May 14, 2022

Cerita Libur Lebaran


Hello! Hello from me yang masih malas-malasan pasca liburan. Saking malasnya sampai bolos nulis blog dua minggu, padahal irl udah baca tiga buku buat JanexLiaRC dan udah nonton film Doctor Strange. *lebay*

Anyway, postingan kali ini nggak akan membahas tentang buku atau film. Saya hanya mau cerita-cerita yang ringan aja tentang liburan kemarin. So, let's get it~

Idk kapan terakhir ngerasain senang yang bener-bener senang menyambut Lebaran, kayaknya waktu masih sekolah deh. Habis itu udah kayak yang emmm...biasa aja. Ya seneng sih maksudnya, cuman ya biasa aja gitu lho senengnya. Alhamdulillah tahun ini bisa ngerasain lagi senang yang benar-benar senang. Yay!

Seperti yang sudah menjadi kebiasaan tiap Lebaran, keluarga saya mengunjungi beberapa sanak keluarga yang sama-sama tinggal di satu kota. Momen ini saya manfaatkan untuk berkeliling di sekitar rumah mereka untuk mencari objek-objek foto yang menarik. Kebanyakan sih bunga-bunga hehehe because I like flowers. Ngambil foto-fotonya itu buat mengisi waktu menunggu pintu dibukain, pas lagi nemenin ponakan yang kabur ketika orangtuanya lagi ngobrol sama pemilik rumah, atau emang lagi pingin jalan-jalan di luar rumah orang.














Lebaran kemarin hari apa ya kok lupa? *ngecek kalender* Oh hari Senin tanggal 2 Mei. Dari tanggal itu sampai tanggal 6 isinya silaturahmi, tanggal 7 pergi ke Pantai Selatan tapi ended up putar balik karena macet cet cet, terus tanggal 8 akhirnya ke Pantai Utara yang lalu lintasnya jauh lebih lancar.

Tahun ini puji syukur alhamdulillah pandemi udah nggak separah dua tahun lalu ya, jadi bisa pergi-pergi lagi dengan lumayan damai tanpa rasa was-was yang berlebih. Pantai Utara yang dipilih oleh keluarga saya untuk dikunjungi adalah Pantai Pasir Putih di Situbondo. Cukup mainstream karena bapak saya yang memutuskan wkwkwk. Saya pribadi udah nggak lagi ambis untuk pergi-pergi ke tempat-tempat wisata yang memancarkan aura my trip my adventure karena hidup ini sudah merupakan adventure itu sendiri. /pret

Niat banget my father nyetir PP demi membuat cucu keduanya yang masih balita bisa melihat pantai secara langsung. 😂 Maklum ya gaez dia gedenya di masa pandemi jadi jarang diajak liburan. Paling banter ke Taman Safari Prigen, yang mana dia seneng banget lihat hewan-hewan yang ada di sana.

Dulu itu saya pernah gambar-gambar sama ponakan saya itu, terus saya ceritanya menggambar pantai. Terus dia kayak bingung gitu lho pantai itu apa HAHAHAHAHAHA. KASIAN. Maka dari itu, liburan ke pantai menjadi prioritas. Bener aja begitu sampai di sana dia seneng banget main pasir dan nyebur ke laut. Sampai beli satu set mainan sekop, kaleng, dkk.

Setelah itu dia masih begitu semangat sekali waktu diajak naik perahu layar. Waktu itu yang naik perahu hanya saya, kedua ortu, ponakan pertama, dan ponakan kedua. Ibunya ponakan nggak mau ikut karena takut katanya.

Perahu berisi enam orang (termasuk pengemudinya) dengan lancar meluncur di atas ombak. Tbh ini adalah kali pertama saya naik perahu layar di laut hehehe. Excited banget karena berasa jadi Jack Sparrow. /g

Perahunya berjalan dengan memanfaatkan angin, tidak dengan didayung dan tidak pula dengan kekuatan mesin. Keren sih yang bikin perahunya. Bisa dengan presisi menentukan ukuran layar, badan perahu, dan dua penyeimbang di kanan kirinya agar perahu bisa tetap berlayar tanpa terbalik. Ilmunya dapat dari mana coba.

Anyway, naik perahunya nggak pakai jaket pelampung. Polosan gitu aja beb. Agak ngeri-ngeri sedap.

Ponakan saya yang balita emang innocent banget waktu ngelihat pelampung bulat penanda batas aman pertama, dia nyeletuk: "Wah ada yang pakai helm!". Lalu sama ibuk saya dikasih tahu kalau itu pelampung. 😂

Perahu terus melaju hingga sampai di pelampung kotak. Tanda batas aman kedua sekaligus terakhir. Tapi nggak ada tanda-tanda perahunya diputer. Ombak makin gede dan membuat ibuk saya ngomong ke pengemudinya untuk putar balik.

Angin terasa bertiup makin kencang. Paling kencang sejak lepas landas. Langitnya mulai mendung. Saya melihat ke sekeliling, kok nggak ada perahu layar lain? Untungnya daratan masih kelihatan. Lalu tiba-tiba terdengar bunyi "KRAK!".

...

Layar perahunya patah pemirsa. Dan itu posisinya masih beberapa meter setelah putar balik dari batas aman terakhir. :")

Pengemudinya langsung bilang "Mboten nopo-nopo, mboten nopo-nopo" biar penumpangnya nggak ketakutan. Ibuk saya di belakang udah solawatan nggak putus-putus. Ponakan saya yang pertama katanya ikutan solawatan juga tapi nggak kenceng. Bapak saya juga kayaknya ikutan dan nggak keras juga suaranya. Saya juga solawatan dalam hati. Meanwhile, si anak balita ngoceh ini-itu dengan santai tapi nggak ada yang nanggepin. Tegang beb. Lalu dia dengan entengnya bertanya, "Apakah kita akan tenggelam?". :)))

Jujur pada waktu itu yang saya khawatirkan adalah...handphone. YHA GIMANA YHA KITA SEMUA PADA BAWA HP, kalau kena air laut kan langsung rusak. Mana ponsel sekarang isinya nggak hanya nomer kontak. Bisa dibilang hampir semua kebutuhan masa kini bisa dilakukan dengan mudah melalui telepon genggam. Bukan begitu sobat Milenial dan Gen-Z sekalian?

Perjalanan menuju tepi pantai rasanya kayak lamaaa banget ya Allah. Awalnya saya nggak terlalu tegang karena belum tau bentukan layarnya kayak apa. Begitu noleh ke sisi kanan...subhanallah itu layar sudah basah kuyup tergolek di air laut Pantura.

Kayu penyeimbang di sisi kiri udah keangkat agak tinggi, nggak lagi maksimal menyentuh permukaan air. Saya refleks miring ke sisi kiri, menekan badan perahu ke sisi tersebut. Nggak tau deh ngaruh apa enggak pokoknya pinginnya cepet sampai ke bibir pantai.

Alhamdulillahirobbilalamin akhirnya sampai juga di tepian. Bapak-bapak yang nyewain perahu lain langsung pada menghampiri perahu kami untuk menolong kami turun. Ponakan saya yang balita bahkan langsung digendong sama salah seorang bapak-bapaknya. What a thrilling experience!


[INTERMEZZO] Di video kelihatan terumbu karangnya banyak yang putih huhuhu. 😭

Setelah sampai di daratan, Bapak saya ngomong untung aja layarnya patah pas udah putar balik. Misalnya patahnya pas belum putar balik, wah...nggak tau lagi deh bakal kayak gimana. Bisa terbawa ombak sampai Kalimantan kayaknya. /GAK

Saya waktu itu mikirnya ada empat orang yang bisa berenang (saya, bapak, ibuk, dan pengemudi perahu). Jadi, amit-amit, misalnya perahunya sampai terbalik masih ada yang bisa megangin dua ponakan yang belum bisa berenang. Lha kok ternyata ibuk saya nggak bisa berenang tibaknya. :" Yoweslah syukur alhamdulillah masih diberi keselamatan.

Ibuk saya bilang, waktu di atas perahu itu pikirannya udah jauh kemana-mana. Sampai mikir gimana kalau ada ikan besar jika perahunya terbalik. Saya sendiri nggak tau apakah ada ikan hiu di Pantai Utara, mungkin ada sih ya hehehe. Saya taunya hanya ombak Pantai Utara jauh lebih tenang daripada Pantai Selatan karena Pantai Utara Jawa nggak meghadap langsung ke Samudera Hindia. Udah itu aja, nggak mikir sampai ikan hiu. 😅

Phew.

Ya begitulah pemirsa cerita liburan saya. Libur Lebaran kemarin kamu tamasya ke mana?

(((tamasya)))

Sampai jumpa di postingan selanjutnya. Bye-bye!


*
Endah April
Endah April

Hello! I write about K-Pop, traveling, books, movies, and life. Please enjoy my blog, thank you! Contact me: happinessanddelight[at]gmail[dot]com

1 comment:

  1. Apaqah Kak Endah adalah diriku dari multiverse lain? Kok kita merasakan hal yang sama yaitu masih merasa hawa liburan jadi semangat menulis di blog masih drop #plakkk

    Baca cerita Kak Endah, aku ngakak banget dong 😭. Astagaa, aku nggak sopan banget ya tertawa di atas penderitaan orang *minta dijejelin cabe mulutnya yak* tapi gimana, Kak Endah ceritainnya lucu banget 😭. Mana keponakan Kakak polos bangetttt, "apakah kita akan tenggelam?" Punchline banget astaga dekkk 😭 nggak, nggak tenggelam, kita mau main ke istana atlantis, dek 😭.

    Asli, lihat penampakan perahunya, serem ya yorobun 😂. Kok Kakak berani naik nggak pakai pelampung? Wkwk. Kalau aku, langsung ngacir sih walaupun bisa berenang, tapi aku takut karena ada anak kecil + mikir kalau ada ikan besar lewat nanti gimana 🤣, aku cuma bisa renang gaya kodok doang, pasti ikannya akan bisa kejar aku. Rip.
    Naik perahu kayak gitu bikin mual nggak sih, Kak? Kelihatannya bikin mual 😂.

    Puji syukur bisa balik ke daratan dengan selamat 😭. Jadi semenjak layar patah, dorong balik ke arah pantainya gimana caranya Kak? Pakai dayung? Atau tetep ngandelin layarnya aja?

    ReplyDelete

Halo! Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan komentar. Komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu.