November 25, 2015

Buku 'Bulan Terbelah di Langit Amerika' (Review Saya)


Identitas Buku
Judul: Bulan Terbelah di Langit Amerika
Penulis: Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: VI, November 2014
Jumlah halaman: 344

Blurb
Amerika dan Islam. Sejak 11 September 2001, hubungan keduanya berubah.

Semua orang berbondong-bondong membenturkan mereka. Mengakibatkan banyak korban berjatuhan; saling curiga, saling tuding, dan menyudutkan banyak pihak.

Ini adalah kisah perjalanan spiritual di balik malapetaka yang mengguncang kemanusiaan. Kisah yang diminta rembulan kepada Tuhan. Kisah yang disaksikan bulan dan menginginkan Tuhan membelah dirinya sekali lagi sebagai keajaiban.

Namun, bulan punya pendirian. Ini untuk terakhir kalinya. Selanjutnya, jika ia bersujud kepada Tuhan agar dibelah lagi, itu bukan untuk keajaiban, melainkan agar dirinya berhenti menyaksikan pertikaian antarmanusia di dunia.

***

"Apa? Wajah Nabi Muhammad junjunganku terpahat di atas gedung ini? Apa-apaan ini! Penghinaan besar!" seruku pada Julia. Mataku hampir berair menatap patung di dinding Supreme Court atau Mahkamah Agung Amerika Serikat, tempat para pengadil dan terhukum di titik puncak negeri ini.

"Jangan emosi. Tak bisakah kau berpikir lebih jauh, Hanum? Bahwa negeri ini telah dengan sadar mengakui Muhammad sebagai patron keadilannya. Bahwa Islam dan Amerika memiliki tautan sejarah panjang tentang arti perjuangan hidup dan keadilan bagi sesama.

"Akulah buktinya, Hanum."

***

Kisah petualangan Hanum dan Rangga dalam 99 Cahaya di Langit Eropa berlanjut hingga Amerika. Kini mereka diberi dua misi berbeda. Namun, Tuhan menggariskan mereka untuk menceritakan kisah yang dimohonkan rembulan. Lebih daripada sekadar misi. Tugas mereka kali ini akan menyatukan belahan bulan yang terpisah. Tugas menyerukan bahwa tanpa Islam, dunia akan haus kedamaian.

Review
Sebagai fans 99 Cahaya di Langit Eropa, saya nggak mau ketinggalan karya Hanum-Rangga bertualang di negara adikuasa, hehe. Pilihan saya nggak salah karena meskipun "hanya" berlatar tempat di New York dan Washington DC, nilai spiritual yang dibawakan Hanum-Rangga di buku ini tidak kalah dengan buku 99 Cahaya di Langit Eropa sebelumnya yang mengambil latar tempat di Wina (Austria), Paris (Perancis), Cordoba-Grenada (Spanyol), dan Istanbul (Turki). Fakta-fakta tentang kejayaan Islam di bumi Amerika pada masa lalu terungkap melalui buku ini, membuktikan kalo Amerika Serikat dan Islam memiliki tautan yang erat jauh sebelum hubungan keduanya merenggang pasca tragedi 11 September empat belas tahun silam.

Buku ini nggak mengungkap siapa dalang sebenarnya di balik kejadian Black Tuesday karena memang terlalu banyak konspirasi dan saling tuding antar pihak yang menyelimuti aksi tak berperikemanusiaan itu. Buku ini lebih bercerita tentang kehidupan beberapa orang setelah kehilangan orang tercinta pada hari nahas itu, baik dari pihak muslim maupun non-muslim. Kisah dari kedua belah pihak yang menyentuh hati itu digunakan Hanum sebagai bahan menulis artikel "Akankah Dunia Lebih Baik Tanpa Islam?", tugas dari atasannya.

Hanum-Rangga mengemas cerita di buku ini dengan bahasa yang apik, jadi saya nggak bosen baca bab demi bab sampe selesai. Apalagi penggambaran perjuangan manusia-manusia di dalam gedung World Trade Center yang akan runtuh, nyata banget kayak kejadiannya tuh bener-bener ada di depan mata. Terenyuh sekali hati ini. T_____T

Kekurangan buku ini adalah nggak ada pembatas bukunya. -_____- Udah itu aja. It's not a big deal sih.

Rate
5/5

No comments:

Post a Comment