November 30, 2021

From Family Drama, Zombie Film, to Romantic Comedy


Beberapa waktu yang lalu, saya nonton tujuh film yang genrenya macam-macam. Ada yang drama keluarga, zombie, sampai komedi romantis. Tujuh film tersebut saya review singkat di postingan hari ini. Selamat membaca~


Ali dan Ratu Ratu Queens (2021)
Nonton ini gara-gara Kak Eya, wkwk tulisannya powerful banget padahal sebelumnya saya masih ogah-ogahan nonton walaupun di timeline udah rame banget yang ngomongin ini. 😁 Filmnya bagus. Awalnya saya kira tokohnya bakalan fancy semua, ternyata ya membumi dan realistis juga.

Film ini bercerita tentang seorang anak laki-laki bernama Ali yang nekad dan bertekad mencari ibunya di New York. Ibunya ini sudah meninggalkannya sejak kecil, ibunya punya mimpi yang harus dikejar sampai ke New York. Bener-bener ini film mainin emosi banget, belum setengah jam udah nangis aja saya nontonnya. πŸ™‚

Walaupun banyak aspek yang disederhanakan di film ini, seperti ribetnya mengurus visa USA dan bagaimana cara menembus kampus di sana, film ini tetap konsisten dengan poin yang ingin disampaikan, yaitu Ali yang mencari ibunya. Ali ini bener-bener khas gen Z sih saya lihat-lihat berdasarkan pengamatan. Cara dia menjawab pertanyaan orang tuh kayak enteng dan yaudah jujur aja ngapain menyembunyikan sesuatu. Akting Iqbaal Ramadhan menjadi Ali ini bagus, saya sampai lupa dia pernah jadi personil boyband cilik.

Sisi komedi juga banyak ditampilkan di dalam film ini. Apalagi kalau adegannya sedang menampilkan empat tante asal Indonesia yang mengayomi Ali di New York. Mereka adalah tante Party (Nirina Zubir), tante Ance (Tika Panggabean), tante Chinta (Happy Salma), dan tante Biyah (Asri Welas). Mereka berempat ini tante-tante kocak dengan karakter yang berbeda-beda.

Terus ada lagi budenya Ali yang diperankan oleh Cut Mini. Haduuuh sumpah ngakak sama kelakuan budenya Ali ini. Bener-bener khas ibu-ibu Indonesia. πŸ˜‚ Belum lagi anaknya yang diperankan sama Bayu Skak, wah...ibu dan anak ini bikin ketawa pokoknya. Jadi ngerti kenapa Kak Eya dulu ngetwit pingin mereka berdua dibuatin film sendiri. πŸ˜‚


Surat dari Praha (2016)
Banjir air mata nontonnyaaaaah. Sedih banget para mahasiswa era Orde Lama yang menuntut ilmu di negara-negara Eropa Timur akhirnya stateless karena ada intrik politik di Indonesia. Tahun 1965 para mahasiswa yang kuliah itu disuruh memilih untuk mengakui Orde Baru atau tidak. Kalau nggak mau mengakui maka kewarganegaraan mereka dicabut.

Film ini menceritakan seorang perempuan muda bernama Laras (diperankan oleh Julie Estelle) yang pergi ke Praha untuk mendapatkan tanda tangan penerima kotak peninggalan ibunya. Laras harus mendapatkan tanda tangan orang tersebut agar rumah warisan ibunya bisa dia miliki.

Orang yang harus menandatangani tanda terima itu adalah pria berumur yang namanya Mahdi Srijaya. Jaya adalah seorang eksil yang tinggal seorang diri di kota Praha, Ceko. Jaya adalah seseorang yang memegang teguh prinsip yang sudah dia ambil di masa lalu, orangnya konsisten sehingga terkesan keras kepala. Nggak mudah bagi Laras untuk mendapatkan tanda tangan Jaya.

Laras dan Jaya masing-masing membawa luka hati dari masa lalu. Mereka berdua nggak jarang terlibat dalam pertengkaran karena beda generasi dan belum memahami latar belakang satu sama lain.

Jaya bekerja sebagai janitor ruang orkestra. Asli banjir air mata banget saya nontonnya ya Allah. Seandainya sarjana nuklir ini kembali ke tanah air dan tanah air nggak ada konflik, nggak kebayang sekarang Indonesia jadi seperti apa majunya. Miris banget asli. Udahlah kalau kena kisah hidup para eksil, saya nggak bisa nggak nangis.

Mereka terpisah dari keluarga, nggak bisa pulang kalau ada keluarganya yang meninggal di tanah kelahirannya. Di negara yang dia tinggali juga nggak mudah dapat kewarganegaraan. 😭 Para eksil ini semacam korban keegoisan elit politik. Memang ada yang komunis, tapi lebih banyak yang nasionalis. Gila deh sampai pusing nontonnya karena sambil nangis berlelehan air mata. Nangis deres banget. 😭


World War Z (2013)
Seingat saya, ini adalah film Brad Pitt pertama yang saya tonton hehehe. Filmnya tentang zombie. Ceritanya di Amerika Serikat lagi ada wabah zombie. Brad Pitt berperan sebagai tokoh utama bernama Gerry Lane. Gerry memiliki seorang istri dan dua orang anak perempuan. Ketika manusia-manusia di sekitarnya berubah menjadi zombie, keluarga Gerry berjuang keras untuk bertahan hidup.

Untungnya Gerry ini bukan orang sembarangan, dia ini mantan agen PBB. Jadi dia masih mendapat privilege untuk dijemput helikopter dan tinggal di markas PBB di tengah laut. Tinggalnya nggak gratis, Gerry harus mau menyelidiki tentang virus penyebab manusia menjadi zombie ke Korea Selatan.

Ketika misi di Korea Selatan nggak berjalan dengan mulus, dia terbang ke Israel. Di Israel ini dia mendapat sedikit petunjuk tentang perilaku zombie-zombie yang tidak menyerang orang-orang tertentu. Zombie-zombie ini hanya melewati orang-orang tersebut. Fyi, ceritanya di film ini keadaan dunia sudah jarang ditemukan tempat yang aman dari serbuan para zombie.

Singkat cerita, Gerry terbang lagi ke markas WHO di Cardiff, Wales, Inggris. Dia berhipotesis bahwa beberapa manusia yang tidak diserang zombie tadi adalah manusia-manusia yang sedang mengidap suatu penyakit, sehingga zombie-zombie tidak menyerangnya karena dinilai bukan inang yang sehat.

Film ini banyak action-nya daripada kengerian dikejar-kejar zombie. From my point of view, 'World War Z' secara tidak langsung mengkampanyekan untuk jangan anti vaksin ketika ada program vaksinasi yang dianjurkan oleh ahli. Hal ini untuk kebaikan diri sendiri dan orang lain.


The Con-heartist (2020)
Film Thailand yang tokoh utamanya adalah Baifern yang cantik jelita pemeran Nam di film 'A Little Thing Called Love'~~~πŸ₯°. Udah bias banget sama Baifern wkwkwkwk.

Ceritanya Baifern ini berperan sebagai tokoh bernama Ina. Pegawai perusahaan kredit yang dulunya seorang banker. Hidupnya terlilit hutang setelah ditipu oleh pacar brondongnya yang bernama Petch. Ina ini karakternya digambarkan sebagai cewek yang nggak bisa bohong untuk nipu dan nggak tegaan.

Suatu siang Ina mendapat telepon yang mengatakan dia akan mendapat uang sekian ratus ribu Bath tapi ternyata telepon itu adalah penipuan. Dia bertemu dengan penipunya yang bernama Tower. Selanjutnya, Ina dan Tower merencanakan menipu Petch agar Ina mendapatkan lagi uangnya untuk bayar hutang sekaligus memberi Petch pelajaran agar nggak gitu lagi ke cewek.

Udah ya jangan dipikirin masuk akal atau enggak karena yaaa...namanya juga rom-com Thailand. Udah pasti too good to be true dan peluang terjadi di dunia nyata itu nol koma nol nol nol sekian persen. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Lanjut~

Film ini kocaknya dapet, joroknya dapet. Ada tuh satu tokoh yang namanya Samson. Dia ini manajer hotel berbintang yang gigi depannya berjarak, jadinya kalau ngomong S tuh nyiprat-nyiprat ludahnya. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ Sumpah jijik banget. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ Terus ya pemirsa ternyataaa...Samson ini diperankan oleh aktor Thailand bernama Chantavit Dhanasevi yang dulu jadi tokoh utama di film 'Hello Stranger'!!! Pantesan kok kayak pernah lihat. Gila ini orang bisa juga jadi tokoh nggak banget kayak gini. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Saya menikmati film ini, sempet dibikin geregetan juga menjelang akhir film. Pinter juga nipu penonton mentang-mentang temanya tentang tipu-menipu.


Sweet and Sour (2011)
Setelah kapan waktu nonton film Krystal yang judulnya 'More than Family', kali ini saya nonton film dia lainnya yang berjudul 'Sweet and Sour'. Kirain dia jadi pemeran utama, ternyata enggak. Pemeran utama wanitanya dimainkan oleh aktris Chae Soobin. Chae Soobin memerankan tokoh bernama Da-eun, seorang perawat pegawai kontrak di sebuah rumah sakit.

Film ini dibagi menjadi tiga segmen, yaitu New Sneakers, Old Sneakers, dan Two Sneakers. Segmen New Sneakers dibuka dengan seorang pasien laki-laki yang sedang menderita Hepatitis B dan dirawat di rumah sakit tempat Da-eun bekerja. Pasien laki-laki ini kondisi fisiknya digambarkan gemuk. Da-eun sangat perhatian dengan pasien ini, sampai-sampai Da-eun memberikan nama panggilan khusus untuknya, yaitu Hyuk Oppa.

Beberapa hari setelah Hyuk Oppa ini keluar dari rumah sakit, Da-eun mengundangnya ke tempatnya tinggal. Da-eun kemudian mengajak Hyuk Oppa untuk liburan ke Pulau Jeju. Ketika bertemu di bandara, Da-eun memberikan sepatu couple ke Hyuk Oppa dan Hyuk Oppa memakainya sambil berlari-lari dan bertekad untuk diet menguruskan badan. Hal ini dia lakukan agar suatu hari nanti dia dan Da-eun bisa memakai baju couple.

Cerita beralih ke segmen Old Sneakers. Adegan di segmen ini dibuka dengan seorang laki-laki bertubuh atletis yang sedang olahraga lari. Transisi dari segmen pertama ke segmen kedua di film ini terjadi dengan mulus. Laki-laki yang sedang olahraga lari tersebut adalah Hyuk Oppa, kekasih Da-eun. Hyuk Oppa dan Da-eun tinggal bersama di tempat Da-eun, sampai akhirnya Hyuk Oppa dipindahtugaskan ke kantor yang ada di Seoul.

Semua berjalan dengan mulus pada awalnya, sampai akhirnya Hyuk Oppa semakin sibuk dan perjalanan pulang-pergi Incheon-Seoul menjadi berat untuk dilakukan. Hyuk Oppa dan Da-eun akhirnya LDR, dan dari sinilah masalah dalam hubungan mereka mulai muncul satu per satu.

Salah satu konflik yang paling fatal adalah kejadian Hyuk Oppa salah panggil nama. Dia memanggil Da-eun dengan nama rekan kerjanya, yaitu Han Boyoung (tokohnya diperankan oleh Krystal). Kalau menurut saya setelah nonton film ini tiga kali, Han Boyoung tidak bisa disebut sebagai pelakor karena dia nggak tau kalau Hyuk Oppa punya pacar. Hyuk Oppa sendiri nggak pernah bilang kalau dia punya pacar.

Nonton film ini untuk pertama kali akan beda rasanya dengan ketika nonton untuk yang kedua dan ketiga kali hahahaha. Saya pribadi suka dengan film ini karena Jang Kiyong yang memerankan Hyuk Oppa cakep banget. >.< Teman saya bilang kalau saya terkiyong-kiyong karena nonton 'Sweet and Sour' lebih dari sekali. πŸ˜‚


The Kissing Booth 3 (2021)
Gimana ya nyeritainnya, hahaha belum-belum udah bingung aja. Jadi begitu selesai nonton sekuel terakhir 'The Kissing Booth', saya merasa kalau film ketiga ini FTV banget. Masih bagus film pertama dan keduanya.

Cerita filmnya sebagian besar menayangkan Elle, Lee, Noah, dan Rachel liburan musim panas di beach house keluarga Flynn. Rumah tersebut akan dijual oleh orangtua Lee dan Noah karena biaya operasional yang makin tinggi. Elle, Lee, dan Noah nggak setuju sebenernya tapi mereka nggak bisa mencegah niat kuat Mr. dan Mrs. Flynn. Makanya mereka menghabiskan seluruh libur musim panas mereka di sana.

Ngapain aja di rumah tersebut? Elle dan Lee melakukan kegiatan-kegiatan di bucket list yang mereka buat waktu masih kecil dulu. Mereka ingin melakukan semua itu sebelum masuk ke kampus masing-masing. Ceritanya kedua sahabat ini keterima di universitas yang berbeda. Padahal dalam aturan konyol masa kecil mereka, keduanya harus kuliah di kampus yang sama, no matter what (they need to revise their rules at this point, seriously).

