jangankan kawin punya pacar aja belum.
Gue memutuskan untuk jadi jomblo abadi di SMA. Selama tiga tahun gue enggak merasakan yang namanya pacaran, yang kata teman-teman gue adalah masa pacaran yang paling indah.
Gue sebenarnya bingung kenapa disebut indah, padahal yang gue tahu teman-teman yang berjenis kelamin sama dengan gue yang pada pacaran di masa SMA isinya nangis mulu tiap malam sampai-sampai matanya bengkak segede bola kasti keesokan harinya di kelas. Pas gue tanya kenapa, pasti jawabannya sama, “Enggak apa-apa kok Nan, cuma berantem dikit sama cowok gue.” Berantem dikit aja nangis, dasar cengeng lo.
C’mon gurlz! Cewek tuh mesti kuat, tegar, dan tahan banting kayak gue. Ibarat kata nih, gue kayak batu karang di tengah lautan yang tetap berdiri kokoh meskipun dihantam ombak paling gede sekalipun. Gue tetap kuat, tegar, dan tahan banting (ditambah sedikit sabar) ketika gue dicap enggak laku sama teman-teman gue gara-gara enggak pernah punya pacar di SMA. Mereka menggonggong gue cuek-cuek aja soalnya mereka enggak tahu alasan dibalik abadinya kejombloan gue, alasan gue untuk enggak pacaran selama ini adalah gue terobsesi sama kakak kelas gue yang udah lulus dua tahun lalu dan sekarang lagi kuliah di Universitas Paramitha di kota sebelah.
Kali pertama gue ketemu sama dia di parkiran sekolah, waktu itu gue murid baru dan dia udah kelas dua belas. Pagi itu gue sendirian markir motor karena kepagian datang ke sekolah, tiba-tiba ada seorang cowok penunggang motor belalang tempur parkir gerasak gerusuk di sebelah gue. Gue liatin aja tuh cowok dengan alis nyambung kanan-kiri, kesel banget soalnya udah datang kepagian, masih ngantuk, dikagetin pula sama cara parkirnya yang kayak maling kesiangan.
Tergesa-gesa dia nyopot helem. Saat itulah gue tahu aslinya, seperti tersihir melayang di awan gue menatap sosok yang wajahnya dari samping, menurut gue, mirip Dimas Aditya itu. Alis gue perlahan-lahan berpisah menuju ke posisi semula, rasa ngantuk gue menguap seketika begitu ngelihat barang bening kayak begini.
Dia nyabut kunci motor lalu nancepin lagi tuh kunci nahas ke lubang kunci jok, terdengar bunyi ‘ceklak’ dan dia buka jok motornya, nyantolin helem di situ, ‘brak!’ joknya ditutup lagi dengan sedikit bantingan, dan langsung ngacir kayak kuda perang. Buset tuh cowok  cakep-cakep kenapa bisa kalap kayak begitu ya, batin gue waktu itu.
Pas gue naruh helem di jok, tuh cowok ganteng balik lagi ke parkiran sambil lari-lari menuju ke arah gue. Gue panik dan bingung sendiri, jujur gue enggak siap diajak kenalan sepagi ini!
Tapi apa mau dikata kalau takdir sudah akan berbicara lain, gue langsung ngaca ke spion ngerapihin poni gue yang acak-acakan habis dihelemin. Oke gue udah cantik dan siap untuk... Bret! Cowok itu secepat kilat nyabut kunci motor yang lagi nancep di lubang kunci jok dan lari lagi menjauhi parkiran. Gue cuma bengong ngelihat punggungnya yang lama-lama hilang di tikungan lorong, inilah akibatnya kalau terlalu ge-er.
Semenjak kejadian itu gue jadi rajin cari-cari info tentang makhluk lawan jenis yang telah mencuri hati gue itu. Setelah tanya sana-sini, ngerumpi sana-sini, ngegosip sana-sini akhirnya gue tahu siapa dia, Irwan Dwi Surya Nugraha anak dua belas IPA 4.
Gue benar-benar suka sama dia, sampai-sampai beberapa cowok yang pada deketin gue dan pengin jadi pacar gue, gue tolak dengan halus satu per satu. Alasan gue pas nolak, “Gue enggak mau pacaran dulu, gue mau konsen dulu mikir pelajaran. Maaf ya,” benar-benar klise dan benar-benar ampuh.
Tuh kan gue sebenarnya laku kok dan dideketin banyak cowok, guenya aja yang ogah nerima mereka. Ingat kawan, jomblo bukan berarti enggak laku!
Gue maunya pacaran sama kak Irwan tapi berhubung sampai sekarang dia enggak nembak gue, ya gue masih betah ngejomblo. Gue orang yang selektif dalam hal milih pacar, gue enggak akan pacaran dengan orang yang enggak memenuhi standarisasi yang telah gue tetapkan. Standarisasi gue saat ini adalah kak Irwan, dan cowok-cowok yang selama ini pedekate sama gue belum menyentuh batas standarisasi itu. Gue selektif ya bukan perfeksionis, meskipun selektif dan perfeksionis menurut gue kadang beda tipis.
Seperti yang gue bilang di awal kalau Ujian Akhir Nasional atau UAN adalah momen-momen paling krusial buat anak-anak SMA kelas dua belas karena pada momen tersebut masa depan ditentukan. Disini enggak cuma para murid yang dibuat galau karenanya, para guru juga ikutan tegang. Para pahlawan tanpa tanda jasa ini sibuk bikin kisi-kisi soal untuk try out supaya murid-muridnya enggak kaget begitu UAN beneran, ngatur jadwal les tambahan pagi dan sore, serta tak jarang puasa Senin-Kamis dan shalat Tahajjud demi kelulusan anak didiknya yang nakal-nakal. Gue benar-benar salut dan terharu dengan pengorbanan beliau-beliau ini. Setega-teganya seorang guru ngasih hukuman atau remidi buat kita, gue yakin beliau enggak akan tega ngelihat anak didiknya enggak lulus UAN.
Siang ini gue lagi duduk-duduk di teras mushola bareng teman-teman gue. Mendekati UAN kayak gini mushola jadi ramai ketimbang hari-hari biasa. Kita jadi lebih alim dan religius memohon agar diberi kelancaran dan keberhasilan dalam menjalani UAN nanti.
“Gue nimbrung ya disini, udah lama nih enggak kumpul-kumpul kayak gini,” suara Nike menghentikan obrolan gue sama teman-teman gue yang lain.
“Eh Nike, iya sini duduk,” gue mempersilakan dia bak seorang tuan rumah kepada tamunya.
Nike ini adalah teman satu kelompok gue pas masa orientasi dulu. Anaknya baik, suka ngelucu, dan agak manja ke cowok-cowok, para kaum Adam itu bilang kalau Nike ini manis. Gue sebagai cewek berpendapat kalau Nike ini hanya sedikit manis, bukan manis. Gue dan Nike enggak pernah sekelas dari kelas sepuluh sampai kelas dua belas sekarang ini meskipun sama-sama IPA.
“Eh Nik, lo nanti mau kuliah dimana habis lulus?” tanya gue.
“Penginnya ke Universitas Paramitha, lo Nan?”
“Wah sama dong gue juga penginnya ke situ, mudah-mudahan kita masuk ya biar bisa sama-sama lagi.”
“Iya Nan, gue rencananya ambil jurusan ilmu gizi, lo ambil jurusan apa?” Nike tanya.
“Sama kayak lo Nik, ilmu gizi juga. Kayaknya kita ditakdirin sama-sama terus deh.”
“Hahaha”, gue dan Nike ketawa bareng.
Kita terus cerita-cerita sampai ada seorang cewek yang gue enggak tahu siapa duduk di samping Nike dan nyenggol dia sambil ngomong, “Cieee...yang mau nyusul kak Irwan ke fakultas kedokteraaan.” Yang disenggol cuma senyum-senyum dikulum.
Gue heran. Kak Irwan? Nike? Nyusul?
“Kak Irwan di jurusan kedokteran, lo di ilmu gizi, klop deh tuh,” katanya lagi.
Nike tetap senyum-senyum. “Apaan sih lo, Sin,” katanya manja.
Gue makin penasaran sama arah pembicaraan mereka. Begitu cewek yang dipanggil ‘Sin’ itu ngobrol dengan teman yang lain, gue enggak sia-siakan kesempatan. Gue langsung berbisik pasir ke Nike, “Lo suka kak Irwan juga?”
Gila...ini kesamaan yang benar-benar sama! Gue sama Nike sama-sama sekolah di sekolah yang sama, sama-sama satu kelompok pas masa orientasi dulu, sama-sama jurusan IPA, sama-sama pengin kuliah di Universitas Paramitha, sama-sama pengin ambil jurusan ilmu gizi, dan sekarang... SAMA-SAMA SUKA KAK IRWAN!!!
Gue benar-benar excited banget akhirnya menemukan orang yang suka sama kak Irwan. Pasalnya biarpun ganteng, kak Irwan itu orangnya jaim banget dan enggak mau ngalah pas lagi pesan makanan di kantin, biarpun sama cewek. Itulah nilai negatif kak Irwan di mata cewek-cewek. Tapi di mata gue kak Irwan tetaplah kak Irwan, sang pelumer hati gue yang dua tahun lalu seradak-seruduk markir motor di parkiran sekolah gara-gara telat les pagi, dan gue kira bakalan ngajak kenalan di pagi itu. I like you so much!
“Apa Nan?” Nike rupanya kurang begitu mendengar bisikan pertama gue.
Bisikan kedua agak kerasan dikit, “Lo suka kak Irwan?” Gue enggak tahu kenapa kata ‘juga’ enggak gue ucapin, semacam ada feeling enggak enak.
“Lo enggak tau Nan?” Nike malah balik tanya. Gue bengong, nih anak ditanya enggak jawab malah balik tanya.
“Gue pacaran sama kak Irwan.”
Krak! Hati gue retak. Apa?! Gue berharap gue salah dengar.
Nike tersenyum, habislah harapan gue. Meskipun bagi orang lain senyum Nike tidak ada unsur mengejek sedikit pun, bagi gue yang lagi syok itu adalah senyum terngejek yang pernah ada.
“Gue udah lama pacaran sama dia,” Nike tetap tersenyum dengan senyuman yang sama.
Pranggg! Kali ini hati gue benar-benar pecah berkeping-keping. Remuk. Runtuh. Pilu.
Gue sadar gue enggak pantas banget untuk menyalahkan Nike, apalagi kak Irwan. Mereka berdua emang enggak salah karena mereka enggak tahu perasaan gue. Gue emang enggak pernah cerita ke siapa pun kalau gue suka kak Irwan. Perasaan ini gue pendam sendiri selama dua tahun.
Nike dan kak Irwan pacaran? NIKE DAN KAK IRWAN PACARAN??
Udah lama? UDAH LAMA??
Dan gue enggak tahu sama sekali, ini gue yang enggak gaul atau mereka sih yang enggak pernah publikasi??
Jadi selama ini yang selalu jadi aktor utama di mimpi-mimpi gue, yang jadi pujaan hati gue, yang gue harap jadi Romeo masa depan buat gue itu... itu... pacar teman gue sendiri? Gue benar-benar ngerasa bego!
***

June 3, 2014

Hampir Hilang ke Bandung

Cerita berawal dari panggilan tes tulis sebuah bank di Surabaya. Waktu itu cuma saya saja yang dipanggil, teman-teman saya enggak ada yang dipanggil soalnya mereka enggak daftar dan enggak tahu kalau bank itu ada lowongan kerja. Tempat tes adalah Unair, saya yang belum pernah sama sekali ke sana bingung mau menginap dimana kalau nanti sudah sampai di Surabaya. Saya memutar otak supaya dapat tempat menginap gratis dan dapat guide untuk memberi tahu lokasi tes tulis. Saya menghubungi teman saya yang adiknya kuliah di Unesa, katanya kalau dari sana ke Unair naik motor makan waktu satu jam. Hemm... saya nggak mungkin ke Surabaya bawa motor, naik aja berat apalagi bawa ya, hehehe. Oke, adik teman saya ini tereliminasi. Saya ingat ada satu teman SMA saya yang kuliah di Unair, semoga dia belum lulus, batin saya waktu itu. Agak jahat ya tapi ya masuk akal juga karena kuliahnya di farmasi. Kalau kuliah di jurusan yang ada hubungannya sama kesehatan-kesehatan gitu biasanya lama kan, paling cepat 5 tahun ya, hehehe *sok tahu*


Benar dugaan saya, teman saya itu lagi ambil kuliah profesi dan masih ngekos di sekitar Unair. Akhirnya setelah beberapa diskusi via sms tercapailah kata sepakat. Wohoo... akhirnya dapat juga tempat menginap gratis. Setelah urusan penginapan selesai, saya segera mengurus berkas-berkas persyaratan tes, mulai dari formulir-formulir yang harus diunduh dari website resmi bank, surat keterangan bebas narkoba dari rumah sakit, sampai SKCK dari kepolisian yang ngurusnya sangat menghabiskan waktu, tenaga, dan juga bensin (maklum tempat ngurusnya jauh dari rumah). Dan yang paling penting adalah tiket kereta api ke Surabaya. Karena saya tidak pernah ke stasiun kereta api sebelumnya jadi saya mengajak teman saya yang sudah punya pengalaman masuk ke stasiun dan membeli tiketnya.


