January 20, 2017

Picky Eater

Semua makhluk hidup pasti perlu makan. Kenapa sih kita perlu makan?

"Tubuhmu adalah mesin berkinerja tinggi, yang perlu bahan bakar. Bahan bakar itu berupa zat gizi (vitamin, mineral, karbohidrat, dan lemak) dalam makanan. Melalui proses pencernaan, tubuhmu mengubah karbohidrat menjadi energi dan protein menjadi balok pembangun untuk membantumu tumbuh lebih tinggi, membangun otot, mencegah penyakit, dan memiliki rambut, gigi, serta kulit yang sehat. Tentu saja bahan bakar terbaik adalah makanan yang sehat. Kalau kamu hanya makan makanan sampah, mesin tubuhmu nanti rusak." (dikutip dari buku 'Mengapa?' karya Crispin Boyer)

Miliaran manusia di dunia pasti punya selera makan yang berbeda-beda. Ada yang pemakan segala, ada yang sukanya daging aja, ada yang sukanya sayuran aja, ada yang suka pedes, ada yang nggak bisa makan makanan pedes, dan lain lain.

Saya sendiri nggak terlalu suka daging, lebih milih sayuran. Bukan vegetarian juga sih, susu dan telur saya masih mau. Daging ayam, sapi, atau kambing pun KADANG masih mau. Aneka ikan dan seafood saya nggak doyan sama sekali. *kemudian muncul segala nasehat tentang manfaat ikan dan seafood bagi tubuh manusia*


Nggak tau kapan bermulanya dan karena apa saya nggak doyan ikan-ikanan itu bermula. Kayaknya dari kecil deh tapi nggak tau tepatnya dari umur berapa. Menurut saya ikan dan seafood itu amis.

"Masak sih? Ikan itu nggak amis lho."

Ya buat yang doyan sih nggak amis. Analoginya, yang doyan durian pasti juga nggak merasa kebauan. I'm totally fine with durian's aroma because I like durian. Buat yang nggak doyan bau dikit aja udah mau pingsan atau muntah kan?

Analogi yang lain misalnya terong. Saya dan sodara saya suka makan terong. Teman sodara saya nggak suka makan terong tapi suka makan ikan. Suatu hari teman sodara saya ini maksa sodara saya makan ikan. Ya nggak mau dong wong sodara saya juga nggak doyan ikan dengan alasan amis juga. Temannya nggak terima, katanya ikan nggak amis. Terus sodara saya bales maksa temannya itu makan terong. Dia nggak mau. LOL. KENAPA TADI MAKSA DEH. XD Alasannya nggak suka terong karena terong rasanya tlunyur-tlunyur di tenggorokan, licin-licin geli gitu. Padahal menurut saya dan sodara saya ya nggak.


See? Sekali lagi, selera makan orang beda-beda. Saya sungguh mengapresiasi orang-orang yang mau menghormati selera makan orang lain.
Saya suka sebel sama orang yang rese sama selera makan saya. Berusaha sekuat tenaga supaya saya makan ikan pada akhirnya. Berusaha sekuat tenaga membuktikan kalau ikan itu nggak amis (dari sudut pandang dia sendiri) (sayangnya). Hih. Padahal orangtua saya aja nggak pernah maksa-maksa kayak gitu.

Lebih sebel lagi sama yang suka bilang "aduh kamu kasihan banget tiap hari makan tahu tempe doang, padahal daging sama ikan enak lho." Dude, let me tell you something. Rasa kasihan itu harus disalurkan pada objek yang tepat, misalnya kasihan ke anak-anak di Afrika yang busung lapar, dilanjutkan dengan memberi bantuan seikhlasnya. Dapat pahala. Nggak dapat dosa soalnya nggak bikin sakit hati orang yang diresein selera makannya.

Wkwkwkwkwk.

Ada lagi yang sangat menyebalkan. Gabungan dari suka maksa dan suka mengasihani, plus suka sok lupa. Jadi tiap makan pertanyaannya sama, "kamu kenapa nggak makan ayam? kamu kenapa nggak makan ikan?". Mengajukan pertanyaan seperti itu di setiap acara makan bikin saya langsung kenyang. Kenyang yang nggak wajar.


Dulu masih saya jawab. Lama-kelamaan saya milih untuk diam nggak menjawab. Capek. Dulu-dulu udah sering jelasin tapi ujung-ujungnya (sok) lupa. Daripada buang-buang energi untuk jawab atau marah-marah mending saya diam.

Karena dalam kasus saya ini, menurut saya, diam itu emas.

Trims.

*

January 18, 2017

[Books] My Opinion about The Naked Traveler 1 YEAR Round-the-World-Trip Part 1-2


Pernah kebayang keliling dunia setahun penuh nggak? Nggak pernah? Sama. Tos dulu.

Bagi Trinity, keliling dunia setahun penuh nggak cuma ada di angan-angan semu semata. Trinity mewujudkan rencananya keliling dunia setahun penuh dan menuliskan pengalaman tersebut di buku The Naked Traveler 1 YEAR Round-the-World-Trip (TNTrtw) Part 1 dan Part 2.


Meskipun judulnya round the world, kenyataannya Trinity "hanya" mengunjungi 22 negara di benua Eropa dan Amerika, tepatnya di Eropa Timur-Utara-Tengah dan Amerika Selatan-Tengah. Wajar menurut saya karena negara-negara itu belum pernah dikunjungi sama Trinity. Ditambah lagi dengan nggak adanya definisi pasti tentang "round the world". Intinya sih (tulis Trinity di buku part 1) round the world itu perjalanan mengitari bumi melintasi beberapa benua dalam periode waktu yang lama.


Pengalaman di Eropa hanya mengisi seperlima buku TNTrtw Part 1. Negara-negara yang dikunjungi Trinity selama berada di Eropa antara lain Rusia, Finlandia, Polandia, Latvia, Lituania, dan Republik Užupis. Seumur-umur dapat pelajaran geografi saya nggak pernah tau ada negara namanya Republik Užupis padahal negara ini sudah ada dari tahun 1997. Senengnya baca buku Trinity ya gini ini, dapat pengetahuan baru yang disampaikan secara santai tanpa menggurui. :D

Sorotan utama dua buku TNTrtw ini memang Amerika Selatan dan Amerika Tengah. Negara-negara yang berhasil dikunjungi Trinity disana adalah Brasil, Cile, Peru, Ekuador, Kolombia, Kuba, Jamaika, Meksiko, dan Guatemala. Empat negara berurutan setelah Brasil, membebaskan visa bagi pemegang paspor Indonesia. Jauh ya negara yang bebas visa buat WNI, harusnya Australia dan New Zealand juga diperjuangkan tuh supaya bebas visa bagi WNI. #ngelunjak

Trinity secara ringan, blak-blakan, nyinyir, sarcasm, dan lawaque menceritakan segala pengalaman suka maupun duka selama satu tahun keliling dunia. Ditambah dengan foto-foto yang SEMUA BERWARNA jadi makin greget bacanya (yang bikin annoying beberapa kosakata berbahasa Spanyol nggak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia). Kesan membandingkan keadaan pariwisata Indonesia dengan negara-negara Amerika Selatan dan Tengah cukup jelas di kedua buku. Ya gimana nggak mau dibandingin lha wong sama-sama negara berkembang. Fair kan ya. :)

Ciri khas dari buku-buku karya Trinity adalah adanya selipan tips dan berbagai info menarik di luar bahasan negara-negara yang dikunjungi. Di buku TNTrtw Part 1, bahasan menarik menurut saya adalah packing ala #TNTrtw, syarat hostel ideal, dan alasan kenapa orang Indonesia jarang traveling. Bahasan yang ketiga ini membuat saya manggut-manggut setuju dan pingin nangis di saat yang sama wkwk. Sebagai hiburan, Trinity menulis untuk tetap berbahagia menjadi orang Indonesia. Karena terbiasa hidup di negara sendiri dengan segala keterbatasan yang ada, Trinity jadi nggak gampang ngeluh. Sementara bule-bule negara maju udah pada bete abis. Hihihi.


Tips dan bahasan informasi di buku TNTrtw Part 2 lebih beragam dan menarik. Mulai dari hal-hal yang njijiki, eksotis, awkward, nyebelin, sampai bikin ngiler! Favorit saya adalah informasi tentang traveler-traveler paling annoying di dunia, rupa-rupa cowok latin dari yang paling B sampai yang paling cakep, persahabatan Trinity dan Yasmin (partner round-the-world-nya Trinity), dan tips lancar ibadah ala Yasmin. Yasmin ini seorang muslimah. Dia nggak pernah sekalipun ninggalin sholat 5 waktu sewaktu melaksanakan round the world trip. Nggak ninggal puasa Ramadhan dan nggak ninggal sholat Idul Fitri. Masya Allah banget jeng Yasmin ini.

