November 18, 2015

RR (Raya Rio)

[cerpen cheesy banget ini ditulis tahun 2011 dan baru ingat kalau belum diupload ke blog]

“Raya, Ronal bawa temen tuh di depan, cakep banget,” oceh Anggi padaku begitu masuk ke kamarnya. “Duh pingin deh gue jadi pacarnya,” lanjut cewek berponi ini sambil menerawang ke atas dengan mata berbinar-binar dan kedua tangan ditangkupkan ke dada, persis gaya cewek-cewek di komik Jepang kalau lagi naksir cowok.

“Heh lo tuh ya udah punya cowok juga, si Ronal Bebek mau lo kemanain?” sahut Tamara.

“Namanya Ronal doang Ta, nggak pake Bebek!” protes Anggi ketika nama pacarnya dipelesetkan. Tamara dan aku terkekeh-kekeh sementara Anggi manyun tak terima tapi tetap melanjutkan ocehannya, “Habis dia cakep banget Ta. Namanya Rio.”


“Cakepan mana nih sama yang ini?” kataku pada Anggi sambil memperlihatkan foto Kim Soohyun di laptopku.

“Ya jelas masih cakep Kim Soohyun lah, tapi yang ini di dunia nyata Raya,” Anggi tetap ngotot.

“Emang Kim Soohyun nggak di dunia nyata?” sahut Tamara heran dengan pernyataan Anggi.

“Nggak gitu Ta, maksud gue kalau gue berharap jadi pacarnya Rio kan masih mungkin soalnya dia satu negara dan satu kota sama gue, nah kalau gue berharap jadi pacarnya Kim Soohyun kan nggak mungkin banget soalnya dia nun jauh di Korea sono sedangkan gue di Indonesia,” jelas Anggi panjang lebar.

Aku dan Tamara hanya bisa melongo mendengar penjelasan Anggi yang maksa itu dan kompak bilang, “Apa kata lo deh.”

“Yuk ke depan lihat si Rio biar kalian berdua tau secakep apa dia,” ajak Anggi semangat sambil menarik lenganku dan Tamara.

“Eh bentar laptop gue masih nyala nih gue matiin dulu,” kataku.

“Iya nih main tarik-tarik aja, gue mau beresin DVD gue dulu,” timpal Tamara. “Sekalian pulang deh gue, Ray lo ikut gue pulang?” Aku mengangguk.

“Eh eh eh kok pulang sih?” protes Anggi.

“Emang kita mau ngapain lagi di rumah lo, bisa-bisa jadi kambing congek lo sama Ronal,” kataku yang disambut tawa Tamara.

Kami bertiga berjalan menuju teras rumah Anggi sambil haha-hihi menceritakan film komedi yang barusan kita tonton. Di teras terlihat Ronal tengah ngobrol dengan seorang cowok, mungkin itu yang namanya Rio, batinku. Ketika sampai di teras aku melihat sekilas cowok bernama Rio yang tadi diceritakan menggebu-gebu oleh Anggi, kemudian menyapa Ronal. Lumayan juga tapi masih cakepan Ronal deh. Sementara Tamara mengeluarkan motornya dari garasi mobil Anggi.

“Eh, Ray, nih temen gue mau kenalan sama lo,” panggil Ronal.

“Oh, eh, gue Ron?” Ronal mengangguk dan menepuk punggung Rio supaya dia maju menghampiriku. Kenapa aku jadi salah tingkah? rutukku dalam hati.

“Ferio,” katanya seraya tersenyum dan mengulurkan tangan padaku.

Buset tangannya dingin banget, kubalas senyumnya, “Raya.”

Oh God! cowok ini punya mata yang teduh banget, kalau dari dekat begini sih lebih cakep Rio daripada Ronal.

“Emm...nomor hp kamu berapa?” tanya Ronal masih dengan tatapan teduhnya.

***

Dua minggu ini hari-hariku jadi indah banget, tiap malam ada saja pesan istimewa dari Rio. Tak jarang pula dia menanyakan aku sedang apa, sudah makan atau belum, tadi di sekolah ngapain aja, dan sederet pertanyaan-pertanyaan nggak begitu penting lainnya. Herannya meskipun nggak begitu penting aku tetap saja senang mendapat pesan dari Rio. Kalau sehari saja dia tidak menghubungiku, pasti aku sudah bingung sendiri sambil berkali-kali melirik ponsel. Itu kali ya yang dinamakan jatuh cinta?

Tapi tidak untuk malam ini, pesan singkat Rio tidak sepenuhnya membuatku senang. Aku bingung harus menjawab apa ketika kubaca pesan singkatnya.

From: Rio
Ray, aku mau bilang sesuatu. Kita sejauh ini udah cukup dekat, tapi buatku itu belum cukup. Aku pingin lebih kenal kamu lagi, lebih dari sebatas teman. Kamu mau nggak jadi pacarku?

Hhh...aku benar-benar bingung mesti jawab apa, di satu sisi aku suka sama Rio tapi di sisi lain aku belum boleh pacaran sama mama kalau masih SMA, lagipula aku juga baru seumur jagung kenal dengan Rio. Selain itu Anggi, sahabatku, juga suka sama Rio. Duh...bingung banget, eh tapi kalo dipikir-pikir Anggi kan udah punya Ronal, terus kata teman-teman kalau SMA nggak pernah pacaran nggak akan merasakan asyiknya jadi anak SMA. Lagi pula Rio kan anak kuliahan, wah pasti keren kalau aku yang baru SMA kelas XI pacaran sama anak kuliah, pasti teman-teman pada banyak yang iri, ha ha ha. Tapi pasti mama nggak kasih ijin untuk pacaran, apa backstreet aja kali ya? Oke deh, mama maafin Raya ya.

To: Rio
Kamu serius?

From: Rio
Yup, aku serius sama ucapanku, aku bener-bener suka kamu Ray.

To: Rio
Emm...iya, aku mau jadi pacar kamu.

From: Rio
Makasih Ray udah kasih aku kesempatan, love u.

To: Rio
Love u too.

***

”Ray, Gi, ke kantin yuk, laper banget nih gue,” ajak Tamara. “Gila, ulangan fisika Bu Ida barusan bener-bener nguras otak sama perut gue,” lanjutnya sambil memijit kepala kemudian memegang perut.

“Iya, mana kemarin gue belajarnya nggak konsen seratus persen lagi,” sahut Anggi. ”Kirain open book kayak kemarin-kemarin.”

“Udah ah, jangan dibahas terus, yang berlalu biarlah berlalu,” potongku. “Gue sama Anggi pesen makanan, lo cari tempat duduk ya Ta,” komandoku pada Tamara setiba kami di kantin. “Sekalian lo gue pesenin makan sama minumnya deh, mau pesen apa?”

“Gue soto daging aja Ray, minumnya jus markisa di-mix sama terong Belanda, terus camilannya keripik kentang satu bungkus sama cokelat satu batang aja jangan banyak-banyak,” mendengar pesanan Tamara yang seabrek itu aku jadi menyesal, harusnya tadi aku saja yang cari tempat duduk, biar dia dan Anggi yang pesan makanan.

“Buset Ta, itu perut apa perut?” ledek Anggi.

”Lo yakin Ta makanan segitu banyak habis?” tanyaku begitu pesanan kami datang. Tamara mengangguk mantap sambil menatap semangkuk soto dagingnya dengan tatapan penuh semangat untuk segera melahapnya tanpa sisa.

”Gila nih anak nafsu makannya gede banget,” sahut Anggi yang tak dihiraukan Tamara. ”Eh Ray, ngomong-ngomong gimana hubungan lo sama Rio?”

”Ya gitu deh, gue sama dia udah seminggu ini lho jalan,” jawabku tersenyum senang sambil mengaduk-aduk jus jeruk.

”Lo sama Rio udah jadian?” tanya Tamara yang akhirnya perhatiannya beralih dari soto daging. Aku mengangguk sambil tersenyum lagi.

”Ciee, ciee, Raya sama Rio jadiaan,” beberapa pasang mata langsung menoleh ke arah kami bertiga mendengar sorakan Tamara dan Anggi.

Sontak kuletakkan jari telunjuk di depan bibir, ”Sssttt...kalian apa-apaan sih pake teriak-teriak kayak gitu, malu tau diliatin anak-anak lain.”

”Yee biarin aja, eh berhubung lo baru jadian, semua makanan gue sama Anggi bayarin ya. Traktiran Ray,” kata Tamara semangat.

”Hah?”

***

Hari ini tepat satu bulan aku dan Rio jadian dan dia janji jemput aku pulang sekolah nanti, asyik. Akhirnya bisa ketemu lagi sama dia, dari mulai jadian sampai sekarang aku belum pernah ketemu langsung sama Rio, hubungan kami hanya terjalin lewat ponsel. Katanya akhir-akhir ini tugasnya banyak, ya mau tidak mau aku harus maklum dan percaya saja dengan pacarku itu. Acara jemput-menjemput nanti pun aku yang minta atas saran Tamara.

Brrtt...brrtt...brrtt..., ponsel di saku rok abu-abuku bergetar, mungkin Rio, pikirku. Benar saja.

From: Rio ku
Sayang, aku di depan sekolah kamu.

To: Rio ku
Iya, aku kesitu sekarang.

***

”Eh Gi, Rio akhir-akhir ini makin aneh deh,” curhatku suatu hari.

”Emang kenapa Ray?” malah Tamara yang menyahut. Pandanganku beralih ke dia.

”Dia udah seminggu ini nggak hubungin gue sama sekali.”

”Sibuk sama kuliahnya kali Ray, udah positif-thinking aja,” lagi-lagi Tamara yang memberi komentar.

”Dia kayak gitu udah berkali-kali Ta, masak kuliah sibuknya tiap hari ngalahin presiden aja. Anehnya nggak cuma itu, waktu jemput gue dulu dia naik motornya kenceng banget, nggak ada obrolan romantis, mana lewat gang-gang kecil lagi, nggak lewat jalan raya. Yang lebih parah waktu nyampe depan rumah gue, dia nggak mau gue ajak mampir,” kulihat Anggi yang sedari tadi tak bicara apa-apa. ”Kalo menurut lo gue harus gimana Gi?”

”Emm...Ray,” katanya menggantung sambil garuk-garuk kepala, padahal kayaknya kepalanya nggak gatal. ”Putusin aja cowok lo,” lanjutnya. “Dia nggak baik buat lo Ray, Ronal udah kasih tau gue semua tentang Rio sejak lo jadian sama dia.”

“Maksudnya?” tanyaku bingung.

“Iya, gue dulu cerita ke Ronal kalo lo udah jadian sama Rio. Katanya Ronal, Rio tuh playboy banget, dia cowok brengsek, enggak baik deh intinya. Ceweknya banyak dan sekarang lagi macarin empat cewek sekaligus, satu di antaranya lo Ray.”

Dhuarr! Bak tersambar petir di siang bolong. Apa?! Aku nggak percaya dengan ucapan Anggi, masa Rio kayak gitu? Hatiku mulai berkecamuk, tapi yang bilang adalah Ronal, sahabat Rio sendiri. Kalau yang bilang Ronal bisa dipastikan benar seratus persen.

“Siapa aja pacar tuh cowok?” tanya Tamara, nada suaranya sedikit meninggi. Aku segera mengumpulkan segenap kekuatan untuk mendengar jawaban Anggi.
Anggi menarik napas panjang, mengangkat empat dari lima jari tangan kirinya. “Satu,” dia menekuk jari telunjuk, “Cewek ini pacar resminya Rio, namanya Nora. Dua, Ronal nggak tau namanya tapi yang jelas ini cewek masih SMP,” ya ampun Rio udah gila ya ngadalin anak SMP juga?

“Tiga, teman les kimia-nya Ronal, dan,” Anggi menekuk jari kelingkingnya, “Raya.”

”Kenapa lo baru bilang sekarang Gi?” tanyaku kelu, Tamara mengusap-usap punggungku.

”Gue minta maaf Ray sebelumnya karena gue pikir lo nggak bakal jadian sama Rio makanya gue nggak pernah cerita masalah ini ke lo,” sesal Anggi.

”Waktu lo tau gue jadian sama dia, kenapa lo juga nggak cerita?” tanyaku lagi, kurasakan kedua mataku mulai panas menahan tangis. Hatiku sesak.

”Sekali lagi gue minta maaf Ray, gue enggak tega sama lo. Habis semenjak jadian lo kayaknya sumringah banget,” jawab Anggi, tampak penyesalan di matanya. ”Udah Ray lo nggak usah nangis buat cowok macam Ferio, dia nggak pantes lo tangisin,” lanjut Anggi ketika melihat sebutir bening menetes dari mataku.

cr: colorguardninja

***

Dasar brengsek, makanya dia aneh banget pacarannya sama aku, nggak kayak Anggi sama Ronal. Ah, tahu sekarang kenapa dia waktu jemput nggak lewat jalan raya, takut ketahuan sama cewek-ceweknya yang lain. Huh! Untung saja aku belum terlalu jauh sama dia, untung saja aku belum ngasih apapun ke dia. Aku nggak tahu lagi harus berkata apa, sumpah serapah pun percuma nggak akan bisa membalikkan keadaan jadi lebih baik.

”Gue jadi nyesel Ta udah mengenal Rio,” kataku tadi siang di boncengan Tamara sepulang sekolah.

”Jangan ngomong gitu Ray, semua kejadian pasti ada hikmah di baliknya. Sekarang lo ambil hikmahnya aja dari mengenal Rio, buat bekal lo ke depannya. Dengan kejadian begini kan lo nantinya nggak akan gegabah dan ceroboh lagi jadiin cowok sebagai pacar.”

”Makasih Ta, lo emang sahabat terbaik gue. Tapi ngomong-ngomong lo kesambet jin apaan jadi bijak begini?” candaku.

”Eh sialan lo,” kata Tamara tertawa, ”Kalo gue nggak lagi pegang setir nih, udah gue jitak pala lo.”

”He he he, peace Ta becanda. Gue udah patah hati nih, masa masih mau dijitak juga.”

”Ha ha ha,” kami berdua tertawa, yah meskipun hati ini masih perih. Sangat perih.

Aku jadi berpikir kalau kejadian ini juga merupakan teguran dari Yang Maha Kuasa karena aku telah melanggar aturan mama yang melarang aku pacaran kalau masih SMA. Tanpa ragu kuraih ponsel di atas meja belajar dan kuketik pesan singkat khusus untuk Ferio, pacarku yang sebentar lagi jadi mantan pacarku.

To: Rio ku
Kita putus.
***

No comments:

Post a Comment