Beginilah suasana Stasiun Kota Malang waktu saya antre beli tiket kereta Malang-Surabaya

Hari yang dinanti-nanti pun datang, saya segera packing barang-barang yang harus saya bawa ke Surabaya, perlengkapan mandi, pakaian ganti, pakaian tes, make up, laptop, dan berkas-berkas tes pastinya (bahaya kalau sampai ini ketinggalan!). Saya enggak mau bawa banyak tas, cukup satu tas saja supaya praktis dan tidak seperti orang mau pindah rumah padahal cuma mau menginap dua hari di Surabaya. Jadilah tas punggung saya menggembung dengan tidak manusiawi, pokoknya gedean tas e timbang wong e.

Jam 12 siang saya sudah sampai di stasiun diantar oleh sepupu saya, begitu Mas Petugas di pintu masuk teriak “Surabaya... Surabaya” saya langsung masuk menunjukkan tiket dan cipika-cipiki dengan sepupu saya. “Jalur 3 ya,” gitu kata masnya. Saya yang 23 tahun tidak pernah masuk stasiun langsung masuk dengan pede-nya, sepi sekali di dalam hanya ada seorang mbak dan ibunya yang berjalan di depan saya. Mbak itu ternyata juga enggak tahu dimana gerbong yang akan dinaikinya, dia tanya ke mas yang lagi ngepel gerbong sedangkan saya tanya ke bapak yang lagi baca koran sendirian di tempat duduk. Setelah dapat petunjuk saya langsung masuk ke gerbong 3 dan mencari-cari kursi saya. Akhirnya saya menemukan kursi yang selama kurang lebih 3 jam akan saya siksa dengan tulang bokong saya dalam perjalanan saya ke Surabaya, saya langsung duduk dan memangku tas saya yang segede gaban itu karena ibu saya bilang tasnya jangan ditaruh di atas, dipangku aja. “Oo begini to rupa stasiun itu, begini to dalamnya kereta api itu,” batin saya ndeso. Setengah jam lebih saya duduk manis anteng di dalam kereta sambil memperhatikan orang-orang yang masuk ke dalam kereta. Saya melihat jam tangan, huh dasar orang Indonesia selalu ngaret, jadwal keberangkatan keretanya 12.30 ini sudah 12.45! Tiba-tiba perasaan enggak enak muncul, kok yang naik kereta ini pada ngomong pakai bahasa Sunda ya? Hemm jangan-jangan... “Pak ini keretanya bukan ke Surabaya?” tanya saya ke seorang bapak yang sedang memangku cucunya yang beberapa detik lalu bilang “Bentar lagi pulang ke Bandung ya, Le.” Bapak itu tampak kebingungan, “Lho ya bukan Mbak.” Astagaaa saya salah naik kereta! Huwaaa... Di menit-menit menjelang keretanya berangkat, tidak peduli orang-orang yang sedang memandang saya kasihan, tidak peduli tas saya yang berat dan segede gaban yang harus saya bawa keluar, saya langsung lari keluar kereta sebelum keretanya berangkat dan menurunkan saya entah di stasiun mana. Saya gemetaran dan menelpon ibu saya agar sepupu saya kembali menjemput saya pulang. Dan bisa ditebak saya menjadi bahan tertawaan di rumah :(


Nah ini foto yang sempat saya abadikan waktu di dalam kereta (jurusan Bandung)

Pesan moral dari cerita saya adalah jangan nekat pergi naik kereta sendirian kalau tidak pernah naik kereta sama sekali, dan usut punya usut ternyata bapak saya tidak setuju kalau saya ikut tes yang ada kebijakan menyerahkan ijasah asli. Ah, restu orangtua memang yang paling utama.

