July 20, 2021

Bedil, Kuman dan Baja



Identitas Buku
Judul: Guns, Germs & Steel: Rangkuman Riwayat Masyarakat Manusia
Penulis: Jared Diamond
Penerjemah: Hendarto Setiadi, Damaring Tyas Wulandari Palar
Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Cetakan: Keempat, April 2018
Jumlah halaman: xiv + 624 hlm.
ISBN: 978-602-424-138-4


Blurp
Pada 1970-an, ketika sedang berada di Papua untuk meneliti burung, Jared Diamond ditanyai oleh sahabatnya yang orang Papua: Mengapa orang kulit putih membuat banyak barang berharga, sementara orang Papua tidak? Pertanyaan itu sebenarnya adalah pertanyaan mengenai mengapa kemajuan peradaban di berbagai benua itu berbeda-beda. Guns, Germs & Steel, buku pemenang Hadiah Pulitzer 1998, adalah jawaban Jared Diamond bagi pertanyaan sahabatnya.

Mengapa sebagian bangsa di dunia bisa mencapai kemajuan teknologi dan peradaban, sehingga lantas menaklukan dan menjajah bangsa di bagian dunia lain? Apakah itu karena bangsa-bangsa itu hakikatnya lebih unggul daripada lainnya? Atau semua bangsa sama saja, dan yang membedakan adalah faktor lingkungan berupa tanah, iklim, flora-fauna, dan sejarah alam?

Guns, Germs & Steel mengajak kita melihat riwayat peradaban manusia pada masa tepat sebelum masa sejarah--mulai sekitar tahun 11000 SM--yang justru penting karena pada waktu itulah unsur-unsur pembentuk peradaban manusia seperti pertanian dan bahasa muncul. Dari situ kita diajak meninjau perkembangan di semua benua, dan mengetahui mengapa kemajuan peradaban manusia di berbagai tempat itu berbeda-beda.
 
*
 
Jared Diamond ialah Profesor Geografi di University of California, Los Angeles, dan penulis beberapa buku sains populer terkenal antara lain The Third Chimpanzee (1991), Why is Sex Fun (1997, diterbitkan KPG dengan judul Mengapa Seks itu Asyik, 2007) dan Collapse (2005). Karier Diamond bersifat lintas bidang ilmu: diawali sebagai ilmuwan fisiologi, lalu beralih menjadi ahli burung dan ekologi Papua, dan yang terbaru adalah sebagai pakar sejarah peradaban dalam kaitan dengan faktor lingkungan. 


Review
Waktu saya masih kecil dulu dan melihat negara Amerika Serikat dan Kanada banyakan orang kulit putihnya, saya nggak pernah terpikir kalau pendahulu mereka ternyata orang Eropa pendatang. Benua Amerika dulunya dihuni oleh suku asli yang tidak berkulit putih sebelum kedatangan orang-orang Eropa. Hal ini baru saya ketahui ketika sudah duduk di bangku SMP.

Tapi saya nggak pernah kepikiran mengapa yang melakukan penaklukan terhadap suku asli Amerika itu orang Eropa? Mengapa bukan sebaliknya? Setelah menemukan buku Guns, Germs & Steel ini saya baru sadar, oh iya ya kenapa begitu?

Menurut yang tertulis di buku ini, tiga perangkat faktor langsung yang menyebabkan orang-orang Eropa yang menyerbu Amerika memiliki keunggulan lebih besar, yaitu (1) pemukiman manusia telah bermula jauh lebih dulu di Erasia (Eropa-Asia); (2) produksi pangan Erasia lebih efektif, berkat melimpahnya tumbuhan dan terutama hewan liar yang bisa didomestikasi; serta (3) rintangan geografi dan ekologinya yang lebih ringan terhadap penyebaran dalam benua.

Orang-orang Erasia kebetulan mewarisi jauh lebih banyak spesies tumbuhan dan hewan yang bisa didomestikasi daripada orang-orang di benua-benua lain. Domestikasi tumbuhan dan hewan berarti lebih banyak makanan, sehingga populasi manusia menjadi jauh lebih padat. Penduduk daerah-daerah yang lebih dahulu menguasai produksi pangan menjadi lebih awal memulai perjalanan menuju bedil, kuman, dan baja.

Mengapa demikian?

Kelebihan pangan yang dihasilkan dan (di daerah tertentu) alat angkut berbasis hewan untuk mengangkut pangan tersebut merupakan prasyarat bagi berkembangnya masyarakat yang hidup menetap (tidak lagi sebagai pemburu-pengumpul yang berpindah-pindah), terpusat secara politik, memiliki strata sosial, dan bersifat kompleks dari segi ekonomi serta inovatif dari segi teknologi. Ketersediaan tanaman budidaya dan hewan ternak merupakan penjelasan mendasar mengapa kerajaan, kemampuan membaca dan menulis, dan senjata baja mula-mula muncul di Erasia, dan baru kemudian, atau tidak lama sekali, di benua-benua lain. Penggunaan kuda dan unta untuk kepentingan militer, dan daya bunuh kuman yang berasal dari hewan (perpindahan inang selama proses domestikasi dan pembentukan imunitas tubuh), melengkapi daftar kaitan utama antara produksi pangan dan penaklukan orang-orang Eropa terhadap penduduk asli Amerika.

Jadi, sejarah berbagai suku bangsa mengikuti alur yang berbeda-beda dikarenakan adanya perbedaan pada lingkungan berbagai suku bangsa itu, bukan karena adanya perbedaan biologis pada suku-suku bangsa itu sendiri. Terdapat orang-orang kreatif pada semua masyarakat manusia. Namun sebagian lingkungan memberikan lebih banyak bahan awal, dan kondisi-kondisi yang lebih menguntungkan untuk memanfaatkan ciptaan daripada lingkungan-lingkungan lain.

Buku ini awalnya terlihat mengintimidasi dengan ketebalan 600-an halaman dan sampulnya bertuliskan "Rangkuman Riwayat Masyarakat Manusia". Tapi ternyata buku ini nggak seberat yang saya kira, justru asik. Setiap bab di buku ini selalu diakhiri dengan kesimpulan dan pertanyaan yang menimbulkan rasa penasaran untuk membaca bab selanjutnya. Narasinya enak dibaca dan saya nggak mengalami kesulitan berarti dalam memahami apa yang dituliskan penulis di dalam buku ini.

Selain menjelaskan secara runut bagaimana persebaran manusia yang bermula dari Afrika sekitar 7 juta SM; proses domestikasi hewan dan tumbuhan serta penjabaran syarat domestikasi keduanya; evolusi kuman, tulisan, teknologi, pemerintahan dan agama, buku ini juga mengajak pembacanya untuk berkeliling dunia dalam lima bab (bagian-bagian lain dunia seperti Australia, Papua, Kepulauan Pasifik, Cina, dan Afrika dijelaskan di bab ini karena belum dibahas secara mendetail di bab-bab sebelumnya).  Pun masa depan sejarah manusia sebagai sains dan siapa sebenarnya bangsa Jepang dibahas di epilog buku ini.

Kutipan favorit saya dari buku Guns, Germs & Steel:
"Pendek kata, beberapa negara jauh lebih kaya daripada negara-negara lain. Alasannya banyak dan rumit. Jika Anda bersikeras harus ada jawaban sederhana untuk pertanyaan penting itu, maka Anda harus mencari suatu tempat lain di alam semesta untuk dihuni. Jangan tinggal di planet Bumi kita, di mana kehidupan benar-benar rumit." (hal. 597)


*
Endah April
Endah April

Hello! I write about K-Pop, traveling, books, movies, and life. Please enjoy my blog, thank you! Contact me: happinessanddelight[at]gmail[dot]com

10 comments:

  1. tadi aku ngira 600an halaman bakalan bosen,pas aku baca detailnya wuihh tebel bener ternyata ya 600an :D
    buku buku semacam sejarah kayak gini memang menarik dibaca, semacam ensiklopedia juga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tebel banget mba Ainun, buat aku tebel banget. xD Agak keder juga awalnya pas mau baca, tapi alhamdulillah rasanya nggak seberat yang aku bayangkan wkwk.

      Iya dan buku ini rasa bacanya nggak kayak baca diktat kuliah, ada juga buku sejarah yang pas baca tuh rasanya kayak baca buku pelajaran. xD

      Delete
  2. Kok ceritanya menarik gitu yaaa walaupun tebel tapi ga mbosenin dan pengen segera sampai akhir. Oke, masuk wistlist bacaanku nich

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menarik banget! Ini tuh kayak satu buku yang dicari kalau kita pingin dapat sejarah dunia di dalam satu buku aja. Sip sip semoga bisa baca buku bagus ini juga nanti.

