December 23, 2016

Istana Air Tamansari Yogyakarta


Tamansari adalah salah satu bangunan bersejarah Keraton Yogyakarta, didirikan pada tahun 1758 M oleh Sultan Hamengku Buwono I. Tamansari dibangun sebagai lambang kejayaan Raja Mataram. Nggak heran kalau arsitektur bangunannya indah sekali.

Kalau lagi berkunjung ke Yogyakarta jangan lupa mampir ke Tamansari. Tiket masuknya lima ribu rupiah per orang dan sudah termasuk brosur keterangan Tamansari. Saran saya pake jasa guide biarpun sudah ada brosur karena brosur hanya menjelaskan "kulit-kulitnya" saja. Guide di Tamansari adalah abdi dalem keraton yang tidak mematok harga untuk jasanya jadi ya bayarnya seikhlas kita.


Kalau nggak pake jasa guide gimana? Nggak apa-apa sih tapi masa iya jauh-jauh ke Tamansari cuma buat foto-foto doang? Yakin nggak mau tau lebih dalam tentang Tamansari? :p

Tetap kekeuh nggak mau pake jasa guide supaya fokus foto-foto? Yaudah baca postingan ini aja karena saya mau nulis tentang Tamansari sesuai dengan penjelasan guide saya dulu. Hehehe.

Jelasinnya pakai foto ya biar singkat, padat, dan (semoga) jelas. :D

Tur Tamansari dimulai setelah melewati pintu masuk ini. Ini sebenarnya pintu belakang Tamansari, pintu depannya nanti ada di foto selanjutnya. Begitu melewati pintu ini ada guide-guide yang menawarkan jasa kepada pengunjung.

Empat buah bangunan segi empat ini menyabut para pengunjung begitu masuk. Ada empat buah karena Sultan pada jaman dahulu memiliki empat orang istri. 

Di sekitar empat bangunan tadi ada pohon kepel (Stelechocarpus burahol) yang kalau buahnya dimakan dipercaya bisa membuat aroma tubuh menjadi wangi. Buah kepel yang sudah masak berukuran satu kepalan tangan (nggak dijelasin sih kepalan tangan siapa).

Masuk ke area kolam.....bagus banget huhuhu. Kolam ini adalah tempat mandi para selir Sultan. Sultan jaman dulu memiliki 40 selir! Sebelum nyemplung ke kolam, selir-selir ini ganti baju di ruangan di ujung kolam.

Interior ruang ganti baju para selir Sultan:

Sudut pandang dari ruang ganti baju selir, bangunan bertingkat yang ada dua jendelanya di ujung itu adalah tempat Sultan berada ketika selir-selir sedang mandi dan berenang~~~

Di keempat sudut area kolam terdapat "sangkar" tempat batu aromaterapi yang wangi jika dibakar, penampakannya seperti ini:

Lanjut naik ke tempat Sultan melihat ke arah kolam renang melalui tangga kayu yang lumayan curam ini:

Kolam renang selir penampakannya seperti ini jika dilihat dari ruangan Sultan. Satu kolam berisi 20 orang selir. Sultan akan melemparkan bunga ke dalam kolam dan selir yang terkena lemparan bunga tersebut..........akan mandi dengan Sultan. Selir yang sudah pernah mandi dengan Sultan, tidak boleh memakai bunga di telinga ketika berenang di kolam ini. Biar adil lah ya sama selir yang belum pernah, hehehe.

Selir yang terpilih akan mandi berdua dengan Sultan di kolam renang ini:

Kolam renang yang sama dari sudut pandang yang berbeda:

Lanjut sauna sehabis mandi~~~ Btw itu pintunya memang rendah supaya orang yang masuk membungkuk. Tur kolam dan sauna ala Sultan selesai.

Tadi saya bilang ada pintu depan Tamansari, foto di bawah inilah pintu depan Tamansari. Pahatan di gapuranya bagus dan detil banget. Sayangnya warga sekitar banyak yang jualan di sini. :( Itu malah ada anak kecil sepedaan disana.

Dari pintu depan, pengunjung diajak ke pintu di sebelah kiri. Di dekat pintu ini ada rumah "cileduk" alias cinta lewat dukun. Katanya bisa melet orang.

Lanjut ke Gerbang Carik, dulunya berfungsi sebagai tempat pencatatan orang-orang yang masuk ke Tamansari.

Berikutnya ke Gedong Madaran, apa fungsi dari tempat ini? 

Ternyata Gedong Madaran ini adalah dapur untuk memasak makanan Sultan dan keluarganya.

Di depan Gedong Madaran ada sebuah sumur. Kata guide saya dulu, pengunjung bisa memohon permohonan kepada Yang Mahakuasa dan melemparkan koin ke dalam sumur untuk mengetahui apakah permohonannya akan dikabulkan atau tidak. Pengunjung berdiri membelakangi sumur dan melemparkan koinnya dari jarak tiga langkah dari bibir sumur. Ada tiga kali kesempatan.
Saya sih nggak nyoba, hehehe.

Sumurnya dangkal dan sudah ada beberapa koin di dalamnya.

Lanjut ke kamar tidur Sultan dan keluarganya. Katanya dulu tempat ini banyak makhluk halusnya tapi sekarang nggak ada karena banyak manusia yang berkunjung kesana.

Tempat tidur Sultan:

Kalau Sultan kedinginan, lubang-lubang di bawah tempat tidurnya diisi kayu dan dibakar agar tempat tidurnya hangat.

Kalau yang ini tempat tidur empat istri Sultan. Ternyata Sultan tidurnya sendirian ya, hehehe. Keempat istri Sultan ini hidup rukun satu sama lain. Sultan akan bersiul kalau ingin memanggil salah satu istrinya.


Di depan kamar tidur istri-istri Sultan ada tempat cermin yang besar ini, sudah hancur kena gempa sayangnya. Jaman dulu istri Sultan akan berdandan sebelum tidur supaya kalau sewaktu-waktu dipanggil Sultan, masih tetap cantik. Hmmm...istri-istri Sultan nggak takut berjerawat ya dandan sebelum bobok.

Tempat tidur anak-anak Sultan, hancur juga kena gempa:

Jendela kamar anak Sultan, bagus ya :)

Buah ini saya nggak tau dan nggak tanya namanya apa yang jelas fungsinya dulu dijadikan lipstik.

Perjalanan berlanjut ke masjid milik Sultan. Pahatan-pahatan pintunya ituuuuu bagusssss huhuhu.

Lorong di dalam masjid Sultan:

Tempat shalat wanita. Sebenarnya yang menjadi highlight utama masjid ini adalah tangga-tangga di tengah masjid. Kalau dilihat dari bawah hanya ada tiga tangga begitu dilihat dari atas tangganya jadi lima! Nah lo! Saya sempat mengambil foto dari tangga-tangga itu sih tapi nggak ada yang artistik dan nggak ada yang layak di pajang di blog, wkwkwkwk.

Tur sepenuhnya selesai, tertarik untuk ke Tamansari? Kalau kesana saya nitip pertanyaan apa arti dari relief-relief yang terpahat di pintu depan Tamansari dan pintu masuk masjid Sultan ya, hohoho.

See you on my next post!

XO

4 comments:

  1. Belum pernah masuk, cuma lintas aja :D parah ya :D wkwk kuliah di Ygy ngapain aja ya :D ha ha ha...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwkwk kak dewi terlalu cinta di kampus kayaknya :p

      Delete
  2. Pernah ke sini tahun 2006, bareng keluarga yang domisili Yogja. Tapi tanpa guide. Hihihi...
    Baca tulisan ini serasa ikut tour lagi.
    Good job!

    ReplyDelete