January 18, 2016

Menanti Sunset di Pantai Goa Cina

Jalan-jalan sekeluarga memang mengasyikkan. Nggak perlu nyetir sendiri karena ada kakak, tinggal duduk di bangku penumpang sambil becanda gajelas sama sodara terus ngemil kalo laper, cemilan pun udah disiapin sama ibuk dari pagi sebelum berangkat. Makan siang udah disiapin juga, tiket masuk tempat wisata dibayarin, nikmat mana yang kamu dustakan? Hehehehe.

Kekurangannya cuma satu: berangkatnya agak siang. Jam 08.15 WIB baru berangkat dari rumah menuju pantai Goa Cina di Bajulmati, Malang Selatan. Bapak saya pingin tau pantai Goa Cina kayak apa.

Mobil berjalan lancar tanpa hambatan berarti. Saya dan sodara saya sibuk ngomentarin kemacetan menuju ke arah Batu. Hari itu hari Sabtu tanggal 2 Januari 2016, masih dalam rangka liburan tahun baru. Batu jadi serbuan turis luar kota. Saya yang orang Malang sih nanti aja ke Batu kalo udah bukan liburan panjang biar nggak rame-rame banget. :p

Begitu udah masuk ke wilayah Malang Selatan saya mulai panik karena agak macet dan banyak sepeda motor yang nyalip mobil kami. Kelihatannya mereka punya tujuan yang sama. Bener aja pantai Goa Cina rame banget! Dhuhur baru nyampe sana.




Setelah sampe, shalat dulu terus makan siang. Saya bersyukur karena dapat toilet dan tempat shalat yang bersih. Toilet air tawar dan tempat shalat banyak tersedia disana, ada masjid juga. Meskipun tulisannya air tawar, tetep aja airnya ada asin-asinnya gitu pas dipake kumur, wkwkwkwk. Namanya juga deket pantai.

Kami sekeluarga bawa makanan dari rumah karena orang tua saya khawatir makan daging babi di sana. Bapak saya pernah bolak-balik kerja di Sitiarjo (pantai Goa Cina masuk dalam kawasan ini) dan ada masyarakat yang mengkonsumsi daging babi. Yasudah nurut aja sama orang tua yang sudah berpengalaman.

Waktu saya kesana, udaranya panas banget dan nggak ada angin sama sekali. Di sekitar area parkir debunya beuhhh...mending menjauh dulu kalo ada mobil yang mau parkir. Terus ada kawasan yang akan dijadikan taman, udah ditata jalannya tapi pohonnya masih kecil-kecil dan banyak yang kering. Objek wisata (lumayan) baru, maklum.

Ternyata pantai Goa Cina jadi satu kawasan dengan pantai Watu Leter, jaraknya kurang lebih 200 meter aja. Pantai Goa Cina ombaknya besar dan ganas, sedangkan pantai Watu Leter ombaknya aman.

Wohooo sekali pergi, dua objek wisata dikunjungi. :D

Sebenernya saya agak nggak puas menikmati lautnya karena udara yang luar biasa panas, meskipun agak sejuk pas deket ke lautnya karena kena cipratan ombak. Saya nggak nyangka kalo bakal senggaknyaman itu memandang pemandangan pantai di bawah terik matahari siang bolong, selama ini saya selalu menikmati pantai di pagi hari menjelang siang. Daripada rugi mending lanjut sampe sore dan menikmati sunset. ;) Seumur hidup ya baru pertama kali ini saya menyaksikan matahari tenggelam di pantai, hehehe kasian ya.

Jam 17.10 WIB saya dan sodara saya sudah stand by duduk kece di atas pasir sambil sesekali memotret langit dan laut. Habis gitu cek-cek galeri melihat hasil foto-foto sebelumnya, sorting awal menentukan foto mana yang bakal diupload di instagram, wkwkwkwk, teteup sosmed nomor satu.


Maapkeun kaki buluk

Perlahan-lahan matahari semakin tergelincir ke arah barat, memancarkan semburat orange dan kuning di langit yang masih menyisakan warna biru dan awan-awan putih. Meskipun nggak berhasil melihat matahari menghilang di balik garis horizon samudera karena terhalangi awan, saya sungguh menikmati setiap menitnya.




Bersamaan dengan matahari yang tenggelam dengan sempurna, adzan maghrib berkumandang dan bapak saya sudah memanggil-manggil kedua anaknya yang terlalu asik sendiri nonton sunset untuk pulang.




Daddy's little girl,

post signature

January 4, 2016

A Free Escape: Pantai Papuma

Saya selalu suka pantai. Kalo disuruh pilih gunung atau pantai, saya nggak akan ragu pilih pantai. Bukannya saya nggak mau diajak susah karena ogah naik gunung, masalahnya kalo mau buang air di gunung kan susah. Saya agak bawel kalo masalah buang air. Saya pernah nanya ke teman saya yang hobi naik gunung tentang apa enaknya naik gunung. Jawabannya naik gunung itu nggak enak, mau makan susah, bawa-bawa ransel besar, tapi begitu sampai di puncak rasanya puas banget. Oke tergantung selera masing-masing sih ya. Kalo ngejar rasa puas, saya pun puas ketika sampai di pantai setelah perjalanan sekian dan sekian kilometer terkungkung berdesak-desakan di dalam mobil atau kepanasan naik sepeda motor. Hamparan pasir pantai yang kadang halus kadang kasar, suara deburan ombak yang menghantam bibir pantai, matahari yang sinarnya waw banget di tengah hari bolong, lautan biru yang tak bertepi namun membentuk garis horizon lurus sempurna, angin sepoi2 khas pantai yang membelai sekujur tubuh. Ah...indahnya pantai. Mungkin kepuasan itu sama dengan kepuasan mencapai puncak bagi seorang pendaki gunung. Mungkin lho ya. Nggak pernah naik gunung juga. Kok sotoy. Wkwk.


Liburan tahun baru kemarin saya pergi ke pantai Goa Cina di Malang Selatan. Tapi nggak akan saya ceritakan di postingan ini, masih nyusun tulisan dulu. Yang akan saya ceritakan disini tentang kunjungan saya ke pantai Papuma di Jember, Jawa Timur, pada bulan Mei 2015.

Kesan saya begitu sampai di pantai Papuma: BIRU BANGET YA ALLAH AIRNYA BAGUS BANGET MAU NANGIS. Ya, pantai Papuma adalah pantai berair terbiru yang pernah saya lihat. Maklum saya cuma pernah ke pantai Balekambang, Parangtritis, Bajulmati, dan Kenjeran. HAHAHAHAHA.








Angin di pantai Papuma waktu saya ke sana kenceng banget jadinya nggak kerasa panas meskipun lagi tengah hari. Jalanan, mushola, penginapan, pepohonan, tempat makan dan toilet disana menurut saya sudah lumayan tertata rapi. karena sudah lama jadi objek wisata kali ya. Peta wilayahnya juga ada, besar banget di salah satu gazebo. Terus ada klenteng Cina juga yang sayangnya saya lupa nyamperin. -_____-



Video kiriman Endah Apriliani (@endahapril) pada

Saya sebenernya nggak sengaja naik ke salah satu bukit disana. Begitu sampai di atas bukitnya, WUIHHH...SUBHANALLAH. Birunya laut terhampar tanpa halangan mengelilingi sebuah batu besar yang jadi landmark pantai Papuma. Pokoknya makin asfgrbdkfbaldghbs view-nya. Capeknya naik tangga bukit, terbayar begitu nyampe atas. Bukitnya sendiri asri karena banyak pohon dan tanaman berdaun lainnya, tangga-tangganya sudah didesain untuk kemudahan pengunjung. Rugi kalo ke pantai Papuma tapi nggak naik ke bukitnya.

Tangga naik bukit

Jalan setapak di dalam bukit

Tangga menuju puncak bukit

Pemandangan dari tengah bukit

Landmark pantai Papuma






Kalo diajak dan dibayarin lagi ke pantai Papuma saya nggak akan nolak, hehehe. :p


Sampai jumpa di cerita jalan-jalan selanjutnya!

post signature