      Delete
  3. Aku jadi kepikiran, salah satu penyebab bangsa kita agak lambat dalam hal perkembangan teknologi/sains itu apakah karena sebelumnya kita sudah tinggal di lingkungan yg subur dan melimpah dengan segala jenis tanaman dan hewani?🤔 Semua dikerjakan berkaitan dengan apa yang disediakan alam. Cuma apakah iya yang mengenalkan kita ke teknologi buatan manusia itu Belanda atau jauh sebelumnya sudah ada, karena kan kerajaan kita juga cukup berjaya ya sebelum itu. Hihi entahlah apakah valid atau nggak asumsiku😂

    Baca buku-buku kayak gini meskipun terdengar berat tapi selalu asik ya kak Endah. Sedikit-banyaknya jadi bisa membuka wawasan kita soal asal-usul manusia dsb. Pingin baca juga, tapi nggak tau bisa tahan sampe akhir kayak kak Endah atau nggak😆. Biasanya kalau baca buku suka banyak alesan buat males-malesan sih, hadeuh🙈

    ReplyDelete
    Replies
    1. Asumsi kamu bagus Awl, di buku ini memang nggak dikulik secara mendalam dan khusus tentang Indonesia. Aku juga mikir kenapa Indonesia bukan termasuk bangsa maju sepanjang membaca. Kemudian aku juga berasumsi sendiri karena meskipun flora dan fauna di sini melimpah, ada lagi faktor yang mungkin bisa menghalangi nenek moyang kita dulu untuk nggak bisa "lari" sekencang orang-orang di benua Eropa. Kalau asumsiku dari teori-teori yang ada di buku ini adalah karena keadaan geografi Indonesia yang terpisah-pisah, kalau benua Eropa kan sebagian menyatu di daratan ya jadi lebih memudahkan migrasi orang dan barang-barang hasil olahan maupun mesin-mesin teknologinya. Selain itu juga kita ada di daerah tropis yang mana organisme pengganggu tanamannya juga lebih banyak. Kalau ngomongin keragaman tumbuhan kan nggak cuma yang bisa dimakan ya, tapi juga termasuk gulma-gulmanya juga. Kayak gitu sih kalau asumsiku sendiri berdasarkan pokok-pokok teori yang ada di buku ini ya.

      Asik banget Awl, bisa dibilang aku jatuh cinta sama buku ini walaupun pinjem hahaha. Kayaknya kamu bisa deh tahan sampai akhir, karena kata-kata yang ada di buku ini tuh dibuat nggak teknis-teknis amat. Ada lho bab yang khusus membicarakan evolusi bahasa dan tulisan juga, kamu kan anak linguistik ya, bisa jadi bab yang menarik tuh kayaknya.

      Delete
  4. Kemarin, sempat nonton salah satu materi tentang Civilizing Mission dj YouTube. Pembahasannya menarik. Tentang bagaimana ada sebuah wacana kolonial yang menaruh sebuah anggapan bahwa koloni yang dilakukan oleh orang Eropa itu adalah hal yang baik dengan tujuan memberadabkan wilayah yang dijajahnya.

    Saya sudah liat buku ini di Gramedia pas jaman SMA, seingat saya. Tapi dulu asumsi saya buku ini adalah buku yang bahasanya berat, kalo bukan dosen yah sekelas mahasiswa lah. Lagian, isu dan topiknya juga ngga terlalh menarik untuk saya saat itu. Namun entah kenapa, saya jadi punya dorongan untuk ke toko buku lagi ngecek stok buku ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku dulu juga mikirnya gitu mas Rahul, terus makin ke sini makin banyak baca jadinya mikir...bukannya bangsa yang dijajah itu udah punya peradaban sendiri ya? Jadi maksudnya memperadabkan itu apa? Apa hanya karena perbedaan peradaban jadinya dianggap nggak beradab? Gitu sekarang mikirnya😅

      Hahaha kayaknya kalau aku masih SMA juga mikirnya gitu, coba mas Rahul habis ini baca deh kalau nemu buku ini. Bagus kok.

      Delete
  5. Nyambung ke komennya Awl, jadi kepikiran juga karena dulu kerajaan-kerajaan di kita berjaya tapi kenapa akhirnya bisa hancur juga yaa? Apa ini karena masyarakatnya apa gimana 😅

    Aku sering liat buku ini di Gramed dan mikirnya ini buku sains yang ilmiah banget haha ternyata kata Endah ga seberat itu walau 600 halaman.. Aku jadi ingin baca juga 😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jawabannya tetep Kak, di buku ini nggak bahas Indonesia😂 sayang sekali.

      Ayo baca!!! Yang aku tulis ini cuma secuil bangettt dari isi bukunya.

      Delete

Halo! Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan komentar. Komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu.