May 21, 2020

Review Buku: 'The Geography of Genius'


Identitas Buku
Judul: The Geography of Genius
Penulis: Eric Weiner
Penerjemah: Barokah Ruziati
Penerbit: Qanita
Jumlah halaman: 576 hlm.
ISBN: 978-602-402-024-8
Cetakan: II, Desember 2016

Blurp
Dalam buku ini, Eric Weiner melakukan perjalanan keliling ke beberapa tempat di dunia untuk mencari tahu hubungan antara lingkungan kita dan ide-ide inovatif. Ia menjelajahi sejarah kota-kota, seperti Wina, Florence, Athena, Hangzhou, dan tentu saja Silicon Valley.

Masih dengan gayanya yang nakal, cerdas, dan humoris, Weiner menapaktilasi jalan yang pernah dilalui Socrates, Michaelangelo, dan Leonardo da Vinci. Ia juga merenungkan sejarah teori Darwin, pemikiran Freud, dan berjalan-jalan di hutan seperti yang dilakukan Beethoven zaman dulu.

The Geography of Genius meredefinisi argumen tentang bagaimana seorang genius muncul. Weiner mengevaluasi ulang tentang bagaimana pentingnya budaya dalam memantik dan memelihara kreativitas.

"Weiner itu seorang filsuf, pemandu perjalanan, dan motivator--tentu saja dia juga kocak!" --Vanity Fair


Review
Buku ini bergenre non fiksi tapi ketika membacanya berasa membaca novel fiksi terjemahan sejenis Harry Potter (dengan sudut pandang orang pertama). Penulisnya lihai dalam menceritakan pengalamannya berkeliling dunia ke tempat-tempat para genius muncul. Selama membaca, kosakata bahasa Indonesia saya jadi bertambah karena ada beberapa kata yang memang jarang saya jumpai.

Petualangan penulis buku ini dimulai dari kota Athena di mana para pemikir era sebelum-masehi berada. Perjalanannya berlanjut ke kota Hangzhou, kemudian kembali ke benua biru menjelajahi Florence dan Edinburgh, lalu ke Asia lagi di Kolkata, kembali lagi ke Eropa yaitu Wina, dan berakhir di Silicon Valley-California Amerika Serikat.

Beberapa genius yang dibahas di buku ini tidak hanya yang sudah terkenal saja seperti Socrates, Mozart, dan Steve Jobs. Beberapa tokoh genius yang tidak begitu dikenal (setidaknya yang asing bagi saya seperti Shen Kuo) dan para guru dari genius-genius terkenal tadi, juga dikisahkan.

Penulis 'The Geography of Genius' menapak tilas kisah hidup para genius dari mulai bagaimana mereka menjadi genius sampai dengan berakhirnya zaman keemasan di kota itu. Yang saya suka adalah kisah ini menceritakan hal-hal yang tidak umum dibahas, seperti Socrates yang kerap diolok-olok karena fisiknya dan Mozart yang hidupnya tidak teratur. Menampilkan sisi yang sangat manusiawi, juga menjabarkan bahwa genius itu bermacam-macam rupa dan bidangnya.

Eric Weiner, sang penulis buku ini, tidak sembarangan menuliskan fakta-fakta yang dia dapat (well..beliau adalah mantan koresponden NPR atau National Public Radio). Beliau melakukan tanya jawab langsung dengan narasumber yang mengerti tentang tokoh dan kota yang sedang dikunjungi, serta melakukan riset pustaka. Daftar pustaka yang lumayan panjang dicantumkan di akhir buku. Sangat ilmiah, sama seperti benang merah yang ada di pengantar dan epilog, yaitu menjawab pertanyaan tentang apakah kegeniusan itu menurun secara genetik.


*
Endah April
Endah April

Hello! I write about K-Pop, traveling, books, movies, and life. Please enjoy my blog, thank you! Contact me: happinessanddelight[at]gmail[dot]com

No comments:

Post a Comment

Halo! Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan komentar. Komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu.