December 1, 2016

[Malaysia Part 1] Akhirnya Terbang~~


Saya dicap sebagai anak rumahan. Bahkan banyak yang bilang saya rumahannya kebacut. Di saat teman-teman sebaya udah ngerasain mudik naik kereta atau bus umum di usia belasan tahun, saya baru merasakan naik kereta pertama kali di usia dua puluh sekian tahun.

Tersinggung nggak dibilang anak rumahan kebacut? Nggak karena memang kenyataannya demikian WAKAKAKAKAK. Gapapa rumahan kebacut yang penting rezeki ngalir terus ehehehehe.

Ngomongin soal rezeki, saya mau berbagi pengalaman ke Malaysia bulan November kemarin. Saya mencoba mengorek memori dan menuliskannya menjadi beberapa postingan. Harus dibuat spesial karena ini kali pertama ke luar negeri. Dan maklumin kalau misalnya nanti terkesan norak. XD


Persiapan utama yang saya lakukan sebelum naik pesawat: packing! Heboh browsing benda-benda apa saja yang boleh dibawa ke kabin pesawat, terutama benda cair. Tiket pesawat pulang-pergi, tiket hotel, paspor, dan uang ringgit saya cek berkali-kali biar nggak tertinggal. Benda-benda lain seperti pakaian nggak usah dibahas disini lah ya, pokoknya total berat tas punggung nggak lebih dari 7 kg (tau dong saya naik maskapai apa wkwk). OH IYA! SAYA BAWA PERMEN KARET!

Begitu masuk bandara Juanda, saya nggak sempat celingak-celinguk karena waktu menuju keberangkatan sudah mepet. Untungnya sudah check in online jadi tinggal ke bagian customs dan imigrasi. Saya cuma ber-ooh dalam hati, "ooh begini toh cek barang di bandara, ooh begini toh interogasi petugas imigrasi".

Singkat cerita saya sudah di dalam pesawat. Naik pesawat pertama kali rasanya..........deg-degan! Deg-degan kuatir telinga sakit, deg-degan mabuk udara, deg-degan eksaytid karena sebentar lagi ada di negeri orang, campur aduk jadi satu! Pesawat maju kerasa, pesawat mundur kerasa, pesawat belok kerasa, pesawat take off kerasa, pesawat kena turbulensi kerasa, pesawat bergemeretak kayak ada dementor lewat kerasa, pesawat landing kerasa, pesawat berhenti pun kerasa (hahaha yaiya neng!). Secara umum rasanya kayak naik roller coaster tapi roller coaster-nya melaju lambat (padahal kecepatan pesawat rata-rata 300 km/jam!).


Deg-degan mabuk udara hanya menjadi sebuah deg-degan belaka. Saya mensugesti diri sendiri supaya rileks dan tetap sehat. Ya masa di darat dan laut nggak pernah mabuk, di udara malah mabuk?? Kan nggak asik bre. Deg-degan telinga sakit saya antisipasi dengan mengunyah permen karet. Alhamdulillah ampuh!

Saya penasaran alasan kenapa telinga sakit saat take off maupun landing. Saya kutip dari buku 'Mengapa?' oleh Crispin Boyer, alasannya begini:


Ke dalam kabin pesawat dipompakan udara untuk meniru ketinggian sekitar 7000 kaki (2 km), bukan permukaan laut, dan pesawat butuh kira-kira 20 menit sebelum mencapai kecepatan terbang dan setelan tekanan interiornya. Ini berarti penumpang biasanya mengalami penurunan tekanan udara secara bertahap pada awal penerbangan dan peningkatan bertahap pada akhir penerbangan, selama bandara tujuan terletak di ketinggian di bawah 2 km dari permukaan laut. Perubahan tekanan secara bertahap itu serupa dengan yang kamu rasakan ketika berkendara menaiki ataupun menuruni gunung atau menaiki lift yang naik atau turun di gedung tinggi dengan cepat. 
Di belakang gendang telinga terdapat ruang-ruang kecil terisi udara yang terhubung dengan tekakmu melalui saluran-saluran kecil. Ketika tekanan udara di luar gendang telingamu berubah, udara bergerak melalui saluran-saluran kecil guna menyamakan tekanan di dalam telingamu. Gerakan udara itu menciptakan sensasi pengang. Terkadang, bila kamu sedang pilek atau menderita alergi yang menyebabkan ruang-ruang kosong di kepalamu tersumbat, telingamu tidak akan menyamakan tekanan dengan cukup cepat, sehingga telingamu lebih parah pengangnya dan terasa nyeri hebat sewaktu udara menekan gendang telingamu.

Back to the story. Setelah pesawat berhenti sempurna, saatnya keluar dan menginjakkan kaki di negeri Jiran.

Assalamualaikum Kuala Lumpur! Assalamualaikum Malaysia!

to be continued...

post signature

2 comments: