February 29, 2016

Novel 'In A Blue Moon' (Review Saya)



Identitas Buku
Judul: In A Blue Moon
Penulis: Ilana Tan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: VI, Juni 2015
Tebal: 320 hal.

Sinopsis
Sophie Wilson mengalami hari-hari yang berat di tahun pertama SMA-nya. Ini semua karena ulah Lucas Ford. Anak laki-laki yang sedang berada di tahun terakhir SMA-nya itu menyelamatkan harga dirinya dengan menyakiti hati Sophie. Dia mengatakan kalau Sophie adalah anak adopsi yang tidak jelas latar belakang keluarga aslinya. Awalnya yang tahu hanya Max dan Toby, teman-teman dekat Lucas. Namun entah kenapa omongan Lucas itu tersebar ke seluruh sekolah dan merusak kehidupan SMA Sophie. Sejak saat itu Sophie membenci Lucas.

Sepuluh tahun kemudian, Lucas ditunangkan dengan Sophie oleh kedua kakek mereka. Sophie masih membenci Lucas. Lucas mati-matian berusaha mengubah pandangan Sophie tentang dirinya.

Review
Novel ini berlatar tempat di luar negeri tepatnya di kota New York, Amerika Serikat. Tokoh-tokoh yang ada digambarkan dari golongan kelas menengah atas dengan karir yang sudah mantap.

Seperti novel-novel sebelumnya, Ilana Tan selalu menciptakan tokoh-tokoh yang memiliki darah Asia. Lucas Ford memiliki ibu berkebangsaan Korea Selatan sedangkan Sophie Wilson, entah orangtua aslinya dua-duanya orang Asia atau hanya salah satu saja yang Asia, digambarkan memiliki wajah Asia dengan tubuh mungil.


Meskipun latar belakang keluarga asli Sophie kurang begitu diungkap dalam novel ini, konflik antar tokoh yang ada dibuat tidak berlarut-larut dan tidak bertumpuk-tumpuk. Satu konflik diselesaikan baru kemudian muncul konflik lainnya, sehingga nggak bikin bingung pembacanya. Saya suka banget gaya Ilana Tan dalam menyelesaikan setiap konflik dalam novel ini, dewasa sekali tanpa drama berkepanjangan. Alami, nggak lebay, nggak dipaksakan, dan nggak dibuat-buat.

Sampul novel ini, menurut saya, cantik. Bergambar toko kue 'A Piece of Cake' milik Sophie Wilson yang berhiaskan hiasan natal dengan lampu kuning syahdu yang sedang menyala. Memancarkan kehangatan di tengah turunnya salju dan dominasi warna biru sedikit-sedikit ungu di bagian atas sampul. Kesan shiny muncul dari lampu hias di toko kue 'A Piece of Cake' dan huruf O pertama dari kata 'Moon' pada judul novel, yang sebenarnya nggak sepenuhnya huruf O sih melainkan bentuk bulan sabit.

Menengok tampilan per halaman, terdapat ilustrasi tartlet bertoping strawberry, raspberry, dan blueberry di atas bab-bab dan di tepi kiri kanan kertas di atas nomor halaman.

Pesan yang dapat saya ambil setelah membaca novel ini adalah penting banget untuk saling percaya dalam sebuah hubungan. Kalau dua-duanya udah percaya satu sama lain, insyaAllah nggak akan ada galau, gundah gulana, dan cemburu berlebihan. *duileeeee* Kemudian juga bahwa setiap orang bisa berubah, bisa jadi dulu pas masih sekolah nakal dan blingsatan, eh tau-tau pas udah gede jadi sopan dan bertanggungjawab. Hembz mantannya temen gue banget.

Quote
Di dunia ini memang ada orang-orang yang tega dengan sengaja menyakiti orang lain demi menyelamatkan dirinya sendiri.

"Aku juga sedang duduk di sini, minum kopi, dan mengobrol berduaan denganmu. Itu tidak berarti aku berselingkuh." -Sophie Wilson-

"Aku hanya ingin ketika aku mengatakannya (aku mencintaimu-red), dia adalah orang pertama yang mendengarnya." -Lucas Ford-

Rate
4/5

P.S.
1. Awalnya saya nggak ada semangat untuk baca novel ini, kemudian saya nemu akun instagram Ilana Tan dan ternyata novel 'Winter in Tokyo' mau difilmkan, yang main Pamella Bowie dan Dion Wiyoko. Berangkat dari situ, biar ada semangat baca, saya membayangkan kalo Lucas Ford itu berwujud Mischa Chandrawinata dan Sophie Wilson itu berwujud Maudy Ayunda. Ajaib, saya langsung semangat baca dan selesai dalam waktu sehari semalam! XD


Iseng menghayal eh ternyata Mischa sama Maudy pernah foto bareng begini...wk (sumber)

2. Saya ngiranya 'Blue Moon' itu bulan yang berwarna biru tapi ternyata 'Blue Moon' itu nama salah satu jenis koktail. HAHAHAHA. DASAR ANAK KAMPUNG NGGAK KENAL KOKTAIL!