Tukang Ojek Oh Tukang Ojek

Waktu itu saya masih SMA kelas 12 dan sedang mengikuti les matematika untuk persiapan UAN. Saya les di tempat guru matematika yang dulu mengajar saya di kelas 11. Beliau ini waktu mengajar di kelas galaknya minta ampun tapi begitu mengajar di tempat les menjadi sosok yang berbeda 180 derajat! Melalui beliau saya yang dari kelas 4 SD sampai kelas 10 SMA ra iso opo-opo ning pelajaran matematika, mendadak menjadi pandai matematika. Bagaimana tidak, beliau tidak akan segan-segan menegur siswanya di depan kelas di hadapan siswa-siswa lain jika tidak bisa mengerjakan soal matematika di papan tulis. Mungkin maksudnya supaya malu dan belajar lebih giat lagi kali ya. Intinya saya sudah cocok dengan gaya mengajar beliau ini, jadi saya bela-belain les di tempat beliau sepulang sekolah.


Suatu hari saya pulang agak kesorean dari tempat les, waktu naik angkot juga angkotnya enggak bisa ngebut soalnya jalan lagi ramai. Saya tidak berani menelepon ke rumah minta jemput bapak saya karena sebelum hari itu saya sudah minta jemput tapi enggak sabar menunggu bapak saya datang dan akhirnya saya naik ojek pulang. Jadinya saya sudah sampai rumah, bapak saya sampai di tempat dimana saya tadi minta jemput. Omelan dari ibu dan bapak pun tak terelakkan.

Hari sudah mulai gelap saat saya turun dari angkot, waduh gaswat mana harus jalan kaki lewat jembatan yang dekat pekuburan lagi supaya bisa sampai rumah. “Mbak ojek, mbak?” kata seorang pemuda yang lagi berdiri di dekat gerobak abang nasi goreng. Pucuk dicinta ulam pun tiba nih, kayaknya mas ini paranormal deh bisa baca pikiran saya. Tanpa banyak omong saya langsung mengiyakan tawarannya. Saya kemudian dipersilakan naik ke atas motornya. Sampai di jembatan dekat pekuburan itu saya merasa ada yang aneh, perasaan saya enggak enak. Bukan karena mas yang membonceng saya ini badannya dingin dan mendadak bau wangi bunga tujuh rupa atau apa, bukan, tapi karena motornya ini lho kok ya bagus banget untuk seorang tukang ojek, terus juga tukang ojek kok enggak bawa helm sih?

Sesampainya di depan rumah saya segera turun dan bilang ke mas berambut mirip Ken Zhu itu, “Bentar Mas ya saya ambilkan uang di rumah dulu.” Jawabannya benar-benar membuat saya malu setengah hidup, “Enggak usah Mbak saya bukan tukang ojek kok.” Habis ngomong seperti itu dia langsung ngacir meninggalkan saya yang melongo bingung campur malu. Oh my God! Jangan-jangan dia mahasiswa di kampus deket rumah? Tidaaaakkk!!!

PUTIH itu CANTIK?

Saat saya masih SMP saya sangat terobsesi untuk memiliki kulit yang putih. Hal ini karena saya naksir dengan teman sekelas saya, hehehe. Saya harus terlihat cantik di depan gebetan saya ini bagaimanapun caranya. Bagian pertama yang harus saya perbaiki agar terlihat cantik adalah kulit, saya memiliki kulit sawo matang yang semakin matang sejak saya SMP. Bagaimana tidak, setiap pulang sekolah saya harus jalan kaki ke pasar tempat angkot jurusan ke rumah saya nge-tem. Jarak yang saya tempuh adalah kira-kira setengah kilometer, menurut perhitungan saya sendiri, dan selalu ditemani dengan matahari terik khas siang bolong.


Singkat cerita saya membeli pelembab yang diklaim dapat membuat kulit putih secantik mutiara hanya dalam dua minggu. Sebagai remaja yang masih unyu-unyu dan innocent saya termakan mentah-mentah oleh iklan tersebut. Saya berharap dengan memakai pelembab tersebut kulit saya dapat menjadi putih seputih bule yang menjadi model iklan tersebut. Saya ceritakan iklannya ya, ada seorang bule yang mau jadi pendamping pengantin temannya, bule itu memakai pelembab yang saya pakai. Kemudian saat bule itu keluar mendampingi temannya yang mau nikah, orang-orang pada kecele menganggap kalau bule itu adalah pengantinnya padahal cuma seorang pendamping pengantin. Dan akhirnya... jeng jeng jenggg muncullah slogan kulit putih secantik mutiara hanya dalam dua minggu. Saya semakin termakan anggapan kalau kulit putih itu cantik saat melihat drama Asia Meteor Garden. Semua tahu ya kalau Sanchai sang pemeran utama punya kulit putih bersih dan rambut panjang hitam nan lurus jatuh satu satu. Nah, gebetan saya itu menurut saya mirip sama Tao Ming She, hahaha, teman saya yang lain ada juga lho yang bilang begitu. Soalnya rambut gebetan saya itu suka dijabrik, ya mirip-mirip Tao Ming She minus bandana gitu deh (bandana apa slayer ya?). Saya semakin semangat untuk memutihkan kulit saya walaupun hanya modal pelembab untuk bisa menjadi Sanchai bagi gebetan saya itu, wkwkwk.

Setelah saya merasa sudah putih (padahal enggak sama sekali), bagian kedua yang harus saya ubah adalah rambut. Rambut saya ini modelnya lurus enggak keriting juga enggak, bergelombang lah istilahnya. Saya mutar otak bagaimana agar rambut saya terlihat cantik meskipun tidak di-rebonding tapi masih tetap bisa jadi Sanchai untuk gebetan saya. Saat itu rebonding sedang marak-maraknya di sekolah, hampir setiap kelas ada cewek yang di-rebonding rambutnya enggak peduli biarpun kelihatan kayak sapu ijuk atau tikus habis kecemplung got, hehehe. Saya berpikir kalau rambut di-rebonding nantinya bakal rusak dan pasti butuh perawatan khusus ke salon biar enggak semakin rusak. Belum lagi kalau efek rebonding-nya mau habis, rambut yang bawah masih lurus eh yang atas udah keriting-keriting ngembang kayak pakai helm. Akhirnya saya memilih untuk mengubah gaya kunciran rambut saya, dari tadinya kuncir belakang di bawah jadi kuncir belakang agak ke atas. Bingung ya? Itu lho kuncir ekor kuda. Teman-teman saya yang cewek pada muji-muji saya katanya gaya kunciran saya bagus. Yes!

Oke semua usaha untuk menjadi Sanchai bagi sang gebetan selesai, tinggal nunggu tembakan dari Tao Ming She KW super, hohoho (kepedean banget!). Satu minggu, dua minggu, tiga bulan, sampai naik kelas tiga, saya enggak ditembak-tembak sama gebetan saya itu, huhuhu. Dan, hey, apa ini? Wajah saya kok ada bintik-bintik merah begini? Oh, tidaaak! Kenapa ini? Kenapa dengan wajah saya? Duh, wajah please deh jangan bikin saya tambah bete, sudah gagal ditembak gebetan, wajah bermasalah pula, aaarrgggghh! Saya ceritakan masalah saya ini ke saudara saya, katanya mungkin ini efek enggak cocok pakai pelembab itu. Awalnya saya tidak percaya tapi saya ikuti juga sarannya untuk berhenti pakai pelembab itu. Satu minggu, dua minggu, alhamdulillah bintik-bintik merah di wajah saya hilang. Wajah saya jadi kering dan mencoklat kembali setelah dua minggu tidak memakai pelembab. Tapi saya tidak peduli yang penting wajah saya bebas dari bintik-bintik merah, toh pelembab lain yang cocok masih bisa dicari, toh waktu kulit saya yang menurut saya sudah putih dulu juga gebetan saya enggak nembak-nembak (curcol).

Sejak saat itu saya tidak terobsesi lagi untuk memiliki kulit putih, saya bersyukur saja dengan warna kulit yang saya miliki sekarang yang katanya bule-bule adalah kulit eksotis. Yang penting adalah menjaga kulit supaya tetap bersih terawat, lembab, dan tidak berjerawat. Banyak kok artis-artis berkulit eksotis yang tidak kalah cantik dengan artis-artis berkulit putih baik dalam maupun luar negeri. Di dalam negeri ada Anggun C. Sasmi, Happy Salma, Citra Scholastika, Dinda Kirana, dan Shafira. Di luar negeri ada Rihanna, Beyonce, Jessica Alba, Angelina Jolie, Vanessa Hudgens, Bora SISTAR, G.NA, dan Yuri SNSD. Bahkan artis yang dulunya berkulit putih sampai rela di-tanning supaya menjadi eksotis. Siapa sih yang tidak kenal Agnez Mo, Farah Quinn, sama Hyorin SISTAR? Mereka terlihat semakin cantik dan seksi dengan kulit eksotis mereka yang sekarang. So, cantik bukan berarti punya kulit putih ya cewek-cewek semua :)