Anyway Trinity dan Yasmin menggunakan uang sendiri (bukan sponsor) untuk round the world trip ini. Yasmin bahkan sampai menjual rumah! Awalnya saya pikir mereka menghabiskan ber-M-M rupiah tapi kayaknya nggak deh soalnya traveling ala backpacker kan, terus diperkuat dengan gambaran singkat oleh Trinity tentang pengeluaran mereka selama setahun keliling dunia. Hmmm...pantes aja Trinity berani nulis "you don't have to be rich to travel the world".

*

January 16, 2017

Taman Rekreasi Sengkaling, Sekarang


Tradisi sebagian besar orang Indonesia saat libur panjang hari raya Idul Fitri, selain mudik, adalah berwisata bersama keluarga. Biasanya ke tempat-tempat yang nggak terlalu jauh dan masih dalam cakupan wilayah kampung halaman.

Sebagai anak-anak tahun 90an, saya dulu sering diajak (atau mengajak, lebih tepatnya) orang tua untuk berwisata ke Taman Rekreasi Sengkaling, Malang. Keluarga kami nggak pernah mudik. Meskipun pas libur lebaran sudah ke tempat-tempat wisata yang lain (pantai Balekambang, misalnya) belum puas rasanya kalau belum ke Taman Rekreasi Sengkaling. Seistimewa itu Taman Rekreasi Sengkaling bagi saya, dulu.


Ada apa sebenarnya di Taman Rekreasi Sengkaling? Jawaban utama jelas ada kolam renang. Herannya meskipun sering masuk kolam renang dari kecil, saya baru bisa berenang baru-baru ini wkwkwk.


Jawaban selanjutnya adalah ada ayunan banyak. Pas kecil dulu main ayunan udah alhamdulillah banget, belum kenal roller coaster.


Satu minggu yang lalu, secara random, saya ke Taman Rekreasi Sengkaling lagi setelah belasan tahun nggak kesana. Sebenarnya hari itu saya sudah niat ke Vihara Dhammadwipa Batu karena ingin melihat tiruan Shwedagon Myanmar dan patung Budha tidur, lha kok viharanya sekarang ditutup untuk wisatawan. Pft. Teman saya langsung inisiatif ke Taman Rekreasi Sengkaling, yaudah cus aja daripada mubadzir pulang.

Kondisi dan kesan terhadap Taman Rekreasi Sengkaling sekarang:

1. Ada tambahan UMM di belakang namanya
Menjadi Taman Rekreasi Sengkaling UMM (Universitas Muhammdiyah Malang). Setelah membaca berita ternyata Taman Rekreasi Sengkaling telah diakuisisi oleh UMM sejak Mei 2013. Sebelumnya dimiliki oleh perusahaan rokok PT. Bentoel dari tahun 1972 (sumber).


2. Nggak terlalu banyak pengunjung
Bisa jadi karena saya datang hari Sabtu bukan Minggu dan datang selepas liburan panjang Natal dan tahun baru. Taman bermainnya nggak terlalu banyak anak kecil, cenderung sepi banget malah. Sampai puas main ayunan. Suasana taman bermainnya juga asri karena rindang banyak pepohonan hijau.

Parkiran lengang

Pintu masuk dari dalam area Taman Rekreasi Sengkaling


Kolam perahu bebek dan perahu naga

Taman bermain anak-anak, ada cangkir putar, ayunan, dan apa ya itu namanya yang bulat paling belakang sendiri kayak mainannya hamster. Saya dulu jago naik bulatan itu lhoh tapi pas kesana lagi lha kok jadi susah lol dah tua. 



3. Nggak seluas dan sebesar yang saya kira waktu kecil
Waktu saya masih kecil, Taman Rekreasi Sengkaling itu kayak gedeeeee banget. Ternyata ya nggak segede itu. Hehehe. Maklum masih kecil kan masih clueless about luasan suatu objek wisata, yang dipikirin waktu itu cuma nyebur kolam renang sama main ayunan.



4. Nostalgia! Huhuhu...
Saking seringnya dulu ke Taman Rekreasi Sengkaling saya sampai hafal beberapa objek favorit saya jaman dulu untuk berfoto (pakai tustel!).

Kolam, taman, dan jembatan di dekat pintu masuk

Snow White dan 7 kurcaci! Legend banget lah ini dulu, hampir kalo ke Taman Rekreasi Sengkaling saya foto disini padahal kalau dilihat sekarang wajah Snow White nggak ada mirip-miripnya sama Snow White-nya Disney wkwk.

INI JUGAK!! Petruk ya namanya? Objek foto favorit kakak laki-laki saya bersama geng cowok-cowok pada masa itu.

Patung Hanoman dan errrrrr........kaleng POP MIE di belakangnya.

Patung induk gajah dan anak gajah huhuhu, kami sekeluarga pernah foto polaroid disitu tahun 1993 apa 1994 ya?

Patung kuda-kudaan

Mainannya jadul abis. X)

Jembatan gantung yang dulu saya takut naiknya karena goyang-goyang, sekarang mah biasa aja ternyata. XD
(Photo by: ainilala27)

Kalau sekarang objek yang jadi favorit saya di Taman Rekreasi Sengkaling adalah tembok uang ini:
Photo by: ainilala27




Usai berkunjung ke Taman Rekreasi Sengkaling saya jadi pingin ngajak keponakan saya untuk kesana juga supaya dia bisa puas bermain-main mainan yang mengandalkan fisik. Begitu saya kasih tau rencana ini ke dia eh ternyata keponakan saya udah pernah kesana dan katanya mainannya nggak asik, lebih asik di Jatim Park! HAHAHAHAHAHA. #bedagenerasi

*

January 6, 2017

[Books] Quick Review The Naked Traveler 1-4



Dulu saya kira 'The Naked Traveler (TNT)' adalah buku karya seorang bule, laki-laki, yang gemar traveling pake celana kolor dan bertelanjang dada. Lambat laun saya baru ngeh kalau ternyata penulisnya adalah wanita Indonesia bernama Trinity. #kemaneaje

Dulu waktu masih berstatus mahasiswa saya belum berani beli buku seri TNT karena takut bokek nggak cocok sama isinya. Sebagai percobaan saya beranikan beli buku 'The Naked Traveler Anthology', kumpulan tulisan Trinity dan beberapa traveler lain. Eh ternyata asik juga dibaca. Akhirnya ketagihan dan membeli buku TNT 1-4, TNT Anthology Horror, TNT Round the World 1-2, dan yang paling baru TNT 7.


Sekarang saya mau sedikit mereview TNT 1-4. Di tulisan sebelum-sebelumnya, saya pernah mereview 'TNT Anthology Horror'. Bagi yang mau baca silakan klik disini.

HIGHLIGHT

The Naked Traveler 1
Banyak menceritakan tentang pengalaman Trinity di pesawat terbang, bandara, dan kesialan selama traveling di beberapa negara. Ada juga dua cerita seram di dalam buku pertama ini. Sebagian besar cerita nggak spesifik dilakukan di satu negara, seringnya campur-campur dari berbagai negara.

The Naked Traveler 2
Buku kedua lebih spesifik menceritakan pengalaman traveling Trinity ke beberapa negara seperti Palau, Filipina, Vietnam, Turki, tanah air tercinta (Indonesia), dan Uni Emirat Arab. Bagi yang suka cerita tentang Dubai, buku kedua ini cocok untuk dibaca. Nggak ada cerita seram di buku kedua ini tapi..........ada cerita tentang distrik lampu merah dan strip club! Hmmm...penasaran nggak sama kedua tempat itu? Hahaha.

The Naked Traveler 3
Cerita pertama di buku ketiga ini langsung bikin bulu kuduk berdiri. Lalu ada satu bab khusus yang membahas cerita jorok dari beberapa negara, jorok dalam artian kotor atau jijay. Kemudian ada cerita traveling Trinity di negara Israel, Jepang, India, Singapura (wisata adrenalin), Mesir, Nepal, Timor Timur, Australia (wisata ke suku Aborigin), Cina, dan Korea Selatan! Cerita dari dalam negeri ada nggak? Ada dong, yaitu Jakarta dan Wakatobi (btw saya baru tau kalau Wakatobi ini ternyata singkatan dari beberapa pulau). Ada juga tips untuk pergi ke luar negeri secara GRATIS! Terus juga ada bahasan Trinity tentang cowok-cowok lintas perbatasan.

The Naked Traveler 4
Siapa yang masih kuliah dan pingin tetap eksis jalan-jalan? Trinity bagi-bagi tips untuk kalian di buku keempat ini. Secara garis besar, buku ini menceritakan tentang pengalaman Trinity berwisata ke Afrika dan Raja Ampat Papua. Ada juga cerita tentang, ehem, ladyboys. Terus tentang tempat wisata di Yordania dan Israel. Favorit saya adalah cerita yang berjudul "Huru-Hara ke Bandara", bacanya sampe ikut ngos-ngosan.


QUOTES
1. Ke mana pun saya pergi dan apa pun yang terjadi di negara kita, saya akan tetap menganggap Indonesia adalah yang terbaik.
2. Traveling tidak selalu enak dan nyaman. Suatu tempat tidak selalu indah dan bagus. Seperti kata pepatah: it's not the destination but the journey.
3. Worrying gets you nowhere [!!!]
4. Cerita perjalanan itu lebih heroik untuk diceritakan kepada anak-cucu, keponakan, atau siapa pun. Saat ini kita bukan pejuang perang, bukan atlet pemenang medali emas olimpiade, bukan pemimpin perusahaan besar, bukan siapa-siapa. Dengan menjelajah Indonesia dan dunia, paling tidak kita semua punya sesuatu untuk diceritakan. Bayangkan kalau kita bukan siapa-siapa dan tidak pernah kemana-mana, nanti kita mau cerita apa, coba?


REVIEW
Gaya bahasa yang dipakai Trinity untuk bercerita di dalam buku-bukunya cenderung santai, menghibur, dan kocak. Nggak hanya menulis tentang cerita liburannya saja, Trinity juga banyak menulis tentang pengetahuan-pengetahuan seputar negara yang disinggahinya. Dari buku kedua, misalnya, akhirnya saya tau kenapa sapi dianggap suci oleh umat Hindu.

Dari segi foto-foto perjalanan, di buku pertama bisa dibilang kurang. Kebanyakan memakai gambar ilustrasi padahal bisa lebih menarik lagi jika fotonya yang lebih banyak. Seiring dengan meningkatnya nomor buku, foto-foto perjalanan menjadi lebih banyak. Foto-foto perjalanan di buku 1-4 semuanya masih hitam-putih.

Dulu saya selalu terkagum-kagum dengan bule-bule dari negara maju yang masih berusia 18-23 tahun tapi sudah keliling dunia. Setelah membaca buku-buku TNT, paradigma saya terhadap para bule negara maju tadi berubah total. Mereka jadi B aja, hahaha. Jadi punya pikiran "ah wajar kan paspornya paspor US (misalkan), gampang lah kemana-mana nggak ribet visa" lol.

Yup Trinity berhasil mengunjungi banyak negara di dunia dengan paspor Indonesia dengan segala keterbatasan cakupan negara bebas visa. Inspiratif banget kan.

Tamat baca keempat buku, saya putuskan bahwa buku ketiga adalah yang paling seru. Tapi bukan berarti tiga buku lainnya nggak menarik lho.


*

January 3, 2017

Sealemon's December Doodle Challenge

cr: sealemon

Last month I did again doodle challenge by Jennifer Bates (owner of @sealemon). Just like October Doodle Challenge, I drew 31 prompts. The theme of December Doodle Challenge was winter and holiday.

December was not a holiday month for us, Indonesians. December might be the busiest month of the year. Because of that, I had to struggle here and there during drawing process. But finally I completed the prompts.


In case you can't read the prompts in the photo, here I write them:
1. Lights
2. Snowflake
3. Quilt
4. Sprinkles
5. Bauble
6. Candy Cane
7. Pine Tree
8. Plaid
9. Gingerbread
10. Snow Globe
11. Gift Bow
12. Poinsettia
13. Eggnog
14. Favorite Holiday Movie
15. Holly
16. Ugly Sweater
17. Maple
18. Pine Cone
19. Snowman
20. Garland
21. Cocoa
22. Reindeer
23. Wreath
24. Candles
25. Gift
26. Log
27. Frost
28. Peppermint
29. Scarf
30. Dove
31. Confetti

This is mine:



Mag's drawing is still the best so far:

cr: mags.creates


My favorite is this one, drew by Bobby:

cr: bobbyd47

He is a father. It proofs that we are never too old for drawing and having fun with our hobby.

*