Bicara tentang kuliah di mana, Elle sesungguhnya juga masih bingung mau kuliah di mana. Ada dua kampus yang menerimanya, salah satunya adalah Harvard University. Kalau dia setuju kuliah di Harvard, maka dia akan jadi satu kampus dengan Noah, pacarnya. Padahal dia belum tahu mau ambil jurusan apa di kampus itu. Kalau lihat film 'The Kissing Booth 2' tuh kayak mudah gitu masuk Harvard wkwkwkwk.

Gitu lah pokoknya, buat saya filmnya nggak terlalu berkesan karena paling lebay dibanding dua film sebelumnya huhuhu. Saya kira di film ini cerita tentang Marco akan dikulik lebih banyak, ternyata ya enggak juga. Yakali, orang konsentrasinya ke Elle dan Noah terus. Ending film ini menggambarkan beberapa tahun kemudian setelah mereka bertiga sama-sama lulus kuliah. Jadi udah pada kerja semua.


Hello, My Name is Doris (2015)
Film ini genrenya romantic comedy. Ceritanya ada seorang wanita berusia 60 tahunan yang jatuh cinta kepada rekan kerjanya yang berusia 30 tahunan. Wanita tersebut bernama Doris, sedangkan laki-laki yang dia sukai bernama John. John ganteng banget memang heheh.

Waktu melihat aksi-aksi Doris yang ingin menunjukkan rasa cintanya ke John ini, saya langsung teringat ke remaja-remaja yang lagi jatuh cinta. Mau usia berapa pun seorang perempuan, kalau sedang jatuh cinta ya tetep aja logikanya ditaruh belakangan. Coba tonton video penjelasan dari dr. Ryu Hasan tentang otak perempuan ketika jatuh cinta ini.

Film 'Hello, My Name is Doris' ini nggak hanya menceritakan tentang Doris yang jatuh cinta, tapi juga tentang penerimaan diri terhadap keadaan yang berubah untuk kemudian move on dari pengalaman pahit yang sudah terjadi. Saya sendiri sangat menikmati nonton film ini.


Dari tujuh film yang sudah saya tonton itu, film mana yang sudah kamu tonton? Share your opinion. πŸ˜‰


*
Endah April
Endah April

Hello! I write about K-Pop, traveling, books, movies, and life. Please enjoy my blog, thank you! Contact me: happinessanddelight[at]gmail[dot]com

14 comments:

  1. The Con-Heartist itu sukses bikin aku ngakak puas banget, Ndah! Mana waktu itu nontonnya pas post partum, ngakaknya agak ditahan takut jahitan operasi perih, wkwkwkwk. Cuma kocak banget memang ceritanya, walau di kejadian nyata yang namanya penipu udah pasti aku maki-maki, mana ada jadinya sweet begini, bzzzz.

    The Kissing Booth, duh sorry to say semua sekuelnya lebay banget, cenderung nggak masuk di akal. Sekuel pertama aku kesel banget sama si Noah yang tukang pukul, playboy, masa tiba-tiba bisa naksir Elle. Terus sahabatnya tuh terlalu posesif nggak, sih? Apa-apa harus atas nama persahabatan. Yang ketiga lebih capek lagi aku nontonnya, wkwkwk. Aku kira bakal getting better, tapi ya gitu deh 🀣 *dosa lu jen misuh-misuh di lapak orang* Tapi yang kedua paling better, sih. Soalnya aku Tim Marco! 🀣

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahahahahaha aku makin tertarik nonton tuh juga karena Ci Jane ngomongin film itu. Aslinya tau dari twitter, terus lupa, terus inget lagi pas Ci Jane bahasπŸ˜†

      AKU TIM MARCO JUGA! HIH SEBEL DIA BENERAN DISIA-SIAKANπŸ™‚πŸ™‚πŸ™‚ Film pertama aku masih termehek-mehek sih, film kedua belok jadi Tim Marco, film ketiga...hadeuhπŸ™ƒ iya Ci Jane, si Lee makin posesif dan kayak...apa ya, kalau di dunia nyata jadi sosok yang masih kekanak-kanakan dengan aturan yang mereka buat sendiri😩

      Delete
  2. Endah aku juga banjir air mata nonton Surat Dari Praha, sumpah lihat Jaya yang padahal latar belakang pendidikannya bagus, malah berakhir jadi janitor di negeri orang, sumpah mikir orang-orang pemerintahan kok ya tega banget nyuruh mahasiswa yang lagi belajar di luar negri untuk milih hal kayak gitu. Kasihan banget :((

    Ngingetin ke novel Pulangnya Leila S. Chudori cerita tentang para eksil yang ga bisa pulang karena kewarganegaraannya dihapus. Sampai-sampai baru bisa pulang ke Indonesia setelah meninggal. Endah kayaknya bakal cocok deh baca buku ini.

