January 6, 2026

Mengenal Jilbab Lebih Jauh di 'Esok Jilbab Kita Dirayakan'


Aku jadi bernostalgia ketika membaca tulisan Kalis Mardiasih di buku Esok Jilbab Kita Dirayakan. Contoh, ketika masih SMP, siswi berjilbab bisa dihitung dengan satu tangan, itu pun jarinya masih sisa. 

Waktu aku SD dulu, malah nggak ada guru perempuan dan siswa perempuan yang berjilbab di sekolahku. Waktu SMP, hanya satu atau maksimal tiga teman perempuan yang berjilbab di kelas. Waktu SMA, sudah mulai banyak yang berjilbab, termasuk aku. Ada juga teman-teman yang berjilbab hanya di hari yang ada jadwal mata pelajaran Agama Islam atau Tilawatil Quran. Waktu kuliah, makin banyak lagi yang berjilbab baik dari kalangan dosen maupun mahasiswa. 

Tentang model jilbabnya, waktu masih TK aku diwajibkan memakai jilbab pada hari Kamis kalau nggak salah ingat. Jilbabnya dulu hanya berupa kupluk yang ada tambahan kain berkaret di bagian belakang supaya bisa menyimpan rambut. Leher tidak ada penutupnya sama sekali. 

Pernah ketika mengaji di masa SD akhir sampai SMP, aku memakai jilbab yang hanya kusampirkan di kepala. Kainnya segiempat dan dilipat menjadi segitiga. Leher kelihatan. Jilbab inilah yang sering disindir oleh ustad ketika aku mengaji maupun seorang emak-emak tetangga ketika aku ikut khataman. πŸ˜…

Lucunya, beberapa tahun kemudian, anak emak-emak tersebut hamidun duluan sebelum menikah. Maksudku gini, sebaiknya Anda jadi polisi moral anak Anda dulu nggak sih sebelum jadi polisi moral jilbab anak orangπŸ˜… 

Kejadian yang aku alami itu terjadi di sekitar awal 2000-an ketika pengguna jilbab belum sebanyak sekarang. Kalau Kalis mengalaminya (ditegur emak-emak karena jilbabnya tidak menutup leher) di tahun 2023 ketika pengguna jilbab sudah menjadi mayoritas. Ada-ada aja ya emak-emak ini. πŸ˜…

Back to model jilbab. Waktu SMA dulu, tren jilbab instan merebak. Tapi aku kekeuh untuk pakai jilbab segiempat. Ketika kuliah, baru deh aku pakai jilbab instan tapi tren bergeser ke jilbab paris. 🀣 Di semester tiga, aku baru ikutan tren pakai jilbab paris. Ternyata tren bergeser lagi ke pashmina tumpuk-tumpuk warna warni. Nah, tren ini nih yang aku nggak ikutan karena...nggak bisa pakainya. πŸ˜… 

Tentang model jilbab yang demikian (pashmina tumpuk warna warni), sejarah singkatnya dibahas oleh Kalis di bab dua di dalam buku yang diterbitkan oleh Buku Mojok ini. Sebuah pengetahuan baru buatku yang dulu nggak tahu asalnya dari mana tapi tiba-tiba tren tersebut menjamur. 

Tren hijrah juga dulu merebak, biasanya teman-teman yang berhijrah ini gaya jilbabnya menjadi jilbab panjang dan lebar. Bajunya menjadi gamis panjang menyentuh tanah. Ada juga yang sampai bercadar dan tidak pernah lagi menampakkan foto diri di media sosial. 

Seiring bergulirnya tahun, dengan mengamati perempuan-perempuan berhijab di kampus, saat ini tren jilbab adalah pashmina simpel. Sudah jarang sekali terlihat ada mahasiswa dengan jilbab lebar. Gaya pakainnya pun sekarang lebih banyak celana kain lebar dan blus. 

Dulu itu ada juga tren jilbab yang fashionnya memakai atasan dan bawahan ketat. Kalau nggak salah ingat, barengan dengan tren pashmina tumpuk warna-warni nggak sih? Soalnya aku dulu juga pernah pakai celana pensil, kaos, terus pake jilbab instan pendek. 🀣 

Ya ampun kalau ingat-ingat jaman kuliah, beneran deh fashion guweh nggak banget soalnya uangnya juga cekak, bergantung dari pemberian harian ortu.πŸ˜† Sekarang sudah kerja dan alhamdulillah bisa beli jilbab yang warna dan bahannya sesuai selera. 

