October 7, 2022

#JanexLiaRC: Hidup Apa Adanya



Akhirnya datang juga kesempatan untuk membaca buku self-help terakhir yang ada di rak. Buku berjudul 'Hidup Apa Adanya' yang ditulis oleh penulis asal Korea bernama Kim Suhyun ini saya beli di bulan September 2021. Itu artinya buku ini nganggur setahun lebih. 😅

Buku aslinya sendiri terbit di tahun 2016. Edisi terjemahan bahasa Indonesianya dialihbahasakan oleh Presilia Prihastuti dan diterbitkan oleh TransMedia Pustaka. Buku 'Hidup Apa Adanya' yang saya punya adalah cetakan kedelapan, 2021. Buku ini memiliki ketebalan xii + 296 halaman.

Bukunya tentang apa? Buku 'Hidup Apa Adanya' berisi tentang esai-esai karya Kim Suhyun tentang kehidupan yang berasal dari pengalaman pribadinya. Buku ini terbagi menjadi enam bagian dan masing-masing bagian memuat esai yang isinya sesuai dengan judul bagiannya. Enam bagian tersebut dibagi berdasarkan to-do-list cara menjalani hidup yang apa adanya, tanpa memikirkan pandangan orang lain, dan tidak merasa dengki terhadap diri sendiri yang biasa-biasa saja.

Seperti tulisan-tulisan yang sudah-sudah, ketika membaca buku self-help saya akan menuliskan kutipan-kutipan favorit di blog ini. Bisa jadi antar kutipannya tidak nyambung satu sama lain. Jadi, ketika misalnya kamu tertarik dan ingin tahu konteks kutipan-kutipan tersebut, silakan baca bukunya sendiri ya.

Bagian 1: TO-DO-LIST agar bisa hidup dengan menghormati diri sendiri.
  • Orang yang harus selalu kamu hargai, tidak lain dan tidak bukan adalah dirimu sendiri. (hlm. 46)
  • Terserah kamu mau kerja keras atau belajar dengan mati-matian. Yang penting, janganlah kamu hina hidup orang lain. (hlm. 54)

Bagian 2: TO-DO-LIST agar bisa hidup sebagai diriku sendiri.
  • Hidup sebagai diri sendiri adalah belajar untuk bisa menimbang dan memutuskan sesuatu secara sendiri lewat berbagai pengalaman dan eksplorasi. (hlm. 67)
  • Tidak ada jawaban sempurna untuk hidup ini, Tapi, jika kamu berani bertanggung jawab atas segala keputusan yang dibuat maka semua keputusanmu adalah benar. (hlm. 95)

Bagian 3: TO-DO-LIST agar tidak tenggelam dalam rasa cemas.
  • Rasa cemas bukanlah sesuatu yang bisa menyisihkan sedikit rasa kesedihan pada hari esok tapi justru membuat tenagamu habis pada hari ini. - Corrie ten Boom - (hlm. 110)
  • Hidup yang kamu alami, sebenarnya lebih damai dibandingkan apa yang kamu pikirkan. (hlm. 130)
  • Di dunia ini ada banyak orang yang mengejar keuntungan dengan mempermainkan kekhawatiran kita (I'm watching you people yang suka fear mongering tentang gaji di Twitter, wkwkwk). Jika kita tidak memiliki ketetapan dalam diri maka akan mudah tergoda. Jadi buanglah jauh-jauh rasa khawatir yang selalu mengejar dirimu. Tidak perlu takut bahwa kehidupan yang kamu jalani dengan sungguh-sungguh ini tidak terlihat di mata orang lain. Tidak perlu takut tertinggal jauh dari orang-orang di lingkunganmu. ... Apa yang akan kamu lakukan untuk hidupmu? Tetapkan tujuan dan cari caranya. Jika kamu sudah menetapkan tujuan dan tahu jalan mana yang dituju maka di situlah tempatmu menemukan ketenangan. (hlm. 138)

Bagian 4: TO-DO-LIST agar bisa hidup bersama dengan lainnya.
  • Pertemanan yang baik adalah bisa merasakan kedekatan dan berbagi kasih sayang dalam jarak aman yang sudah dipahami satu sama lain. (hlm. 149)
  • Sekarang yang dibutuhkan oleh kita ada dua hal. Pertama, tidak memasang antena atau bahkan ikut campur dalam urusan hidup orang lain. ... Satunya lagi adalah tidak bersikap terlalu sensitif terhadap reaksi masyarakat. Hargai saja cara hidup dan cara berpikir masing-masing orang, lalu belajarlah untuk hidup bersama dengan baik. (hlm. 153)
  • Tidak melukai perasaan orang lain memanglah hal yang terpuji. Tapi, menjaga diri sendiri merupakan kewajiban sekaligus hak yang kita miliki. (hlm. 160)
  • Orang yang terlalu rendah menilai orang lain, justru orang rendahan. (hlm. 164)
  • Meskipun memang agak tidak mengenakkan, tetapi kita harus berani mengungkapkan apa yang kita mau, apa yang tidak diinginkan, dan juga bersikap halus tapi tegas. (hlm. 166)
  • Jika muncul suatu keretakan, lihatlah dengan baik. Apakah keretakan itu sudah menjadi suatu kehancuran yang tidak bisa lagi menghidupkan kualitas pertemananan atau cinta. Atau, hanya sebuah cacat kecil yang mengharapkan kita lebih lapang dada dan memperhatikan kedalaman dari hubungan itu sendiri. (hlm. 170)
  • Suatu hubungan pertemanan bisa berakhir kapan pun di dalam hidup ini. Jadi, kita tidak perlu menyalahkan diri sendiri atas hubungan yang sudah terputus. Apalagi sampai merasa tidak enak. Fokus saja menjadi orang baik untuk teman-teman yang ada di samping kita sekarang. Temui dan sambut mereka dengan penuh semangat. (hlm. 173)
  • Apa pun situasi yang terjadi pada dirimu, carilah hubungan pertemanan yang bisa mengerti dan menghormati dirimu. (hlm. 179)

Bagian 5: TO-DO-LIST untuk dunia yang lebih baik.
  • Yang paling penting adalah memiliki harapan yang selalu didasari dengan kenyataan. ... Jika ingin memiliki harapan maka carilah cara yang tepat. Lalu, jika kamu sudah cukup melakukan pemeriksaan terhadap cara itu maka tahanlah rasa tidak enak yang sudah menjadi kompensasinya. (hlm. 209)
  • Menurut Leo Bormans, tingkat kebahagiaan di wilayah Eropa Utara bukanlah hasil dari sistem kesejahteraan atau penghasilan yang tinggi. Melainkan dari sikap menghargai minat dan bakat yang dimiliki masng-masing, kebebasan hidup yang melimpah, dan kepercayaan yang tinggi antarsesama. (hlm. 223)

Bagian 6: TO-DO-LIST untuk kehidupan yang lebih berarti dan juga lebih baik.
  • Jika kamu tidak ingin menjalani hidup ini dengan berat, cobalah pikirkan lagi hal-hal yang bikin kamu cemas atau tidak bisa kamu buang dan bangkitkan keberanian untuk menguranginya. (hlm. 234)
  • Menjalani hidup dalam keseharian yang sama secara terus-menerus sama saja dengan mematikan kemungkinan dan keberagaman yang tidak terhingga jumlahnya dalam hidup ini dan hanya menghampakan kehidupan diri sendiri. Karena itu, cobalah untuk pergi melihat laut saat akhir pekan, mengarungi jalan lain saat pulang kerja, bertemu orang-orang baru, dan lakukan hal-hal yang belum pernah kamu coba lakukan hingga sekarang. (hlm. 237)
  • Sebisa mungkin sedari kecil menemukan cara dan permainan yang bisa membuat kita gembira tanpa harus mengeluarkan uang. (hlm. 241)
  • Karena itu, ketika memilih sebaiknya mempertimbangkan 'apa yang harus kita relakan' daripada 'apa yang bisa kita dapatkan'. ... Pilihan mana yang bisa kamu pertahankan? Sampai mana batasmu untuk bisa bertahan. Hal itulah yang harus kamu cari jawabannya. Jika kita hanya memikirkan kerugian, hidup ini hanya akan dipenuhi dengan penyesalan. Tidak ada orang yang mau mendengarkan tangis rengek dirimu yang tidak bisa bertahan pada hal apa pun. (hlm. 247)
  • Yang diperlukan adalah sikap pengertian terhadap diri kita dan menghargai segala pilihan yang kita ambil untuk meneruskan hidup ini. (hlm. 256)

Buku 'Hidup Apa Adanya' tidak melulu berisi tulisan. Di buku ini terdapat cukup banyak ilustrasi yang mendukung esai-esainya. Ilustrasinya digambar sediri oleh Kim Suhyun. Ilustrasi-ilustrasi yang ada di buku ini yang menjadi favorit saya adalah sebagai berikut:
 
Penting tapi sering lupa :(


Overthinking be like...

Hmmm...kayak terjadi di mana gitu ya hmmm familiar banget, wkwkwk.

Strongly radiates "don't give up" vibe💪


Buku ini dicetak full color, jadi bacanya nggak bosen karena nggak hitam dan putih aja isinya. Sayangnya di hampir setengah bagian awal buku, cetakan garisnya agak dobel. Nggak melenceng jauh dan nggak membuat susah dibaca sih, tapi kelihatan gitu bedanya dengan cetakan yang tepat sesuai garis di setengah bagian terakhirnya.

Sebagai pembaca yang merasa mentalnya sudah tidak se-turbulence dulu, ternyata saya masih bisa menikmati membaca buku ini. Padahal awalnya skeptis, hehehe. ✌


*
Endah April
Endah April

Hello! I write about K-Pop, traveling, books, movies, and life. Please enjoy my blog, thank you! Contact me: happinessanddelight[at]gmail[dot]com

14 comments:

  1. "Bayuuu iniii lohh yang namanya review buku 😂 bukan malah kebingungan sendiri mau nulis apa..." OMG 🙉 *kemudian sembunyi di pojokan*

    Gils banget Mba Endah... Reviewnya super lengkap dan keren bingits.. isinya detail dan nggak bosen juga bacanya.. 👏👏 prokprok

    Mba Endah semisal baca buku yg mau dibikin review. Nulis catatan summary di note juga kah??

    ReplyDelete
    Replies
    1. HAHAHAHA gapapa mas Bay, habis baca buku terus nulis curhatan di blog tentang bukunya juga it's ok. xD

      Thank you~ biar bisa langsung ke blog kalau pingin ingat-ingat lagi ada isi bukunya, wkwk.

      Enggak, aku kalau lagi baca buku dan nemu bagian yang menarik langsung aku tandain pakai highlighter. Terus nanti dibaca lagi part-part itu dan ditulis di blog sekalian dengan perasaan pas baca dan tampilan fisik bukunya mas Bay.

      Delete
  2. Ini Mas Bayu sama Mba Endah janjian kah baca bukunya?
    Eh, tapi udah beda bulan, yaa wkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwkwk duluan mas Bayu, mba Hicha, bacanya. Pas baca reviewnya mas Bayu aku kaget, lhoh baca ini juga hahaha. Tapi aku sengaja nunggu pas tema warna ungu keluar. xD

      Delete
  3. Endah, tulisanmu bagus. Enak dibaca dam ngalir aja. Mungkin gara-gara relate juga kali. Jadi banyak merasa sperti itu...wkwkwkk

    Sepertinya memang lagi butuh buku² macam gini. Biasa, kadang merasa skeptis dengan apa yg sedang dijalani..hiiks

    Oyaa, tahun 2020 lalu pas lagi ngezoom breng. Ada yg tanya, apa sih harapanmu untuk ke depannya. Aku cuma jawab, "smoga bisa menjalani kehidupan dengan sebaik-baiknya." Tahun 2022 udah mau kelar, tapi tnyata belum bisa menjalani hidup dengan sebaik-baiknya..huufft --"

    Makasih endah untuk tulisannya :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. SEMANGAT MAS VAY!!! It's okay it's okay kalau masih belum berjalan dengan sebaik-baiknya, yang penting tetap semangat dan berterima kasih ke diri sendiri dulu karena sudah berusaha~

      Sip, sip. Makasih juga sudah ke sini!!

      Delete
  4. "Buku ini dicetak full colors..." IYAH JUGAK. Aku nggak ngeh soal ini, waktu lihat sekuelnya di gramed pengen beli, kemudian mengurungkan niat begitu liat harganya ((:

    Ah seneng nihh kalau kutipannya dijabarin per bab kayak gini, karena emang buku ini sangat quotable, sih. Menurutku ini cocok banget dibaca sama fresh graduate atau anak kuliahan yang bentar lagi masuk dunia kerja, karena banyak bekal yang bisa diambil dari buku ini.

    Nice review as always, Ndah! <3

    ReplyDelete
    Replies
    1. HAHAHA aku ngehnya pas tengah-tengah baca...kok ada yang beda ya? Ternyata full color semua. xD

      Eh iyaaa Ciii buku ini ada sekuelnya ya ternyata. Belum ngintip sih harganya berapa hwhw. Belinya nunggu nanti animonya surut kali ya biar harganya agak turun dikit. :p

      Betuuul betul, apalagi zaman sekarang kayaknya ada aja gitu yang bikin cemas atau nggak percaya diri.

      Thank you Ci Jane. <3 <3

      Delete
    2. Ikutan nimbrung >.<

      Untuk sequelnya dipegang oleh penerbit Elex Media yang terjemahannya lebih enak dibaca menurutku wkwk. Kalau untuk harga memang agak lebih mahal kayaknya karena buku sequelnya lebih agak tebal 😂. Tunggu harbolnas aja buat beli, Kakk, biasa Gramed kan diskon besar-besaran waktu harbolnas wkwk

      Delete
    3. Oh beda penerbit, Li. Lebih tebel berarti 300-an ya. Oke-oke thank you infonya, Lia. ❤

      Delete
  5. udah dibaca dari beberapa bulan lalu tapi masih belum kelar semua hahaha. Astagahhh
    tapi emang seru baca buku ini pas lagi nyantai, terus ilustrasinya juga bikin mata seger gitu, ga melulu tulisan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mba Ainun, lebih masuk isinya ke kepala dan sanubari (halah) kalau dibacanya pelan-pelan.

      Delete
  6. Aku udh lama ga baca buku Self help gini. Masih keseringan novel 🤣. Kadang suka mikir, bakal bagus ga Yaa, bakal bosen ga dibaca , dan ntah apa lagi overthinking nya 😅. Tapi kalo bukunya berwarna dan ada gambarnya giniiiii, aku sukaaa 😄😁. Apalagi gambarnya juga bagus, ga asal doang. Jadi lebih mudah nangkep dengan isinya mba 😄. Buku fiksi aku ga masalah ga ada gambar. Tapi kalo non fiksi aku LBH suka kalo ada gambar pendukungnya 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Buku self-help gini kalo sepengalamanku enak dibaca pas lagi overthinking mba Fan. Kalau jiwa lagi baik-baik saja rasanya nggak terlalu ngena, hehehe. Biar gak bosen juga gak sih kalau buku non-fiksi dikasih gambar. Kalo fiksi gambarnya udah ada di imajinasi kita sendiri. :D

      Delete

Halo! Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan komentar. Komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu.