September 26, 2017

Di Singapura


Alhamdulillah dapat kesempatan untuk mengunjungi Singapura. Durasi menginjak tanah Singapura kemarin sekitar dua malam dua hari. Tapi malam kesatu sama hari terakhir buat berangkat sama pulang, jadi waktu efektif di Singapura kira-kira sehari semalam aja.

Terbang dari Kuala Lumpur pukul setengah sepuluhan malam dan keluar dari bandara Changi Singapura hampir tengah malam. Dapat pengalaman baru lagi di pesawat pas hari sudah gelap, bagus ya ternyata lampu-lampu di daratan kalau dilihat dari udara. Sayang kamera hapenya nggak punya resolusi tinggi jadi fotonya nggak bagus dan nggak bisa dipajang di blog hahaha.

Salah satu sudut bandara KLIA, bandara ini lebih besar daripada klia2.

Kesan pertama saya untuk bandara Changi adalah "wow lantainya berkarpet!". Norak ya, maafkan. Terus ketemu taman indoor-nya tapi nggak foto disitu karena capek dan mikirnya "nanti aja pas pulang juga ketemu sama taman ini lagi". Ternyata pas pulang nggak ketemu. Zzz.

Pagi harinya dari hotel langsung cus cari Merlion Park. Wajib dikunjungi ya kan kalau ke Singapura, katanya kalau ke Singapura nggak lihat langsung patung Merlion mending balik lagi aja. Oh iya saya nginap di sebuah hotel di kawasan Chinatown. Kamarnya bersih, rapi, dan tenang (oh iya colokan listrik di Singapura sama kayak di Malaysia, bentuknya colokan tiga jadi jangan lupa bawa penghubung colokan tiga ke dua biar bisa buat nge-charge alat elektronik yang kita bawa dari Indonesia). Lokasinya deket banget sama stasiun Chinatown, tinggal nyebrang aja. Di sekitar situ juga banyak hostel-hostel.

Suasana di sekitar hotel, saya ngambil foto ini tepat di depan pintu masuk stasiun Chinatown. Bangunan-bangunan di sekitarnya antik ala Eropa.

Di stasiun Chinatown naik Downtown Line turun di Promenade terus lupa keluar di Exit mana dan ternyata salah Exit wkwkwk. Sebenarnya petunjuk arah di stasiun sudah jelas dan lengkap tapi berhubung baru pertama kali ke Singapura jadinya bingung, wajar dong ya. #caripembenaran

Lift di dalam stasiun di Singapura

Suasana di dalam MRT

Exit yang kami lewati mengarah ke sekitar Suntec and I was like WHAT?? SUNTEC?!? SEVENTEEN WILL HELD CONCERT IN SUNTEC BY THE END OF SEPTEMBER! GOD I MUST FIND THE VENUE!! Dikira Suntec seluas daun kelor. Dan yeah gagal nemu venue-nya karena tujuan awal memang Merlion Park. Masuk stasiun lagi dan akhirnya nemu Exit yang benar. *tepuk tangan*

Sempat ngambil foto ini di jembatan Suntec. Lihat deh trotoarnya bersih banget dan lebar, secara umum memang Singapura ini bersih banget nggak ada sampah di trotoar maupun di tengah jalan.

Merlion Park pagi itu rraaameeee banget. Isinya orang semua.



Tapi masih bisa kok ambil foto dengan tenang berlatar belakang gedung Marina Bay Sands Hotel dan ArtScience Museum. Esplanade Theaters on the Bay juga ada disitu, terus Singapore Flyer juga kelihatan.


Singapore Flyer (kiri), gedung ArtScience Museum (tengah), dan Marina Bay Sands Hotel (kanan).

Foto sama patung singa lautnya yang harus cepet-cepetan karena kalau lambat ya diserobot orang. Merlion Park ini gratis nggak ada tiket masuknya.

Patung Merlion (dipahat oleh Lim Nang Seng, patung hewan mitologi berkepala singa dan berbadan ikan ini sudah menjadi simbol Singapura dan penyambut pengunjung yang datang ke Singapura sejak tahun 1972), dan gedung Esplanade Theaters on the Bay (yang bentuknya setengah elips tekstur atapnya kayak kulit trenggiling).


Ada fakta unik mengenai Merlion ini yang saya dapat dari buku 'ASEAN Escape'-nya Hendra Fu. Jadi gini, dahulu Singapura adalah sebuah perkampungan nelayan bernama Temasek (dari bahasa Jawa yang berarti lautan). Menurut legenda, sekitar abad kesebelas Pangeran Nila Utama dari Kerajaan Sriwijaya menemukan pulau ini. Kala itu dia melihat penampakan seekor binatang yang menyerupai singa. Dia lalu memutuskan untuk menguasai pulau tersebut dan memberinya nama Singapura, yang berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti kota singa. Dari situlah muncul ikon singa laut atau merlion. Kepala singanya melambangkan penemuan hewan yang menyerupai singa, sedangkan tubuh ikannya melambangkan kehidupan perkampungan nelayan disana.

Puas di Merlion Park lanjut cari sarapan halal di sebuah mall yang mana agak butuh usaha nyarinya karena nggak sebanyak di Pasar Seni Kuala Lumpur. Untungnya ada kakek baik hati yang ngasih tau kalau ada satu gerai yang menjual makanan halal. Gerainya agak di pojokan gitu, sekelilingnya gerai Chinese food semua. Menunya banyak masakan Indonesianya sodara-sodara. Saya sendiri pesan nasi putih, telur ceplok, sama sayur kangkung. Harganya 2.5 SGD. Beli air mineral AQUA botol tanggung harganya 2 SGD (akibat botol air ketinggalan di hotel). Apa-apa di Singapura ini kalau dikurskan ke IDR jadinya mahal. Ya mau gimana namanya juga negara maju yang empat tahun berturut-turut menyandang gelar the most expensive city in the world (sumber).

Balik lagi ke Chinatown untuk beli oleh-oleh. Di ujung jalan Chinatown (yang ternyata gapura depannya) ada penjual es khas(?) Singapura, es yang diapit roti(?) itu lho. Saya nggak beli sih hehe. Fokus nyari baju, coklat, gantungan kunci, sama magnet kulkas. Pinter-pinter milih toko aja disini karena ada selisih harga untuk barang yang sama meskipun selisihnya (dalam SGD) nggak terlalu banyak.

Chinatown

Btw saya baru sadar di tengah-tengah perjalanan keliling Chinatown, orang yang berjilbab bisa dihitung dengan jari. Kalau di Bugis mungkin beda lagi ya, ada yang pernah nginap dan cari oleh-oleh di sekitar Bugis? Cerita dong gimana suasana disana, saya nggak sempet ke Bugis.

Chinatown

Singapura ternyata sudah mulai masuk musim hujan. Hujannya siang menjelang sore (atau pagi hari). Untungnya nggak lama dan nggak deres jadi masih aman waktu nyari makan siang. Di belakang kawasan hotel yang saya tempati ada Mosque Street. Disitu ada Masjid Jamae, nah di depannya ada restoran halal (namanya lupa).


Masjid Jamae

Menunya masakan India. Saya pesan apalagi kalau bukan nasi beriyani HAHAHAHA. Selain dasarnya emang doyan nasi beriyani, saya niat mau bandingin rasa nasi briyani Al Baik Kuala Lumpur dengan nasi beriyani kota Singapura. Nasi beriyani Singapura lebih kuat aroma bumbunya daripada di Kuala Lumpur, sama-sama enak sih menurut saya. Porsinya juga sama-sama segede gambreng.

Bedanya di restoran di Singapura yang saya kunjungi itu nggak ada menu nasi beriyani telur, adanya nasi beriyani ayam (harganya 6 SGD). Ayamnya juga enak tapiiiii (ada tapinya) mendekati tulang dagingnya jadi merah gitu. Saya kan jarang makan ayam ya, merah-merah kayak gitu tuh normal apa nggak sih?

Untuk minumnya saya pesan es Milo lagi-lagi untuk bandingin dengan es Milo di Al Baik Kuala Lumpur hehehe. Rasa coklatnya lebih kuat es Milo di Kuala Lumpur. Porsi sama-sama gede.
Habis itu istirahat sebentar di hotel sebelum lanjut ke Gardens by the Bay. Saya kesananya menjelang maghrib dan naik Grab. Udah males mikir jalur kalau naik MRT wkwkwk. Naik Grab sambil menikmati jalanan kota Singapura. Mobil nggak terlalu banyak, sepeda motor hanya lihat satu atau dua buah. Nggak nemu macet sama sekali. Rata-rata disana kalau nyetir kenceng-kenceng karena ya jalanannya longgar dan nggak ada orang yang nyebrang sembarangan. Semua tertib kalau nyebrang jalan, meskipun jalanan sepi nggak ada mobil yang lewat, kalau lampu nyebrang masih merah mereka nggak akan nyebrang.

Kembali ke Gardens by the Bay, ternyata untuk menikmati Supertrees Grove disana nggak dipungut biaya alias gratis! Banyak loh orang-orang yang tiduran di bangku-bangku di bawah Supertrees Grove.


Marina Bay Sands Hotel dilihat dari arah Gardens by the Bay, kanopi sebelah kanan itu yang dinamakan Supertrees Grove.

Singapore Flyer dilihat dari arah Gardens by the Bay, banyak orang latihan lari di area Gardens by the Bay!

Yang masuknya bayar adalah Flower Dome, Cloud Forest, dan OCBC Skyway. Tiket masuk Flower Dome dan Cloud Forest untuk turis mancanegara dewasa adalah 28 SGD, kalau masuk cuma salah satu kena 16 SGD. Tiket masuk OCBC Skyway lebih murah, yaitu 8 SGD. Flower Dome, Cloud Forest, dan OCBC Skyway buka dari pukul 9.00 am sampai 9.00 pm, dengan penjualan tiket terakhir pukul 08.00 pm dan masuk venue selambat-lambatnya pukul 08.30 pm. Ketiga tempat tersebut tutup sebulan sekali untuk perawatan.

OCBC Skyway di malam hari, selama nggak naik kita nggak bayar.

Entah karena saya ini orang tropis, atau saya masuknya pas malam hari, atau saya kurang lama sehingga kurang menikmati koleksi tanaman di Flower Dome dan Cloud Forest, kesannya tuh kedua konservatorium itu rasanya biasa-biasa aja.

Lego blocks yang disusun menyerupai tanaman kantong semar di Cloud Forest

Salah satu sudut Flower Dome yang sedang memamerkan Autumn Harvest. Display ini berlaku dari tanggal 1 September sampai 29 Oktober 2017. Semua labu yang dipamerkan ini asli. Jenisnya macam-macam ada Atlantic Giant, Jarrahdale, Knucklehead, dan Polar Bear. Sayangnya saya tau keterangan ini dari brosur pas sudah di rumah.

Tanaman palem-paleman di Flower Dome

Yang bikin saya wow malah pertunjukan light and sound di Supertrees Grove (GRATIS!). Singapura surganya wisata gratis.

Pertunjukannya dimulai pukul 7.45 pm dan 8.45 pm. Lampu-lampu di Supertrees Grove bagus banget kelap-kelipnya, suara musiknya juga jernih banget-bangetan. Semua yang lagi ada disitu khusyuk menikmati pertunjukan spekakuler di depan mata, nggak ada yang grusak-grusuk berisik. Yang menikmati sambil tiduran ternyata juga buanyak, malah lebih banyak daripada yang berdiri.



Kayaknya malam itu saya sedang diberkahi sekali. Pulangnya sempat lagi menyaksikan pertunjukan di Marina Bay Sands (mohon koreksi kalau saya salah menamai lokasi ya thx). Indah banget! Singapura benar-benar memanfaatkan teknologi secara maksimal! Saya belum pernah lihat yang kayak gitu di tanah air. Pertunjukan tersebut gratis juga dan dimulai pukul 8.00 pm.



Pas bubar stasiun Bayfront dipenuhi orang-orang yang pada mau balik ke penginapan masing-masing. Mesin tiket MRT antrinya mengular. Begitu sampai di hotel waktu udah hampir tengah malam dan capeknya mulai terasa. Tapi capeknya masih kalah sama rasa senengnya sih hehe.

Singapura di malam hari

Singapore Flyer di malam hari

Area Chinatown di malam hari

Paginya ke bandara Changi dan seperti biasa katroknya keluar. Canggih banget sistem di Changi, semua serba mesin yang dioperasikan sendiri sama kita dan ada petugas yang siap membantu kalau kita mengalami kesulitan. Ada timbangan juga sebelum barang bawaan masuk bagasi. Ini penting banget sih biar penumpang nggak mengira-ngira sendiri berat bawaannya berapa. Bisa menghindari kelebihan muatan secara dini juga. Terus saya kira bakal dapat cap paspor keluar dari Singapura, ternyata nggak haha. Paspornya cuma di-scan aja.

Terus tentang toilet di bandaranya. Tau kan kalau toilet di Singapura itu toilet kering? Nah bagi orang yang nggak bisa pakai toilet kering (saya HAHAHAHA), bandara Changi menyediakan toilet jongkok yang ada keran ceboknya so don't worry be happy. :D

Mongomong pesawat pulang yang saya tumpangi pendaratannya mulus abis, tapi waktu masih di udara dan akan mendarat sempat mengalami turbulensi yang menurut saya kasar banget. Katanya sih kena awan. Puji syukur selamat sejahtera sampai daratan.

Waktu sudah di rumah dan nulis tulisan ini, saya buka-buka lagi peta dan brosur yang saya dapatkan waktu masih di Singapura. Ternyata banyak banget tempat di Gardens by the Bay yang belum saya jamah, seperti Colonial Garden, Indian Garden, Chinese Garden, dan Fruits and Flowers. Koleksi Baobab juga belum ketemu waktu masuk di Flower Dome. Cloud Forest juga paling cuma menjelajah lima persennya aja. Belum naik OCBC Skyway juga.

Di luar Gardens by the Bay, tempat-tempat rekomendasi lain juga belum dikunjungi. Seperti Orchard Road, Little India, Arab Street, dan Bugis Street. Semoga nanti dapat rejeki lagi ke Singapura dengan waktu tinggal yang lebih lama. Aamiin!

Singapore I miss you already!


*

No comments:

Post a Comment