Jilbab termahal yang pernah aku beli harganya di atas 100k satu lembar dan itu cuma satu aja sampai sekarang nggak nambah lagi.πŸ₯Ί Bahannya emang enak sih, dipakainya nyaman, nggak geser-geser ketika rahang sedang mengunyah makanan, dan nggak perlu disetrika. Jilbab 100k aja gitu, apa kabar jilbab 300k? Ada yang pernah beli nggak? Gimana pengalaman pakainya? 

🩷🩷🩷

Dari buku cetakan kedua Juli 2025 dengan ketebalan vi + 180 halaman ini, aku jadi makin terpapar bahwa jilbab perempuan yang ada di Indonesia ini beragam banget . πŸ‘πŸ‘πŸ‘ Dan setelah membaca bab Jilbab dan Kerentanan Fisik, aku jadi harus lebih banyak belajar untuk mengerem berkomentar tentang jilbab orang lain. Ada banyak alasan yang tidak aku ketahui tentang mengapa mereka memilih model jilbab seperti itu. Buku ini mengingatkan aku untuk terus mengasah empati.

Aku selama ini membatin ketika melihat perempuan berjilbab dan berpakaian lebar naik motor. Kain yang mereka kenakan berkibar-kibar. Padahal ya harusnya aku nggak membatin apa-apa, toh mereka berkendara memakai helm dan tidak menimbulkan kecelakaan di jalan.

Lalu aku juga jadi mencari tahu kenapa jilbab sempat dilarang di era Orde Baru. Dapat satu artikel yang menurutku cara menjelaskannya jelas, yaitu artikel dari CNBC yang berjudul Kisah Jilbab di RI: Sempat Dilarang Soeharto karena Alasan Ini. Aku juga jadi tahu bahwa ada syarifah bercadar dengan pemikiran seperi Ainun Jamilah dari buku ini. Ainun Jamilah tidak konservatif.

Last but not least, dua bab terakhir buku ini cocok untuk dibaca oleh laki-laki. Jika ia nafsuan, biar bisa mikir. Jika ia sudah bisa mikir, biar bisa mengingatkan laki-laki yang tidak bisa mengontrol nafsunya. Biar nggak dikit-dikit nyalahin perempuan. Segala bilang perempuan sumber fitnah hanya dari potongan pengetahuan tanpa tafsir dan mikir lanjutan.


🩷🩷🩷








*

1 comment :

  1. waaah menarik juga bukunyaaaa... jadi pengen baca mba...

    bicara jilbab, aku memang dari thn90an, juga udh pake, karenaaaaa sekolah di aceh kan ;p... jadi mau ga mau, suka atau ga, emang wajib pakai hahahahahah.

    inget banget dulu banyak yg suka pakai jilbab mirip mukena, tapi sedada.. gampang dipakai.... cuma aku tetep lebih suka jilbab segi empat sih, lbh mudah pakenya. hany aja ga suka, krn putih.... sementara tone warna mukaku, ga cocok pakai putih, lgs kusem dekil wkwkwkwkwkw

    keluar dari aceh nih, yg aku mulai lepas pasang pakenya... skr sih kebanyakan pake... tp masih belum nolak utk lepas kalau semisal diajak berenang misalnya... krn jujur aku ga suka pake jilbab yg utk berenang itu... ga cocok aja. makanya aku blm totalitas sih pake jilbabnya.

    sempet loh aku penasaran dengan harga jilbab yg sampe 400k itu, brand BS. aku beli sih, dan ternyata memang enak dipake.. mudah dibentuk, banyak warna... makanya tiap ada ketemuan bloggers di malaysia atau Indonesia, aku pasti bawa jilbab BS utk oleh-oleh. kecuali aku tahu si blogger pakai jilbab panjang, nah itu aku pasti cari yg lain..

    cumaaaa, sekarang ini banyak jilbab yg kualitas menyamai BS, tapi harga lebih murah... so aku pun mulai beralih kesana. karena ternyata enak juga dipakai :D.. tp BS itu msh favorit utk hadiah, secara packagingnya cakep.. :D

    ReplyDelete

Halo! Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan komentar. Komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu.

Back to Top