See you on my next post!

XO

post signature

February 22, 2016

Coban Rondo: Nggak Sekedar Air Terjun :D

Entah kenapa waktu saya kecil yang terbayang di benak saya tentang Coban Rondo adalah tempat wisata yang cuma dikunjungi sama nenek-nenek. Mungkin karena nenek-nenek di desa saya kebanyakan sudah berstatus rondo alias janda makanya terbentuk imej seperti itu terhadap Coban Rondo di benak saya.

Meskipun Coban Rondo ada di Kabupaten Malang, saya baru kemarin mengunjunginya. Hehehe. Bertolak dari Omah Kayu di Gunung Banyak Kota Batu, sekitar pukul 11.30 WIB saya dan teman saya berangkat menuju Coban Rondo. Arah menuju Coban Rondo cukup jelas karena tersedia papan penunjuk jalan. Dengan tiket seharga nggak sampai dua puluh ribu rupiah satu orang, saya memacu sepeda motor memasuki kawasan wisata Coban Rondo. Jalan untuk kendaraan bermotor sudah bagus.

Sepemahaman saya, kawasan wisata Coban Rondo dibagi jadi tiga bagian: bagian pertama area perkemahan, bagian kedua area taman dan labirin, bagian ketiga area air terjun. Saya dan teman saya menuju ke area air terjun dulu.

Air terjun Coban Rondo berasal dari sumber mata air Cemoro Dudo. Air terjun ini memiliki ketinggian 84 meter dan terletak di 1.135 meter di atas permukaan laut. Pertama kali digunakan untuk obyek wisata pada tahun 1980.




Kenapa sih namanya Coban Rondo?

Jadi legendanya begini:

Ada seorang putri bernama Dewi Anjarwati dari Gunung Kawi menikah dengan Raden Baron Kusuma dari Gunung Anjasmoro. Di usia pernikahan yang menginjak 36 hari (selapan), Dewi Anjarwati mengajak suaminya ke Gunung Anjasmoro. Mungkin niatnya honeymoon sekalian jalan-jalan di kampung halaman suami dan menjenguk mertua. Karena masih selapan, orang tua Dewi Anjarwati nggak kasih ijin mereka untuk kesana. Dewi Anjarwati dan Raden Baron Kusuma bersikeras tetap pergi dengan segala konsekuensi.

Di tengah jalan, mereka dikejutkan dengan kehadiran seorang pria antah-berantah bernama Joko Lelono. Joko Lelono terpesona dengan kecantikan Dewi Anjarwati dan berusaha merebutnya dari tangan Raden Baron Kusuma. Perkelahian pun terjadi, Raden Baron Kusuma berpesan kepada para pengawalnya untuk menyembunyikan istri tercintanya di tempat yang ada air terjunnya (air terjun = coban).

Raden Baron Kusuma dan Joko Lelono sama-sama gugur dalam perkelahian. Dengan demikian, Dewi Anjarwati menjadi seorang janda (rondo). Konon batu besar di bawah air terjun merupakan tempat duduk sang putri. Dari legenda itulah air terjunnya dinamakan Coban Rondo. *moral of the story: listen to your parents*

Sejuk, rindang, hijau, indah, rapi. Itulah deskripsi taman di sekitar air terjun. Bikin betah berlama-lama disitu. Toilet dan mushola tersedia. Urusan air bersih nggak usah ditanya, juara pokoknya. Melimpah ruah. Airnya dingin khas air sumber pegunungan.




Lanjut turun ke area labirin. Begitu masuk ke labirin berasa ikut turnamen Triwizard di Harry Potter. Bedanya akar-akar pohon labirin di Coban Rondo nggak jail, nggak ada portkey bentuk piala di pusat labirin, sama nggak ada Cedric Diggory. HAHAHAHA YAKALIK.



Waktu itu saya kesana barengan sama geng double date. Pasangan satu jadi pengarah gaya sekaligus fotografer dari atas, pasangan dua sebagai model. Posenya si cowok berlutut mencium punggung tangan si cewek di salah satu lorong labirin. *kemudian hening* *awkward*

Sekedar tips aja sih, kalo ke labirin Coban Rondo minimal bertiga aja. Biar kalo yang dua masuk labirin, yang satu jadi penunjuk jalan sekaligus fotografer dari atas. Kalo terpaksa pergi berdua ya udah sik ngintil aja rombongan yang ada penunjuk jalannya lol, sama bawa tongsis (opsional sih kalo ini, selfie dengan mengandalkan kepanjangan tangan yang nggak sepanjang tongsis juga seru kok). Tiket masuk labirin ini hanya sepuluh ribu rupiah saja.


Mau bersepeda di sekitar taman deket labirin bisa juga, sewa sepedanya sepuluh ribu rupiah untuk satu jam (seinget saya). Ada juga wahana paint ball dan panahan, tapi pas saya kesana nggak ada mas-masnya yang jaga.





Ada green house anggrek juga yang gratis untuk dikunjungi, nggak terlalu banyak emang anggrek di dalamnya tapi ya lumayan lah.







Ada juga tanaman hias baik yang berbunga maupun yang nggak berbunga dijual disana. Kalo cuma pingin foto-foto tanamannya aja boleh kok biarpun nggak beli. Saya. MUHAHAHAHAHA.

Saya kesana kan di penghujung musim kemarau tahun 2015 kemarin, nah suara serangga-serangga khas musim kemarau nyaring banget terdengar di pepohonan di dalam taman.

Bisa saya bilang kalo Coban Rondo adalah tempat healing yang asik. Enak untuk refreshing dari rutinitas sehari-hari. Medannya insyaAllah nggak bahaya selama nggak banjir. Mata dapat pemandangan segar, paru-paru dapat udara segar, pikiran ikutan segar pada akhirnya. :D


See you on my next post!

XO
post signature

February 15, 2016

Kena ZONK di Omah Kayu


Karena jalan-jalan nggak melulu berkutat dengan hal yang indah-indah.

Saya selalu terkesan dengan foto teman-teman saya waktu berkunjung ke Omah Kayu, Gunung Banyak, Batu. Difoto dari kejauhan, sedang berdiri ataupun duduk di rumah kayu, berlatar pemandangan kota Batu diselingi sedikit kabut.

Berbekal excitement itu, berangkatlah saya dan seorang teman saya ke Omah Kayu. Kondisi motor harus baik karena jalannya nanjak terus. Papan penunjuk arah banyak tersedia jadi kemungkinan nyasar kecil. Karena jadi satu dengan objek wisata paralayang maka bayarnya dua kali, pertama bayar masuk ke wisata paralayang, kedua bayar masuk ke Omah Kayu. Masing-masing lima ribu rupiah. Kalo mau main paralayang nambah lagi, tiga ratus ribuan katanya.

Sampai disana saya foto-foto dulu di area paralayang mumpung sepi belum ada kegiatan lepas landas. Hamparan kota Batu terpampang nyata di depan mata. Anginnya besar karena ya emang gitu kan biar parasut orang paralayang bisa ngembang? Terus agak panas karena sudah pukul 09.00 WIB. So far, mood masih oke dan terkendali.






Kemudian menuju ke tujuan utama: rumah kayu. Duh nggak sabar banget rasanya mau ngalay. Begitu sampai di depan pintu masuk area rumah kayu, terpasang kertas bertuliskan: FULL BOOKED, BUKA JAM 11.00.

Krik krik.

Pingin marah tapi ke siapa, masak ke yang booking kan nanti dimarahin balik orang mereka udah bayar.

Pingin teriak tapi takut disangka kesurupan.

Pingin biasa aja tapi nggak bisa.

Duh.

Yasudah mau nggak mau nunggu sampe pukul 11.00. Biar mood nggak makin berantakan, saya jalan-jalan di sekitar pepohonan pinus, sesekali duduk, terus selfie. Jalan-jalan lagi agak naik sedikit, sesekali duduk, terus selfie. Udah gitu terus sampe capek dan bosen dan banyak anak SD main di situ.






Singkat cerita Omah Kayu-nya akhirnya dibuka untuk umum. Udah banyak yang masuk ternyata. Ngantri di belakang geng hits kekinian. Wah bakal lama nih nunggu mereka selfie. Ya padahal udah dijadwal maksimal enam menit di atas rumah kayu. Saya aja yang kadung sensi.

*lirik anak-anak SD di rumah kayu sebelah*

Buset! Ada kali dua belas anak naik semua ke rumah kayu. Padahal kapasitas rumah kayunya hanya untuk empat orang (atau enam ya, lupa). Anak-anak ini pemberani sekali rupanya. Saya ngeri lihat satu rumah kayu diisi banyak anak. Posisi rumah kayunya tinggi banget kalo dari dasar tanah.

Nah ini yang "ngusirnya" cepet. Hehehe. Maaf ya adik-adik, kalian sudah lebih dari enam menit sih mainnya.

Begitu naik, menikmati pemandangan dulu sebentar, foto-foto, udah selesai. Tiga menitan aja. Sudah hilang selera terhadap rumah kayu. Jadi kesannya cuma "ooo begini ternyata Omah Kayu itu, ooo". *kabutnya udah ilang, udah siang* *nggak bisa minta difotoin dari jauh karena banyak yang antri*




Cus ke Coban Rondo. Minggu depan ya ceritanya! Bye~~~

XO
post signature

February 1, 2016

Kerja Nggak Sesuai Jurusan

Waktu lulus SMA dulu saya nggak kepikiran sama sekali untuk kuliah jurusan pertanian. Yang ada saya malah daftar kuliah di pendidikan guru SD menuruti kemauan ibu saya, tapi nggak ketrima. Kemudian ikut SNMPTN ambil jurusan biologi sama pertanian. Alasannya karena nilai pelajaran biologi paling bagus dan saya mencintai(?) tanaman. Ketrimanya di jurusan pertanian.

Nggak nyangka kalo kuliah pertanian itu ternyata susah. T_____T Karena ternyata fotosintesis nggak sesederhana air + karbondioksida + cahaya matahari = glukosa + oksigen. Karena ternyata gajah juga bisa jadi hama tanaman dalam kondisi tertentu. Karena ternyata jenis tanah itu nggak hanya tanah abang dan tanah kusir. Hehehe kok ngelantur.

Banyak orang yang bilang ngapain kuliah pertanian orang cuma nyangkulin tanah doang, mending kuliah hukum atau ekonomi lebih menjamin masa depan. Sedih hatiku mendengarnya. Rasanya pingin ngeramasin mereka pake pupuk kandang ayam.

Saya terus meyakinkan diri kalo nggak ada ilmu yang sia-sia.


Setelah lulus kuliah, tantangan berikutnya adalah cari kerja. Well sebagai lulusan segar (fresh graduate) tentunya idealis dong harus dapet kerja yang sesuai jurusan. Sayangnya lulusan pertanian yang dibutuhkan kebanyakan laki-laki dan di luar pulau Jawa. T_____T Apalah aku perempuan yang nggak boleh kerja di luar kota sama ortu tercinta. T_____T

Lagi-lagi harus meyakinkan diri sendiri, yakin kalo rezeki Allah bukan hanya di perkebunan sawit dan balai pertanian luar kota dan luar pulau, rezeki Allah tersebar di berbagai sudut muka bumi termasuk di dalam kota sendiri.

Dapet kerja yang pertama: ngurus tagihan pembelian di sebuah pabrik furnitur. Resign.

Jadi pengangguran lagi. Hidup dalam drama dan air mata karena stres ditolak sana sini. Sempet nekat ngelamar kerja di luar kota tapi kalo ortu nggak kasih restu ya gagal. Yasudah ikhlas saja.

Dapet kerja yang kedua: administrator di sebuah jurnal ilmiah pertanian. Ngurus administrasinya. Nggak sesuai jurusan dong karena yang sesuai jurusan itu yang kerjanya jadi peneliti di balai pertanian, dosen di fakultas pertanian, atau asisten kebun di perkebunan sawit. Tapi alhamdullilah krasan sampe sekarang.

Temen-temen yang kerjanya nggak sesuai jurusan, lo nggak sendirian bro sis, yuk mari merapat kita pelukan sama-sama. :p

cr: BABY LION

Banyak teman-teman saya sesama sarjana pertanian yang kerja nggak sesuai jurusan, kerja di bank salah satunya. Sodara saya yang sarjana pendidikan kerjanya malah ngurus pajak. Selama itu halal dan bikin kita senang ya jalani dan syukuri saja. :D

Selamat pagi! Selamat bekerja!

post signature