April 28, 2017

I Miss My Childhood Arts

janvonholleben.com

Perasaan miss ini muncul setelah saya nonton video dari Jennifer Bates (sealemon) yang berjudul 'My Embarrassing '90s Childhood Art'. Just in case you don't know who is Jennifer Bates, doski adalah Youtuber asal US yang bergerak di bidang art and craft. Orangnya kreatif abis. Kalau ceki-ceki ke channel Youtubenya, kita akan menemukan banyak sekali tutorial DIY menggambar dan menjilid buku.

Ternyata Jennifer memang suka menggambar sedari kecil. Masa kecilnya dihabiskan di tahun 90an. Disney dan Garfield banyak ngasih pengaruh ke gambar-gambarnya waktu itu. Agak lucu sih dia ngasih judul videonya 'My Embarrassing '90s Childhood Art'. Padahal gambar-gambar yang dia hasilkan menurut saya sudah bagus, sangat lebih bagus daripada gambar yang saya hasilkan ketika saya masih kanak-kanak. ๐Ÿ˜‚ Berbakat dan amatir memang beda jauh. ๐Ÿ˜‚

Melihat Jennifer (sekarang 32 tahun) yang menyimpan baik-baik karya seni masa kecilnya (dari umur 6 tahunan) di sebuah kotak (atas saran pacar papanya), saya jadi kepikiran karya seni masa kecil saya sendiri.

Ada dimana ya sekarang?

Sebenarnya semua benda-benda tersebut tersimpan rapi di sebuah laci, berhubung dulu pindah rumah maka semua jadi kacau balau. Pindah rumahnya waktu saya umur 12 tahun dan nggak punya pikiran sama sekali untuk mengarsip karya seni.

Waktu SMP juga gitu, nggak ada pikiran sama sekali untuk menyimpan karya seni dari tugas mata pelajaran Kertakes.

(((KERTAKES)))

Kerajinan Tangan dan Kesenian.

Samar-samar di ingatan kalau pas kelas satu, saya dapat tugas membuat spektrum warna dari cat air. Jadi ceritanya warna primer itu ada tiga: merah, biru, dan kuning. Warna-warna primer tersebut saling berpadu membentuk warna sekunder: ungu (campuran merah-biru), hijau (campuran biru-kuning), dan jingga (campuran merah-kuning). Di antara warna-warna sekunder itu ada warna-warna lagi, entah apa istilahnya saya lupa mungkin warna tersier. Jadinya ada hijau kebiruan, hijau kekuningan, jingga kemerahan, jingga kekuningan, ungu kebiruan, dan ungu kemerahan.

Dapat tugas lagi menggambar gelap terang. Menggambar objek apapun di sekolah dengan metode gelap terang. Ada bayangannya gitu. Guess what saya dapat nilai berapa? 65! LOL padahal udah pede banget dapat bagus eh kebanting. Kata gurunya gambar saya plain nggak ada gelap terangnya.

Apa yang terjadi dengan dua karya seni jaman kelas satu SMP itu? HILANG *kerrrayyyyyy*

Ada lagi tugas membuat kolase pas kelas tiga. Menggambar objek kemudian menempelinya dengan kertas majalah warna-warni yang digunting kecil-kecil. Kali ini dapat nilai 95 dan karya tersebut nggak kembali ke saya. Sama gurunya diambil untuk dijadikan contoh ke kelas-kelas lain. Waktu itu bangga dong saya dan berpikir pasti nanti saya jadi terkenal. LOL. Gila tenar amaaat padahal ujung-ujungnya juga geunyang nugu di SMP.

Melukis dengan cat minyak juga pernah, kelas tiga SMP juga. Saya melukis tiga ekor ikan koi yang gendut-gendut. Memggambar kakak tua dengan metode pointilis, membuat vignet bencana alam, membuat sablon dengan tinta cina, whoaaa banyak banget tugas karya seni dulu! Semuanya H.I.L.A.N.G huft.

Setelah nonton Jennifer yang mengarsip karya seni dari kecil, saya jadi agak menyesal kenapa saya nggak mengarsip juga. Huhuhu. Untungnya karya seni jaman SMA masih ada sih jadi lumayanlah ada simpanan kenangan.


Pesan dari Jennifer: berapa pun umur Anda, simpan terus gambar-gambar yang sudah Anda hasilkan di dalam sebuah kotak supaya terus memotivasi Anda untuk selalu berkembang. Such a nice words!

Bener juga sih, dengan menyimpan karya seni berarti juga menyimpan kenangan. Ada kesan tersendiri gitu nggak sih kalau tiba-tiba lihat benda dari masa lalu? Hahaha. Asal jangan baper aja pingin kembali ke masa lalu. EAAA. *ngomong sama kaca*

Bye~~~

2 comments:

  1. Ah aku juga baper waktu lihat video ini. Huhuhu gambar-gambar waktu masih kecil juga ilang semua huhuhu yang SMP sama SMA sih masih ada tapi cuma beberapa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makanya itu๐Ÿ˜ญ mulai sekarang mari rajin mengarsip!

      Delete