    3 film pertama yang Endah sebutin aku udah nonton, selebihnya belum wkwkwk yang My Name is Doris kayaknya menarik niih

    ReplyDelete
    Replies
    1. IYA KAN KAAAK😭😭😭 masih suka bayangin gimana majunya Indonesia seandainya orang-orang berpendidikan itu mengabdikan diri di sini😭😭😭 benci banget sama orang-orang yang egois karena kepentingan pribadi dan golongan kayak gitu😭

      Wah boleh juga, selama ini yang masuk reading list baru Laut Bercerita. Makasih Kak Eya rekomendasinya!

      Ayooo tonton My Name is Doris! Rasa trenyuh dan ketawa cepet banget gantinya pas nontonπŸ˜†

      Delete
  3. Aku baru nonton The Kissing Booth 3 dari semua list di atas πŸ™ˆ. Berhubung aku nggak nonton yang ke-2 dan langsung loncat yang ke-3, jadi aku nggak bisa bandingin wkwk. Tapi menurutku juga sama seperti Kak Endah, yang ke-3 ini kurang berkesan, aku juga kurang puas sama endingnya. Entah kenapa aku merasa karakter-karakter di sini jadi nyebelin semua 🀣 *sekian misuh-misuh kali ini*

    ReplyDelete
    Replies
    1. HAHAHAHAHAHAHA can't disagree! Kayak maksa dicepetin gitu endingnya, kzl. Syutingnya udah selesai dari lama juga sih kabarnya, setahun sebelum resmi tayang kayaknya.

      Delete
  4. saya sangat suka sekali dengan film yang ada unsur komedinya, salam kenal kawan

    ReplyDelete
    Replies
    1. The Conheartist bisa dicoba kalau gitu, isinya komedi. Salam kenal juga mas Ibrahim!

      Delete
  5. Banyak banget rekomendasi filmnya, genrenya macam-macam pula. Top deh. Tertarik nonton beberapa yang di review. Baru nonton Ali and the Ratu-ratu Queens.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih mas Rian, ayo coba tonton lainnya juga kalau ada waktuπŸ‘

      Delete
  6. Ya ampun list~nya banyak, mba Endah. Tapi masa dari semua list, saya baru lihat Ali dan Ratu-Ratu Queens saja πŸ™ˆ Wk. Itu pun penasaran karena diracuni sohibuls sayah. Memang sepertinya saya butuh racun-racun seperti tulisan mba Endah di atas 🀣

    Ini saja sekarang jadi penasaran sama Surat Dari Praha dan Sweet and Sour setelah baca reviews yang mba Endah tuliskan 😍 Wk. Terima kasih rekomendasinya, mbaaaaa 🧑

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwkwkwkwk aku dapat racun dari twitter terus aku bawa ke blog, Kak Eno dapat racun dari sini dan dari sohibuls Kak Eno. In conclusion: kita keracunan bareng🀣

      Sama-sama Kak Eno, selamat nonton Surat dari Praha (siapin tisu yang banyak) dan Sweet and Sour❤ penasaran ini nanti Jang Kiyong masuk di peringkat nomor berapa di list Kak Eno🀣

      Delete
  7. Dari semua list yang ada, aku sudah nonton surat dari praha dan world war Z. Surat dari praha sangat bagus dan berdasarkan kisah nyata. Bbc indonesia pernah melakukan liputan tentang ini. Setuju banget, mereka terbuang karena keegoisan elite politik.
    Aktingnya tio pakusadewo dan julia estelle sangat bagus di film ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya ampun aku pernah nonton mas Vay yang liputan itu😭 nangis deres nontonnya, mana beliau-beliaunya udah sepuh semua😭😭😭 betul, chemistry keduanya dapet, jadi walaupun ada adegan yang mereka tidur di kursi, aku nontonnya nggak mikir yang aneh-aneh.

      Btw World War Z udah nggak ada di Netflix ya, kepikiran nonton di last minute sebelum filmnya hilang wkwkwk.

      Delete

Halo! Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan komentar. Komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu.